The Adams

Energi Power Pop

Barang siapa mengalami masa remaja di tahun ketika film Janji Joni tayang pasti mengenal The Adams. Dalam film arahan Joko Anwar yang dirilis pada 2005 itu, band asal Jakarta tersebut menyumbangkan dua lagu, “Waiting” dan “Konservatif.” Dua nomor lagu yang tidak hanya berseliweran di stasiun radio, melainkan juga di berbagai stasiun televisi, dengan video klip menampilkan montase adegan film yang dibintangi Nicholas Saputra dan Mariana Renata tersebut. Dengan lirik bercerita yang sederhana dan menggambarkan pemandangan sederhana pula, “Konservatif” pun menjadi salah satu mars bagi anak-anak Pentas Seni (Pensi) pada pertengahan 2000-an. Tidak heran jika kemudian lagu tersebut masuk ke dalam daftar 150 Lagu Indonesia Terbaik versi majalah Rolling Stones Indonesia

Lirik “Konservatif” ditulis oleh Jimi Multhazam, vokalis band asal Jakarta lainnya, The Upstairs, yang di kalangan musisi indie terkenal dengan kemahirannya menulis lagu dalam bahasa Indonesia. Melalui lirik “Konservatif,” pria kelahiran Jakarta, 11 Januari 1974 tersebut mengilustrasikan nuansa kencan konservatif pada zaman lampau. Kencan yang hanya duduk bertamu di teras rumah, bercengkrama hingga tiba saat bagi si pemuda pulang, ketika waktu telah menunjukkan pukul sembilan malam. Meskipun Jimi dan The Adams menyebut kencan semacam itu kolot, aransemen musik tidak membuat “Konservatif” menjadi semacam sindiran atau olok-olok. Harmonisasi gitar elektrik Saleh Husein dan Ario Hendarwan yang energik membuat “Konservatif” cocok dijadikan sebagai lagu pengantar kencan yang santun dan enggak neko-neko.

Pada mulanya, The Adams terdiri dari Ario Hendarwan dan Saleh Husein (keduanya pada gitar dan vokal), Beni Adhiantoro (bass dan vokal), dan Bimo Dwipoalam (drum). Beni, yang pada saat itu juga merupakan drummer The Upstairs, kemudian mengundurkan diri sepenuhnya dari dunia musik untuk mendalami ilmu agama dan digantikan oleh Arfan. Sementara itu, Bimo turut mengundurkan diri karena harus pindah ke Bali untuk melanjutkan kuliah, digantikan Gigih Suryo Prayogo yang hingga kini masih bertahan. Selain Arfan dan Gigih, bergabung pula Retiara Haswidya Nasution (Kaka), yang mengisi keyboard, synthesizer, dan vokal. Bersama Arfan, Gigih dan Kaka, The Adams berhasil merilis album kedua mereka, V2.05.

Bergabungnya Kaka di posisi keyboard tidak hanya memperkaya aransemen musik The Adams, yang pada album sebelumnya dipadati oleh distorsi gitar Saleh (Ale) dan Ario. Sebagai satu-satunya personil perempuan, Kaka telah menyumbangkan suara perempuan dalam harmonisasi vokal V2.05. Kita tahu, The Adams adalah band yang mengusung aliran power pop mengandalkan harmonisasi vokal a la The Beach Boys dan The Beatles. Gambar mikrofon—juga foto kelima personil yang sedang mengambil suara secara bersamaan dalam sebuah proses rekaman—pada sampul album V2.05 menegaskan hal tersebut. 

Coba dengar single andalan album V0.05, “Hanya Kau,” yang popularitasnya turut didukung oleh video klip garapan Henry Foundation yang juga menjadi motor di balik Goodnight Electric, Club Eighties, dan Be Quiet. Dalam “Hanya Kau” Ale mengambil alih posisi Ario sebagai penyanyi utama. “Hanya Kau” dibuka dengan suara dua gitar tanpa distorsi hingga sekitar tiga bar kemudian, ketika suara drum dan bass telah masuk, suara gitaris yang juga melakoni bidang seni rupa tersebut masuk dengan dilatari harmonisasi vokal dari empat personil lainnya. Suara distorsi gitar barulah menyala pada bagian reff. Agar suara Ale maupun harmonisasi vokal dari para personel lainnya tidak tenggelam oleh distorsi gitar, Kaka pun memperkuat alunan nada yang mereka bawakan dengan bunyi synthesizernya.

Kaka bergabung bersama The Adams menjelang masa produksi V2.05 dan ikut mengantarkan album tersebut menempati urutan ke-112 dalam daftar 150 Album Terbaik Indonesia Sepanjang Masa rilisan majalah Rolling Stone Indonesia. Sayang, pada 2018 lalu, ia harus pergi meninggalkan The Adams, juga para fans mereka, untuk selama-lamanya setelah menjalani perawatan atas penyakit paru-parunya. Kini, posisinya telah digantikan oleh Ghina Salsabila. Bersama Ghina, The Adams masuk dapur rekaman setelah hiatus 13 tahun. Album ketiga dirilis pada 2019 bertajuk, Agterplaas. Dalam Agterplaas, posisi bass diisi oleh Pandu Fathoni, yang telah tampil bersama The Adams sejak 2014, ketika Arfan mengundurkan diri. Sementara itu, judul album itu sendiri diambil dari bahasa Afrika Selatan, yang berarti “teras belakang,” yang juga merupakan nama studio tempat The Adams biasa berkumpul dan mematangkan materi musik mereka. Agterplass adalah album yang merangkum perjalanan mereka dalam bermusik selama hampir dua dekade.

The Adams menyadari bahwa pendengar terbesar di era keemasan mereka adalah anak-anak SMA sekalipun semua personil awalnya dipertemukan di lingkungan kuliah. Tema persahabatan yang mereka angkat pada lagu “Masa-Masa” adalah persahabatan lama yang telah terjalin sejak masa SMA. “Masa-Masa” menjadi lagu pertama setelah Agterplass, sebuah nomor instrumental mewakili judul album. Dalam Agterplaas, The Adams bernostalgia sekaligus bercermin sebab rata-rata personilnya kini telah menjadi kepala keluarga dan bukan lagi remaja tanggung yang kolot dan pergi ngapel dan pulang jam sembilan malam. Kedewasaan The Adams dalam Agterplass bisa kita simak melalui lagu “Timur” yang berbicara tentang masa depan, rasa takut, dan bagaimana kita harus menghadapinya.  

Pekan Kebudayaan Nasional (PKN) 2020 mengajak The Adams untuk turut berperan menghibur kita di rumah melalui konser virtual. Energi power pop niscaya akan membuat kita yang pernah melewati masa remajanya pada pertengahan 2000-an bersama The Adams, mengenang sekaligus mengundang kembali semangat muda di masa SMA. Bagi yang belum mengenal The Adams, tentu saja belum terlambat. Agterplaas adalah penanda bahwa energi band yang selalu mengguncang berbagai pensi di Jakarta ini layak memiliki pendengar dari generasi baru. Sebab, The Adams mengantarkan musik yang membuat kita selalu muda di sepanjang zaman. Tetap di rumah dan saksikan The Adams dalam PKN 2020!   

survey