Tentang PKN

Pada Kongres Kebudayaan Indonesia 2018 segenap pelaku budaya telah mencetuskan sejumlah agenda pokok untuk dikerjakan pemerintah, salah satunya ialah mengamanatkan pembentukan sebuah ruang interaksi antarbudaya yang inklusif. Pekan Kebudayaan Nasional (PKN) merupakan jawaban pemerintah atas amanat yang telah dipercayakan oleh para pelaku budaya seluruh Indonesia. Pemerintah berkomitmen mewujudkan PKN sebagai platform aksi bersama yang meningkatkan interaksi kreatif antarbudaya dan mendorong inisiatif-inisiatif baik dalam pengayaan keanekaragaman budaya berbasis gotong-royong antarkelompok dan antardaerah. PKN adalah upaya negara dan masyarakat di dalam membangun wadah kerja bersama untuk melahirkan ruang-ruang keragaman berekspresi, dialog antar-budaya, serta inisiatif dan partisipasi inovatif yang dikelola secara berjenjang sejak dari Desa hingga ke Ibukota. Di dalamnya terdapat rangkaian kegiatan yang ditujukan untuk memfasilitasi ekosistem kebudayaan sebagai garda terdepan dalam pemajuan kebudayaan Indonesia.

Seyogyanya, PKN 2020 akan mengikutsertaan 253 Kabupaten/Kota dan Provinsi di dalam penyelenggaraan Pekan Kebudayaan Daerah (PKD), berikut 234 Kabupaten/kota dan Provinsi yang akan mengirimkan delegasi ke PKN. Seyogyanya pula, puluhan hektar di kawasan Gelora Bung Karno akan menjadi ruang gerak dari semua yang berlibat dalam PKN 2020. Namun kehadiran sang primadona maut virus Corona di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia mengubah banyak hal. Konsentrasi negara pada penanganan pandemi virus Corona dan pemberlakuan kebijakan pembatasan sosial berpengaruh pada cara presentasi dari berbagai aktivitas kebudayaan begitu pula dengan cara publik menikmatinya. Oleh karenanya PKN 2020 akan diselenggarakan dalam format dalam jaringan (online).

Tetapi situasi pandemi ini juga di dalam banyak hal telah membawa kita kembali mengingat kekayaan budaya nusantara. Protokol-protokol kesehatan yang dianjurkan oleh pemerintah dan WHO memiliki banyak kaitan dengan akar tradisi sehat di nusantara. Tradisi mencuci tangan, tradisi tolak bala, tradisi mengisolasi diri, tradisi bersih desa, semuanya mengajarkan tentang relasi manusia dengan alam, dan pengaruhnya kemudian pada kesehatan dan kekuatan tubuh manusia dan lingkungan sosialnya. Relasi itu pula yang melahirkan macam-macam pengetahuan tentang bagaimana mengolah, merawat, dan memuliakan alam dan sang Pencipta. Dari sana lahir kemudian ragam pangan dan pengolahan pangan, ragam pakaian dari ilmu simpul-ikat serat-serat tanaman, ragam bangunan dan sarana transportasi, sampai dengan ragam ekspresi artistik yang mewujud dalam bentuk kriya dan karya seni. Singkatnya, semua yang diwariskan oleh nenek-moyang kita ditujukan untuk menyehatkan, memperkuat, dan akhirnya memuliakan manusia dan alam.

Modernitas yang sedang berjalan mau tidak mau harus dikelola sedemikian rupa melalui jejaring komunikasi digital untuk memanfaatkan kembali kekayaan budaya bangsa. Berdamai dengan Corona, secara budaya perlu dimaknai sebagai upaya memperkuat tubuh manusia sesuai tradisi, dengan tetap menggerakkan ekonomi. Mereka yang terdampak secara ekonomi perlu kembali diberdayakan melalui jejaring digital, sehingga tidak ada lagi kekosongan pasokan pangan di kota-kota besar. Sebagaimana juga bantuan yang diberikan oleh Ditjenbud kepada sejumlah besar pelaku budaya baik untuk menampilkan karya-karyanya secara daring, maupun bantuan darurat bagi pekerja budaya.

Itu sebabnya di bawah Tema Utama Ruang Bersama Indonesia Bahagia, narasi yang akan diangkat dalam PKN 2020 adalah penguatan tubuh masyarakat dalam perspektif kebudayaan. Turunannya kemudian adalah upaya mengkonsolidasi semua pelaku budaya, semua pemaku kepentingan yang berlibat dalam upaya memperkuat tubuh manusia. Mulai dari para petani penghasil pangan sampai dengan platform daring jual beli hasil bumi; mulai dari pengetahuantradisional tentang jamu-jamuan yang dimiliki oleh tabib dan dukun di seantero nusantara sampai dengan inisiatif-inisiatif tanaman obat keluarga yang kembali marak di perkotaan. Semuanya perlu dihadirkan, kembali dihidupkan dengan berbagai ekspresi artistiknya. Agar tubuh masyarakat tak lagi murung mendaras, “Sampai kapan pandemi ini berakhir”, namun tetap menyayikan bait lagu Cornel Simanjuntak, “Ku Lihat Terang Meski tak Benderang”