Wayang Topeng Asmara Bangun Malang

GEDHONG SEMARA DENOK (GUNUNGSARI KEMBAR)

Kerajaan Jenggolo Manik tengah dilanda bencana kelaparan dan wabah penyakit. Hal ini membuat Prabu Lembu Amiluhur gelisah memikirkan keadaan rakyatnya. Pada suatu hari saat Paseban Nagari, datanglah Patih Brojonoto yang tidak lain Patih disaat Prabu Amiluhur memerintah Kerajaan Kediri. Kedatangannya diikuti oleh Raden Gunungsari Putra Mahkota Kerajaan Kediri. Sebagai bukti rasa keprihatinan Raja Kediri, Prabu Lembu Amijaya terhadap kemelut yang melanda kerajaan Jenggolo.

Untuk mengatasi keadaan Negara Jenggolo Manik, Patih Brojonoto menyarankan agar prabu Amiluhur mengadakan upacara sesaji dengan disertai Pusaka Kerajaan Jenggolo yang bernama Gedhong Semara Denok. Pusaka yang merupakan warisan mendiang Prabu Sri Jentayu, Raja Kediri Laya, Ayah dari Prabu Lembu Amiluhur. Pusaka hadiah dari Bathara Sadana dan Dewi Sri ini berupa sebuah Jodhang (peti penyimpanan) yang berisi bibit padi dan palawija serta emas picis raja brana. Diperintahkanlah Patih Kudonowarsa dan Raden Gunungsari menuju tamansari Tambangboyo, untuk mengambil pusaka tersebut yang tersimpan di kediaman Dewi Sekartaji. Dikisahkan pula bahwa di Kerajaan Bumirejo juga dilanda wabah penyakit dan kelaparan. Atas petunjuk para Brahmana kerajaan untuk mengatasi kemelut kerajaan ini Prabu Jayasakti harus melakukan sesaji pusaka Gedhong Semoro Denok. Satu satu nya cara untuk ini menurut Prabu Klana Jaya Sakti, dia harus mencuri pusaka yang hanya dimiliki oleh Kerajaan Jenggolo.

Dengan kesaktiannya Prabu Jaya Sakti merubah wujud dirinya menjadi Raden Gunungsari. Serta mengubah wujud Patih Banyupati menjadi Demang Patrajaya. Raden Gunungsari dan Demang Patrajaya palsu ini berhasil masuk kediaman Dewi Sekartaji. Tanpa rasa curiga Dewi Sekartaji menyerahkan pusaka Gedhong Semara Denok kepada Raden Gunungsari yang tidak lain adalah adik kandung Dewi Sekartaji. Apalagi pusaka tersebut harus dibawa ke Kerajaan Kediri untuk persyaratan upacara kerajaan Kediri.

Betapa terkejutnya Dewi Sekartaji, karena setelah kepergian Raden Gunungsari palsu, muncul Patih Kudono Warsa dengan Raden Gunungsari asli yang datang hendak mengambil pusaka. Setelah berunding dengan Patih Kudono Warsa, Raden Gunungsari akhirnya mengejar pencuri yang menyamar menjadi dirinya. Sampailah di tengah hutan akhirnya Gunungsari bertemu dengan orang yang berwujud sama dengan dirinya. Perkelahianpun tidak bisa di hindari. Akhirnya Gunungsari palsu dan patra jaya palsu kembali ke wujud semula. Gunungsari kewalahan menghadapi serangan mereka. Tanpa disadari munculah Raden Panji Asmarabangun yang sedang Lelana/bertapa mencari ilmu. Dengan bantuan Raden Panji Asmarabangun, Gunungsari berhasil mendapatkan kembali pusaka Gedhong Semara Denok yang dicuri Klono Jayasakti tersebut .

 

PADEPOKAN WAYANG TOPENG ASMORO BANGUN DI KAMPUNG TOPENG KEDUNGMONGGO

Padepokan Wayang Topeng Asmoro Bangun yang berada di dusun Kedungmonggo desa Karangpandan kecamatan Pakisaji Kabupaten Malang didirikan oleh keluarga almarhum Mbah Karimoen yang pada jamannya masih berbentuk kelompok kesenian/wayang topeng. Mengalami perubahan nama pada 1980 dengan didirikannya tempat latihan sekaligus pementasan/gebyak oleh Bupati Malang Bpk. Edy Slamet. Seiring berjalannya waktu bukan hanya sanggar latihan namun juga ada kerajinan pembuatan topeng, latihan karawitan dan bidang yang lain, maka sanggar Asmoro bangun menjadi sebuah Padepokan yang menaungi beberapa bidang/seksi dengan sesepuhnya mbah Karimoen dan ketua Padepokan adalah cucu pertama Mbah Karimoen yaitu Suroso sejak tahun 1995 dan selalu terpilih menjadi ketua Padepokan meski struktur yang lain selalu berganti. Pada 2010 Mbah Karimoen meninggal namun Padepokan terus berlanjut dengan banyak inovasi kreatif dari pengurus, bukan lagi hanya menggelarkan kesenian Topeng Malang, namun juga menjadi partner Perguruan Tinggi dan Sekolah Kejuruan dalam mengembangkan dan berbagi ilmu tentang topeng.

survey