Theory of Discoustic

Kelompok Pencerita Musik

Jeritan Dian Mega Safitri mengalir di atas petikan gitar elektrik Nugraha Pramayudi dan ketukan stick Hamzarullah yang beradu dengan tepian snare drumnya saat Theory Of Discoustic menuturkan kepada kita kisah tentang dua manusia Bugis-Makassar dari dua keluarga yang sedang bersengketa dan siap berduel dengan badik tergenggam di tangan masing-masing. Tarikan panjang bernuansa Melayu dari suara Dian Mega dan petikan gitar post-rock Nugraha tak sedang merayakan duel yang bisa saja berujung pada kematian tersebut melainkan meratapinya, sebab dua manusia Bugis-Makassar yang saling berhadapan dalam tradisi yang dalam bahasa Bugis disebut sigajang laleng lipa’ tersebut sama-sama “terbelenggu akan dendam yang diwariskan leluhur.” Dalam “Badik,” Theory Of Discoustic menyampaikan kepada kita, tapi lebih khusus kepada masyarakat adat pengemban tradisi terkait, bahwa sesungguhnya sengketa akan lebih baik jika diselesaikan secara kekeluargaan agar kita tak bernasib sama seperti Tybalt atau Mercutio dalam drama abadi Shakespeare, Romeo and Juliet

Theory Of Discoustic membawakan syair-syair yang terinspirasi dari dongeng dan mitos-mitos lokal dengan iringan musik folk. “Badik” adalah salah satu lagu dari album mereka, La Marupè, yang dirilis pada 2018 lalu, dan bisa didengarkan secara gratis di laman situs theoryofdiscoustic.id/music. La Marupè, dalam bahasa Bugis-Makassar, punya makna “sosok,” atau keadaan tertentu, yang diyakini ada dan berpengaruh dalam hajat hidup, tapi tak terjangkau oleh panca indera. “Ada yang mengartikan keberuntungan, ada juga yang mengartikannya sebagai sosok yang diagungkan,” kata Dian Mega, pada suatu kali. “Intinya Wallahu’alam.” 

Jika “Badik” mengajak kita merenung, lagu lain dari album yang sama, “To Manurung,” akan mengajak kita merayakan turunnya manusia dari kayangan ke atas bumi. Dalam lagu ini, irama Melayu terdengar lebih kental. Lagu dibuka langsung oleh syair yang dilantunkan Dian Mega, yang bernyanyi sambil bermain tambur, dengan iringan suara rebana dan petikan gitar akustik Reza Enem, yang berimprovisasi di atas tempo yang diatur oleh permainan bass Fadli FM, sebelum kemudian Hamzarullah memainkan drumnya untuk menyambut melodi gitar elektrik Nugraha dan membuat aransemen dalam nomor ini menjadi semakin semarak. “To Manurung” sendiri adalah pembawa pembaharuan. Dalam kepercayaan masyarakat adat di Sulawesi Selatan, “To Manurung,” atau manusia khayangan (dunia atas), akan turun ketika di bumi sedang terjadi pertikaian; antar kerajaan kecil, musim paceklik dan pandemi. Di masa pandemi seperti sekarang ini, “To Manurung”serupa nyanyian pemanggil hujan di musim kemarau.

Theory Of Discoustic menyadari bahwa berbicara tentang manusia dari kayangan tentu tidak lengkap tanpa membicarakan makrokosmos atau semesta masyarakat Bugis-Makassar. Mereka membuka album La Marupè dengan lagu berjudul, “Tabe’,” yang dalam bahasa Bugis bermakna, “permisi,” lalu melanjutkannya dengan lagu berjudul, Makrokosmos. Di masa lalu, sejumlah bangsa di dunia tahu bahwa bangsa Bugis adalah bangsa Pelaut, dan Tabe’ adalah gerakan pembuka dari para pelaut Bugis kepada suku Yolngu, Aborigin, ketika mereka tiba di pesisir utara Australia untuk mencari teripang yang akan dipasarkan di Cina. Sementara itu, Makrokosmos, adalah lagu tentang ritual menre’ bola beru, yaitu upacara adat yang diselenggarakan oleh masyarakat Bugis-Makassar seusai mereka mendirikan rumah panggung. Makrokosmos dibuka dengan suara dari kibor Reza yang menghadirkan nuansa luar angkasa, sebab nomor ini memang serupa doa yang manusia di Bumi panjatkan pada siapa pun yang berada di “Lingkar Negeri Atas.” Nuansa luar angkasa dari kibor mengantarkan syair yang Dian Mega lantunkan bagi “alam semesta dan bayangnya.”

