Wayang Kulit Lakon “Gatot Kaca Prawira Kusuma Bangsa” Ki Manteb Soedharsono

Keteguhan Hidup Dalang Ki Manteb

Si Galigi Mawayang Buat Hyang Macarita Bimma Ya Kumara” (“Galigi mengadakan pertunjukan Hyang dengan mengambil cerita Bhimma muda”). Inskripsi ini tertera dalam Prasasti Balitung (Mantyasih) dari abad ke-10 pada masa Mataram Kuno. Berdasarkan bukti tertua ini dan penelitian, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui UNESCO, menetapkan wayang sebagai warisan budaya dunia dari bangsa Indonesia. UNESCO menobatkan wayang sebagai Masterpieces of the Oral and Intangible of Heritage of Humanity pada 7 November 2003. Penetapan tersebut kemudian diikuti pemberian piagam kehormatan kepada seniman dalang kondang Indonesia, Ki Manteb Soedharsono. Ki Manteb terpilih dan berangkat ke UNESCO di Paris, Perancis. Ia menerima penghargaan tersebut plus mementaskan wayang kulit di sana pada 21 April 2004.

Peristiwa pengakuan dunia atas wayang Indonesia tersebut menjadikan inspirasi bagi pemerintah Indonesia untuk menetapkan satu hari sebagai Hari Wayang Nasional. Pada masa Presiden Joko Widodo, gagasan Hari Wayang Nasional ditetapkan melalui Keputusan Presiden No. 30 Tahun 2018 yang ditandatangani pada 17 Desember 2018. Artinya, sudah dua tahun ini Hari Wayang Nasional kita peringati. Ki Manteb adalah salah satu seniman yang serius menganjurkan kepada pemerintah agar ada Hari Wayang Nasional. Syukurlah, kini ikhtiarnya terwujud. Ki Manteb berharap peringatan Hari Wayang Nasional bisa menghidupkan kebanggaan dan rasa memiliki khususnya kepada generasi muda penerus bangsa. Dengan demikian, besar harapan seni pertunjukan wayang dapat lestari. Oleh sebab itu, Pekan Kebudayaan Nasional (PKN) 2020 kembali menyuguhkan pergelaran wayang kulit. 

Pergelaran wayang kulit pada PKN 2020 menampilkan dalang senior yang bergelar dalang ruwat (hajat/niat membuang sial dan menjauh dari keburukan) yang diakui dunia pewayangan. Dialah dalang berpamor yang mendapat julukan dalang setan, yakni Ki Manteb Soedharsono. Pementasan ini direkam di padepokan sekaligus kediamannya di Karanganyar. Di sela-sela mendalang, Bupati Karanganyar, Juliyatmono, tampil memberi kata sambutan dan menjajal nembang (menyanyikan lirik/sajak dalam bahasa Jawa). Setelah itu, disusul penampilan seniman lawak senior asal Jawa Timur, Kirun, yang dengan kejenakaannya menghadirkan percakapan segar bersama Ki Manteb dan sedikit nembang pula. Pasca jeda, pentas wayang berlanjut. Pergelaran wayang kulit ini memakan waktu tidak kurang dari lima jam lamanya. Durasi panjang dalam satu kali pentas wayang adalah hal biasa. Penonton dijamin tetaplah asyik menikmati pertunjukan wayang kulit. Penonton disuguhkan alur cerita wayang yang menarik, berikut tuturan inspiratif dan lucu, dengan atraksi kecepatan tangan berwayang dari dalang setan. Sungguh tidak diragukan lagi kemantapan Ki Manteb dalam mendalang. 

Mengapa dalang setan? Ki Manteb menerimanya pada 1987. Boediardjo, mantan Menteri Penerangan dan Direktur Taman Wisata Borobudur dan Prambanan masa itulah yang menyebut julukan tersebut secara spontan sehabis menonton pementasan Ki Manteb. Alasannya, kemampuan gerak tangan Ki Manteb dalam memainkan wayang-wayang yang dipegangnya sangat mengagumkan. Sungguh sabetannya sangat cepat melesat dan tidak meleset. Bukan dalang sembarangan yang bisa melakukan hal demikian. Pastilah dalang berbakat alam, mendarah daging, dan menjalani laku mendalang sangat lama dan intensif. Benar adanya, Ki Manteb adalah dalang berbakat turunan dalam darahnya. Ia adalah generasi keempat, mengikuti jejak kakek buyutnya yang bermula menjadi dalang. Ki Manteb tumbuh dan berkembang di lingkungan keluarga dalang kondang. Ki Manteb juga pribadi yang tekun berlatih, belajar dari para senior, dan terbuka terhadap hal-hal baru dari dunia modern.

Pembaruan teknik wayang yang diperkenalkan Ki Manteb adalah sabetan cepat. Ki Manteb mengaku bahwa inspirasi gerakan cepat dalam memainkan wayang diperoleh dari gerakan bela diri kung fu Bruce Lee dan Jackie Chan dalam film-filmnya. Selain itu, Ki Manteb juga menerapkan alur flashback dalam lakon-lakon wayangnya. Teknik ini diambil dari gaya alur cerita dalam film. Terobosan lainnya, yaitu penggunaan alat-alat musik non-gamelan seperti rebana, klarinet, bass-drum, terompet, simbal, dan organ. Peralatan tersebut ia gunakan untuk membuat aransemen lagu selingan dan memberikan efek tertentu pada gerak wayang. Serangkaian kebaruan yang dibawa Ki Manteb melalui pementasannya membuat banyak kalangan menilai upayanya menghantam pakem pewayangan. Namun, bagi Ki Manteb, pakem bukan sesuatu yang terus menerus, melainkan sesuatu yang berganti menurut semangat zamannya. Dalang mesti banyak belajar dari situasi dan kondisi kekinian. Dengan demikian, Ki Manteb adalah dalang yang tidak ketinggalan zaman. Dalang beken Pancen Oye, kalau kata jargon dari satu iklan obat sakit kepala yang diperankannya.

Sejak usia delapan tahun, Ki Manteb sudah berani dan mampu naik pentas. Kini, usianya 72 tahun. Dengan kata lain, sudah delapan windu lamanya Ki Manteb Soedharsono menjadi dalang. Sudah ribuan pementasan ia jalani, baik dalam maupun luar negeri. Banyak juga penghargaan yang ia peroleh dan terpajang di sebuah ruangan khusus di rumahnya. Selain dari penghargaan UNESCO, tiga penghargaan besar lainnya, yakni Penghargaan Satya Lencana Kebudayaan yang diberikan Presiden Soeharto pada 1995, piagam Rekor MURI (Museum Rekor Indonesia) untuk Pementasan 24 jam 28 menit tanpa istirahat pada 2004, dan penghargaan Nikkei Asia Prize Award bidang kebudayaan dari Jepang pada 2010. 

Bermacam penghargaan diperoleh dalang kelahiran Palur, Sukoharjo, 31 Agustus 1948 tidak membuatnya puas diri dan meredam gairah mendalangnya. Umur sudah kepala tujuh, tetapi semangat mendalang tetaplah teguh. Keteguhannya dapat kita rasakan dengan menyaksikan pergelaran wayang kulit Ki Manteb Soedharsono dengan lakon Gatot Kaca Prawira Kusuma Bangsa. Selamat membuktikan!

survey