Wayang Kontemporer Cupu Manik Astagina

“Air kehidupan permata mendung itu pun sudi bercampur dengan air duniawi yang belum sempurna. Air Suci itu menderita, tapi dari penderitaannya itulah dunia akan memperoleh kebahagiaanya”

_dari Novel “Anak Bajang Menggiring Angin” karya Sindhunata

 

Mendung hitam menyelimuti Pertapaan Agrastina. Cupu Manik Astagina hadiah dari Dewa Surya kepada Dewi Windradi menjadi petaka di pertapaan Agrastina. Resi Gotama murka mengetahui bahwa Cupu Manik Astagina adalah pemberian Dewa Surya, murka karena nafsu amarah meski dia seorang resi utama. Telaga Sumala menjadi saksi sejarah dimana ketiga putra Gotama menapaki kehidupan sebagai lambang ketidaksempurnaan manusia. Wujud menjadi kera titah yang merindukan kesempurnaan menjadi manusia. Dengan kerinduan itu yang menciptakan kerendahan hati dan memberi harapan akan sesuatu yang belum dimilikinya. Berbahagialah pada diri kera Subali, Sugriwa dan Anjani dari pada mereka yang sudah berada dalam kepenuhan tapi kemudian mencampakkan kepenuhan itu dengan dosa dosa yang diperbuatnya.

Subali, Sugriwa, dan Anjani menerima takdir itu. Dari penderitaan mereka maka dunia akan memperoleh kebahagiaannya. Kebahagiaan yang didambakan segenap manusia.

Dalang : Bayu Aji Nugraha, Bagas Adhitya Prasetya

survey