Lingkar negeri atas, oleh masyarakat Toraja, disebut sebagai Puya. Pada 2015 lalu, Majalah TEMPO menobatkan Penulis asal Sulawesi Selatan, Faisal Oddang, sebagai Tokoh Seni TEMPO 2015 di bidang prosa, dan menganugerahi novelnya sebagai novel terbaik tahun itu. Novel itu berjudul, Puya ke Puya. Novel yang juga menjadi Juara IV Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2014 tersebut mengambil latar belakang upacara pemakaman adat Toraja, Rambu Solo. Rambu Solo merupakan upacara adat paling terkenal dari Toraja, sebab sepertinya memang hanya masyarakat adat Toraja yang menyemayamkan jenazah kerabat mereka di tebing-tebing batu. Melalui Puya ke Puya, Faisal Oddang memberikan gambaran kepada para pembacanya mengenai lingkar negeri atas dalam kepercayaan adat masyarakat Toraja. Dalam “Lingkar Negeri Atas,” Theory Of Discoustic menyampaikan bahwa keagungan hidup bagi manusia Toraja adalah setelah kematian, sementara kehidupan adalah tentang “melantunkan kisah” dan “melagukan riwayat hingga akhir hayat,” seperti yang sampai sekarang mereka lakukan.

Meski nuansa Melayu terdengar sangat kuat dalam karakter suara Dian Mega, tapi vokalis yang juga adalah seorang reporter di sebuah radio swasta itu mengaku bahwa karakter tersebut baru ia peroleh belakangan setelah ia mempelajari teknik menyanyi para penyanyi dangdut dan Melayu seperti Elvi Sukaesih, Ellya Khadam, Iyeth Bustami dan Evi Masamba. Sebab pada mulanya ia adalah vokalis band pop-akustik yang ia bentuk bersama teman satu kampusnya, yaitu Reza dan Nugraha, pada 2010 silam. Band tersebut, tentu saja, adalah Theory Of Discoustic. Jadi, pada mulanya bukan hanya Dian Mega yang tidak berkarakter Melayu, melainkan juga Theory Of Discoustic, yang pada saat itu masih digawangi oleh Dian Mega, Reza dan Nugraha. Gagasan untuk mengemas kearifan lokal dalam musik folk datang seiring berjalannya waktu, terutama setelah Fadli, teman SMU Reza dan Nugraha, bergabung, dan disusul kemudian oleh bergabungnya adik kandung Dian Mega, Adriady, dan saudara sepupu mereka, Hamzarullah, hingga pada 2013 Theory Of Discoustic pun berhasil merilis mini-album, Dialog Ujung Suar, yang merupakan pilot project konsep kedaerahan yang sampai sekarang mereka emban. “Koridor kreativitas kami, salah satunya, berada pada upaya untuk menceritakan kembali kisah-kisah yang berkelindan di tengah kehidupan masyarakat Bugis,” demikian Reza. “Kisah-kisah yang dekat dengan tradisi dan keseharian.”

Pekan Kebudayaan Nasional (PKN) 2020 kembali menghadirkan Theory Of Discoustic, yang pada penyelenggaraan tahun lalu ikut meramaikan program pagelaran di Senayan, Jakarta. Kali ini, Dian Mega, Reza, Nugraha, Fadly FM, Adriady dan Hamzarullah menyapa agar kita semua bisa tetap di rumah dan memutus rantai hidup virus yang sejak Maret lalu telah mengubah cara hidup kita. Seperti kata Theory Of Discoustic dalam Makrokosmos, rumah adalah “tempat berlindung.” Jadi, tetap di rumah dan jangan lupa untuk menyaksikan seluruh program acara dalam PKN 2020.

survey