Wayang Orang Bharata

Sang Penghilang Bencana

Dibentuk pada 1972, hingga saat ini komunitas Wayang Orang (WO) Bharata masih bertahan di tengah perubahan demi perubahan yang terjadi di kawasan Senen, Jakarta Pusat. Tidak mudah, tentu saja, mempertahankan seni pertunjukan tradisional di kota metropolis seperti Jakarta. WO Bharata harus terus dan terus bersaing dengan hiburan-hiburan lain yang lebih populer untuk menyusup ke dalam jadwal malam minggu masyarakat urban. WO Bharata berhasil, setidaknya jika dilihat dari nasib salah satu pesaingnya yang juga berada di kawasan Senen, Grand Theater, sebab WO Bharata masih menggelar pertunjukan mereka hingga saat ini sementara gedung bioskop yang pernah berjaya pada 1980-an itu sudah lama tutup.

Dari awal berdiri hingga hari ini, WO Bharata menggelar pertunjukan mereka di gedung Bharata Purwa yang didirikan pada 1962. Setiap Sabtu, mereka memainkan lakon-lakon yang diambil dari kisah epos Mahabharata dan Ramayana. Seluruh lakon yang mereka mainkan tersebut dibawakan dalam bahasa Jawa dengan iringan musik gamelan yang dimainkan langsung. “Kami hanya menggunakan bahasa Indonesia di bagian yang lucunya saja,” kata salah satu penasehat direktur acara, Slameto, pada suatu kali. Tak seperti teater lainnya, WO Bharata mengizinkan penonton mereka membeli makanan dari luar gedung untuk dinikmati di dalam, ketika pertunjukan sedang berlangsung. Meski demikian, jangan pernah sekali-kali berpikir bahwa gedung teater Bharata Purwa tak memenuhi ukuran kelayakan dari sebuah gedung teater. Gedung yang terletak hanya sepelemparan batu dari terminal bus Senen itu memiliki kapasitas 280 kursi penonton yang dilengkapi dengan pendingin ruangan dan running text. Running text di dalam gedung memutar dialog para aktor dalam terjemahan bahasa Indonesia sehingga penonton yang tak menguasai bahasa Jawa tetap bisa mengikuti alur cerita dari lakon yang sedang mereka tonton. Kelonggaran tata tertib seperti diperbolehkannya penonton makan dalam gedung ketika pertunjukan sedang berlangsung diadaptasi dari budaya menonton wayang orang itu sendiri. Penonton wayang orang tak seperti penonton teater Eropa. Penonton wayang orang pada umumnya adalah warga dari berbagai latar belakang, yang datang menonton dengan membawa kebiasaannya masing-masing, sehingga menyeragamkan keberagaman cara mereka menonton sama dengan mengubah kebudayaan yang sudah melekat pada pertunjukan wayang orang itu sendiri. Tapi, itu bukan berarti pertunjukan wayang orang hanya cocok ditonton oleh orang Indonesia, atau orang Jawa.

WO Bharata tak hanya tampil di negeri sendiri. Selama lebih dari lima dekade berkarya, mereka juga sudah pernah memukau penonton Australia, Belanda, Jerman, Turki, dan Prancis. Pada 27 Juni 2020 lalu, di tengah masa pandemi, WO Bharata juga tak berhenti memukau penontonnya. Bekerjasama dengan National Geographic Indonesia dan PT Pertamina, mereka menyelenggarakan pertunjukan virtual dengan lakon, Sirnaning Pageblug, yang dalam bahasa Indonesia berarti “Hilangnya Bencana.” Lakon ini dimainkan dengan tetap mengikuti protokol kesehatan di masa pandemi. Para aktor yang terlibat memainkan perannya dari rumah masing-masing dengan dibantu oleh dua sampai tiga teknisi yang mengerjakan proses digitalnya. Direktur Pertunjukan, Teguh “Kenthus” Ampiranto, mengatakan bahwa produksi Sirnaning Pageblug hanya punya waktu persiapan satu bulan sebelum disiarkan secara langsung. Meski sempat mengalami kendala teknis dalam siaran langsungnya, Sirnaning Pageblug tetap berhasil digelar dari awal sampai akhir dan disaksikan oleh lebih dari 1.000 penonton. Atas kerja keras itu, WO Bharata pun mendapat penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai pertunjukan wayang orang daring pertama di Indonesia yang ditayangkan secara langsung melalui ZOOM. 

Sirnaning Pageblug jadi semacam stimulus bagi WO Bharata untuk tetap berkarya di tengah pandemi. Beberapa bulan setelah meraih penghargaan MURI, mereka kembali tampil secara virtual. Dalam kesempatan itu, mereka berkolaborasi dengan kelompok tari Paripurna Bali dan Kelompok Tari Kementerian Kebudayaan Thailand untuk menyelenggarakan sendratari Ramayana. Sendratari tersebut digelar untuk memperingati 70 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Thailand. 

Terbukti, derasnya perkembangan teknologi yang turut mempengaruhi dunia hiburan dan bahkan datangnya pandemi sekalipun, tak membuat WO Bharata berhenti berkarya. Pekan Kebudayaan Nasional 2020 mempersembahkan WO Bharata kepada masyarakat Indonesia sebagai representasi atas betapa tangguhnya seni tradisi yang masih bertahan di tengah perubahan teknologi dan ganasnya pandemi.

survey