Tari Tibak

Kebijaksanaan dari Kebun Pisang

Banyak sekali riwayat tradisi yang menggambarkan kegemilangan masa lampau, kebesaran suatu kerajaannya, kemegahan ritualnya, namun tidak sedikit kesenian, teknologi, kuliner, sampai busana, yang justru adalah manifestasi kehidupan sehari-hari masyarakat biasa. Malah banyak juga tradisi yang merupakan sebentuk siasat dari kondisi masa sulit, paceklik, atau dera hidup yang pernah dialami suatu kaum. 

Bagi kita, generasi hari ini, tradisi yang pertama disebut belum tentu lebih berharga ketimbang yang kedua. Setiap tradisi menunjukkan kepada kita perihal bagaimana manusia di zaman lampau bertahan hidup, berkreasi, beraktivitas, dan mencari identitas diri untuk menjalani kehidupannya dari waktu ke waktu. Tidak sedikit pula kreativitas justru muncul dari situasi genting seperti peperangan, penjajahan, bencana alam, dan lain sebagainya.

Tari Tibak karya Nabilla Kurnia Adzan, yang tampil dalam gelaran Pekan Kebudayaan Nasional 2020 mewakili Provinsi Lampung, adalah eksplorasi jenis tradisi kedua tersebut. Alih-alih menggarap karya bersumber pada tradisi “adiluhung”, Tari Tibak yang dikerjakan Sanggar Cangget Budaya ini dikreasikan dan dikembangkan berdasarkan kehidupan sehari-hari masyarakat Lampung tradisional. Pada sejumlah garapan sebelumnya, kelompok tari asal Bandar Lampung itu selalu membasiskan karyanya pada upacara adat atau tari tradisi, maka kali ini, Tari Tibak memilih itikad lain. Dari wawacara penulis, koreografernya menyatakan ingin membuat karya yang bersumber dari nilai-nilai kehidupan kaum perempuan Lampung yang hidup dari perkebunan pisang.

Lampung adalah salah satu daerah sentra budidaya pisang terbesar di Indonesia. Jumlah lahan kebun pisang mencapai 6,7 juta hektar, baik yang dikelola masyarakat maupun yang dikelola korporasi besar. Rata-rata penghasilannya mencapai 700.000 ton pisang per tahun. Angka itulah yang menjadikan Indonesia sebagai penghasil pisang terbesar ke-4 di dunia. Dengan kata lain, sebagian besar masyarakat Indonesia adalah pengkonsumsi pisang. Hasil Susenas BPS membuktikan, rata-rata masyarakat Indonesia mengonsumsi 1.500.000 ton pisang setiap tahun, sama dengan 45% dari seluruh jenis buah yang dikonsumsi. Sejak 1993, pisang jenis cavendish merek Sunpride yang tersebar sampai ke mancanegara berasal dari salah satu perkebunan pisang di Lampung. Belakangan, pisang Mas Tunggamus yang juga berasal dari Lampung menjadi andalan ekspor baru Indonesia pada 2018.

Dengan nilai ekonomi yang tinggi, tentu ada begitu banyak penduduk Lampung yang menggantungkan hidup pada aktivitas perkebunan pisang, baik pemilik kebun maupun pekerja di perusahaan pengelola. Ketergantungan pada kebun pisang, pada gilirannya, ikut mengonstruksi perilaku hidup masyarakat Lampung. Pada segi ritual, ngambabekha adalah satu praktik kultural yang tumbuh-berkembang dari aktivitas perkebunan tersebut. Ialah perayaan besar tatkala masyarakat ingin ngusi pulan (membuka hutan) untuk membuka lahan perkebunan. Hanya saja yang digarap Nabilla Kurnia Adzan bersama Sanggar Cangget Budaya bukanlah tradisi serebral semacam itu. Ia mengangkat perilaku hidup bersahaja para petani berikut aktivitasnya selama di perkebunan pisang. 

Manifestasi itulah yang tampak pada pembukaan Tari Tibak. Di halaman sebuah rumah tradisional Lampung dengan beberapa pohon pisang yang tumbuh di pinggirnya, dua orang penari perempuan memasuki frame kamera: Masing-masing membawa selembar daun pisang di tangan dan mulai bergerak dengan tempo lambat. Penggunaan daun, bukan buah pisang, sebagai properti sekaligus sumber gerak bukan tanpa pertimbangan estetis. Memang, daun tersebut adalah bagian pohon pisang yang paling mungkin diajak menari karena karakteristiknya yang gemulai. Namun, daun pisang seolah menyimbolkan pisang di dalam kehidupan masyarakat umum, bukan hanya sekadar komoditas belaka. 

Pisang, bagi masyarakat tradisional Indonesia merupakan tanaman yang seluruh bagiannya bisa berguna, mulai dari daun, buah, batang, tunas, hingga jantungnya. Bahkan, masing-masing bagiannya pun masih bisa diturunkan menjadi fungsi yang beragam. Daun pisang, misalnya, selain bisa digunakan sebagai pembungkus makanan, juga bisa dipakai menjadi payung saat hujan. Atau jantung pisang berfungsi sebagai bahan makanan sekaligus obat-obatan. Suatu keniscayaan bahwa pemanfaatan tersebut merupakan hasil interaksi yang karib antara manusia dan alamnya. Pemanfaatan alamiah yang lepas dari pemaknaan risiko limbah yang jauh lebih banyak daripada komoditas yang diproduksinya, atau dalam kata lain, lebih banyak manfaat ketimbang merugikan. Ada pepatah lama berujar, “pisang saja bisa berguna, apalagi manusia.” 

Dalam Tari Tibak, hubungan intens antara manusia dan alam juga terwakili melalui penggunaan kostum penari berwarna hijau, tanpa ornamen atau aksesoris berlebihan. Hal itu kontras dengan warna pakaian tari tradisi Lampung yang cenderung semarak seperti emas, merah, kuning, dengan berbagai jenis penghias kepala yang terkesan mewah. Dalam balutan hijau kalem, tujuh penari perempuan memperagakan aneka gerak sebagai ilustrasi aktivitas berkebun pisang. Gerakannya tidak terlalu eksploratif, tapi intens. Koreografernya mengaku, “Motif gerak dalam Tari Tibak adalah hasil eksplorasi mulai dari cara menebang pohon, membawa daun-daunnya, serta mengolah makanan dan menyajikannya. Gerakan itu diolah dengan berbagai gerak tari tradisi yang ada di Lampung.”

Dengan menyaksikan Tari Tibak di Pekan Kebudayaan Nasional 2020, kita seakan sedang diingatkan kembali bahwa kesenian senantiasa mengambil jalur alternatif. Tari Tibak tidak masuk lewat pintu depan komoditas pisang di Lampung, yang memberi keuntungan ekonomi besar. Namun, karya seni tari ini masuk lewat pintu belakang, memperlihatkan hubungan antara masyarakat Lampung dan kebun pisang tidak semata tentang pendapatan, melainkan signifikansi kebijaksanaan yang dimiliki perkebunan pisang serta pengaruhnya terhadap perilaku hidup manusia. Perilaku kita sehari-hari. Selamat menonton!

survey