The Japan Foundation, Jakarta

Semangat Eisa: Menari dan Menabuh

“Hidup dan Biarkan Hidup,” itulah salah satu kutipan pidato besar Presiden Soekarno dalam Konferensi Asia-Afrika (KAA) 1955 di Bandung. Enam dekade berlalu, tepatnya 22 April 2015, kalimat ini kembali diperdengarkan melalui Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe. Ia mengutip pidato Presiden pertama RI dalam peringatan 60 tahun KAA di Bandung. Shinzo Abe sangat kagum dengan kalimat-kalimat Soekarno dalam pidato tersebut. Ia sampai mengutip dari beberapa bagian teks pidato. Abe menilai, teks pidato tersebut sangat kental bermuatan nilai semangat. Semangat berjuang dalam hidup. Hidup bersama bangsa Asia-Afrika. 

Nilai kehidupan tersebut sejalan dengan filosofi masyarakat Jepang sejak era feodal. Masyarakat Jepang sejak berabad-abad lamanya memiliki sebuah jati diri, yaitu mentalitas bushido. Bushido adalah etika hidup masyarakat Jepang sejak zaman Edo (mulai awal abad ke-17) yang intinya integritas. Semangat ini yang mengantarkan Jepang, tatkala porak-poranda pasca Perang Dunia II, kembali bangkit. Bushido merebak ke dalam relung nadi masyarakat Jepang tatkala belajar, bekerja, dan hidup bersosial. Alhasil, dewasa ini, Jepang termasuk negara maju di dunia, terutama dalam bidang teknologi. Dan, bagi Indonesia, Jepang adalah mitra dagang terbesar dalam urusan ekspor-impor, terutama barang elektronik.

Kendati demikian, penguatan hubungan bilateral kedua negara tidak hanya di lembaran transaksi ekonomi dan perdagangan. Pada arena kebudayaan, Indonesia dan Jepang pun sering kali saling mengirim misi seni dan budaya. Pada kesempatan Pekan Kebudayaan Nasional 2020, Indonesia dengan hormat mengundang Saudara Tua, Jepang, untuk berpartisipasi. Pemerintah Jepang melalui Takahashi Yuichi, Direktur Jenderal The Japan Foundation-Jakarta, menyatakan kesediaannya menyuguhkan pertunjukan seni tradisi Jepang, Eisa yang merupakan perpaduan tarian dan tetabuhan pembangkit semangat dari Okinawa. 

Eisa adalah tarian yang diiringi tetabuhan alat musik pukul khas Jepang bernama Taiko. Taiko (tai, drum dan ko, besar) dimainkan dengan alat pemukul, yakni bachi. Alat musik ini sudah dikenal orang Jepang sejak zaman Jomon (era prasejarah Jepang). Mulanya, menabuh Taiko adalah untuk ritual memuja dewa, pengiring peperangan dan mengiringi perjalanan roh leluhur (kini, dinamakan Festival Obon). Namun, ketika masuk zaman Heian sampai Meiji, Taiko semakin populer di masyarakat sebagai alat musik pengiring kegiatan kesenian (noh, kabuki, gagaku, dan nagauta)  yang dimainkan oleh pria secara individu. 

Tatkala masuk periode zaman Showa dan Heisei atau zaman modern, Taiko dimainkan secara massal dan dalam suasana festival. Pada era modern, eksistensi Taiko telah mencapai benua Asia, Amerika, Eropa dan Australia. Kini, Taiko telah mendunia dan menjadi penanda khas budaya Jepang. Bahkan, telah banyak dipelajari anak-anak bangsa lain sebagai bentuk perkenalan dan  pertukaran budaya, termasuk di Indonesia.

Dalam kesenian tari Eisa, alat musik taiko dimainkan sambil menari oleh para penari. Satu grup Eisa terdiri dari 20 hingga 30 personel yang semuanya menari, menyanyi, dan memukul Taiko (berukuran kecil, sedang dan besar). Kepopuleran dan modernisasi seni tradisi Eisa terjadi sejak dekade 1950-an. Tepatnya, ketika dilangsungkan untuk pertama kali pada 1956 dalam perhelatan Okinawa Zento Eisa Matsuri di kota Koza. Sejak itulah, Eisa kerap dimainkan setiap hari minggu antara bulan Juni hingga Agustus. Pada dekade 1980-an, Eisa dikreasikan dengan musik aktual dan koreografi baru. Tentunya untuk keperluan pariwisata domestik dan mancanegara. Kungjungan turis asing ke Jepang kian memperluas eksistensinya di dunia luar. Terbukti Eisa pun banyak dibawakan di negara-negara di luar Jepang dan berinovasi sesuai ciri negara yang membawakannya.

Kini, permainan Taiko dalam tarian Eisa dihadirkan di pergelaran Pekan Kebudayaan Nasional (PKN) 2020 secara daring oleh U-maku Eisa Shinka Indonesia, komunitas seni-budaya Jepang ini didirikan Pepen pada 2002 di Jakarta. Komunitas ini tidak hanya mempelajari dan mempertunjukan kesenian tradisi Jepang saja, tetapi juga mengkolaborasikannya dengan seni tradisional Indonesia (tari Bali, tari Piring, musik Dangdut, dan seni batik). Pepen bersama komunitasnya rutin tampil di Okinawa setiap tahun dalam Worldwide Eisa Festival. Pada festival itu, U-maku Eisa Shinka Indonesia menjadi pemenang sebagai grup terfavorit musim 2012. Kemenangan diraih karena kreatif menggabungkan Eisa dengan seni tradisional Indonesia. 

Dalam PKN 2020, U-maku Eisa Shinka Indonesia akan kembali hadir dengan menyajikan delapan nomor tarian apik dan enerjik. Penasaran? Silakan menyaksikan dan membuktikannya sendiri. Semoga sajian kesenian klasik Jepang ini semakin menambah semangat perhubungan diplomatik kedua negara dalam segala aspek. Semangat yang “hidup dan biarkan hidup” dalam sanubari persaudaraan Indonesia–Jepang.

survey