The S.I.G.I.T.

Dari Bandung, Rock Meraung

Cobalah menutup sepasang mata dan dengarkan suara Rekti di atas raungan dua gitar yang ia mainkan bersama Farri. Anda akan bertanya kembali apakah musik yang sedang mengalir masuk ke telinga ini benar-benar diciptakan dan dimainkan empat pemuda Indonesia. Siapapun yang pernah mendengar Led Zeppelin akan langsung teringat suara Robert Plant ketika mendengar Rekti. Inilah The S.I.G.I.T., band asli Bandung, Jawa Barat, dengan kualitas rekaman dan penampilan yang tidak kalah dengan band beraliran serupa di dunia. Media Australia sempat menyatakan bahwa mereka adalah jawaban Indonesia atas Wolfmother.

Muncul sebagai band beraliran garage rock pada awal 2000-an, ketika The White Stripes, The Datsuns, dan Wolfmother berseliweran di panggung musik global, bukan hal mudah bagi The S.I.G.I.T. Tuduhan bahwa mereka hanya mengikuti trend atas kelahiran kembali aliran musik yang pernah populer pada 1960-an dan 1970-an tidak bisa mereka hindari. Tapi, band yang dirancang oleh anak-anak Institut Teknologi Bandung (ITB) ini mampu membuktikan bahwa “Black Amplifier” mereka masih tetap menyala meraung-raung ketika “Seven Nation Army” telah lama bubar.  

Selain Rektivianto Yoewono alias Rekti yang mengisi vokal dan gitar dan Farri Icksan Wibisono alias Farri pada gitar, The S.I.G.I.T. juga digawangi Aditya “Adit” Bagja Mulyana (bass) dan Donar “Acil” Armando Arkana (drum). Nama band mereka diambil dari nama ayah Rekti, sementara kepanjangan dari The S.I.G.I.T. sendiri, yaitu The Super Insurgent Group of Intemperance Talent, baru datang belakangan. Setelah single mereka, “Soul Sister,” menjadi hits di radio-radio Bandung dan Jakarta, produser film Catatan Akhir Sekolah, Erwin Arnada, meminta mereka menyumbangkan satu lagu sehingga The S.I.G.I.T. mulai dikenal oleh publik yang lebih luas setelah mereka tampil membawakan “Did I Ask Your Opinion?” di adegan puncak film yang dibintangi Vino G. Bastian, Raymon Y. Tungka, dan Marcel Chandrawinata tersebut. 

Setelah menjangkau publik nasional melalui film tersebut, The S.I.G.I.T. merambah pasar musik global hingga salah satu lagu mereka, “Black Amplifier,” diputar di laman web jurnalisme musik Inggris, New Musical Express (NME). Sambutan positif yang datang kemudian membuat label Bandung, Fast Forward (FFWD), merekrut mereka. Di bawah FFWD, The S.I.G.I.T. meluncurkan album debut mereka, Visible Idea of Perfection, pada 2007. Pada tahun yang sama The S.I.G.I.T. menyelenggarakan tur mereka di Australia dan menjadi satu-satunya band Indonesia yang menyelenggarakan tur di negeri kangguru itu di bawah label lokal, yaitu Caveman! Records. 

Meskipun masih terbilang asing di telinga para pecinta rock di Australia, The S.I.G.I.T. tidaklah pernah gagal menggebrak panggung dan mosh pit di setiap penampilan mereka sehingga salah satu media lokal, FasterLouder, pun mengatakan bahwa penampilan mereka bahkan lebih baik dari Jet, yang pada masa itu jauh lebih populer dari The S.I.G.I.T. Visible Idea of Perfection melahirkan hits, “Black Amplifier,” dan satu nomor balada favorit para Insurgent Army, fans mereka, “All The Time.”

Penampilan The S.I.G.I.T. di Australia membuat Rekti dan kawan-kawan kebanjiran tawaran tampil. Salah satu panggung yang mengundang mereka untuk tampil berikutnya adalah festival dan konferensi tahunan, South by Southwest (SXSW) di Austin, Texas, Amerika Serikat. The S.I.G.I.T. adalah band Indonesia kedua yang diundang tampil di Austin setelah setahun sebelumnya SXSW mengundang band asal Jakarta, White Shoes and the Couples Company. 

Pada 2009, The S.I.G.I.T. mulai meluncurkan album keduanya, Hertz Dyslexia EP. Album itu dirilis secara dua tahap dalam bentuk EP (mini-album) hingga pada akhirnya menjadi LP (full album) pada 2011. Hertz Dyslexia menyajikan warna musik yang lebih kaya dari album sebelumnya dan menjadi bukti dari kedewasaan The S.I.G.I.T. dalam bermusik sekaligus jembatan bagi para Insurgent Army, yang lebih akrab pada raungan mentah dua gitar elektrik penuh distorsi yang mereka sajikan dalam The Visible Idea of Perfection, ke album selanjutnya, yang dirilis pada 2013, yaitu Detourn

Detourn dibuka dengan lagu yang berjudul sama dengan judul albumnya. Diawali dengan suara organ, yang akan langsung mengingatkan kita pada musik latar film-film horor berlatar kastil-kastil tua, suara dua gitar elektrik Rekti dan Farri, serta gebukan drum Acil dan bass Adit seolah sedang mengiringi datangnya si pemilik kastil hingga kemudian kita dikejutkan oleh permainan mereka yang mendadak agresif sebelum kemudian Rekti mulai bernyanyi ketika tempo musik kembali melambat. 

Suara-suara dalam “Detourn” tidak berbeda terlalu jauh dari dua album The S.I.G.I.T. sebelumnya hingga kemudian kita tiba di sepertiga bagian akhir lagu, ketika suara saksofon masuk dan memberi sedikit nuansa sensual di atas raungan gitar berdistorsi yang sekonyong melambat mengikuti tempo saksofon. Detourn disusul oleh “Let The Right One In” yang akan mengingatkan kita pada “Black Amplifier.” Menyusul kemudian “Tired Eyes,” yang diawali oleh gema suara Rekti. Detourn ditutup dengan sempurna oleh “Conundrum” yang membuat telinga kanan dan kiri kita mengalami conundrum karena menyala secara bergantian.

Di tengah “Conundrum” yang disebabkan pandemi COVID-19, “Black Amplifier” masih terus menyala. Saksikan The S.I.G.I.T. dalam Pekan Kebudayaan Nasional (PKN) 2020. “Let The Right One In”!

survey