Tari Teumampoe, Jago Pusako

Dari Sawah untuk Sawah

Sawah-ladang membentang di lembah sepanjang Bukit Barisan, mulai dari ujung utara di Aceh sampai ujung selatan di Lampung, baik itu di lembah yang menghadap ke pantai timur maupun ke pantai barat. Sawah-ladang yang tumbuh subur berkat tanah vulkanik, sungai-sungai yang besar dan bercecabang, dan tentu saja karena berbagai pengetahuan cocok-tanam tradisional masyarakatnya yang agraris. Sawah-ladang tidak hanya menjadi sumber penghidupan sebagian besar masyarakat di pedalaman Sumatra dan pada gilirannya turut membentuk adat-istiadat, sistem kekeluargaan, nilai-nilai, dan ekspresi kebudayaan, dengan beragam variannya.

Pidie Jaya, kabupaten di provinsi Aceh yang baru berdiri pada 2007 lalu, merupakan salah satu daerah yang termaktub dalam gugusan Bukit Barisan tersebut. Kreung (sungai) Meureudu dan kreung Beuracan mengalir dari gunong Peuet Sagoe sampai ke kuala Malaka dengan tingkat kemiringan dan curah hujan yang tinggi, mengairi dan memberi kesuburan pada setiap blang (sawah) yang dilaluinya. Demikianlah sebagian tipografi dan kliminologi Pidie Jaya, kabupaten yang baru mekar dari induknya Pidie itu, terkenal sebagai salah satu produsen beras. Kurang-lebih 15.000 Ha sawah menyelimuti wilayah ini. Bahkan, blang tersebut menjadi penanda sebagian daerah seperti Blang Cok Maken, Blang Raya, Blang Panteen Kulat, Blang Lhokmienyek, dan lain sebagainya. Penamaan itu menunjukkan betapa berartinya sawah bagi kehidupan masyarakat Pidie Jaya.

Di tengah hamparan sawah berlatar Bukit Barisan itulah tujuh penari perempuan diiringi tiga penabuh taktok trieng (rapa’i), seorang peniup surune kale, seorang peningkah djembe, dan seorang aneuk syahi yang melantunkan dendang dan syair, menyuguhkan Tari Teumampoe untuk Pekan Kebudayaan Nasional (PKN) 2020. Tari Teumampoe mewakili Pidie Jaya. Tari ini merupakan tari kreasi gubahan seniman Aceh bernama Husni Idris atau lebih dikenal sebagai Syah Ni. Sebelumnya, karya dari kelompok Meurah Seutia tersebut kerap tampil dalam berbagai perhelatan, dalam provinsi Aceh maupun di berbagai daerah. 

Melalui tari kreasi tersebut kita melihat betapa eratnya hubungan antara aktivitas ekonomi dan ekspresi kebudayaan. Hal ini memperlihatkan pertautan masyarakat Pidie jaya yang 80.000 jiwa atau 58 % dari keseluruhan penduduknya hidup sebagai petani dengan elemen-elemen dalam Tari Teumampo. Tidak sekadar tampil di tengah hamparan sawah, hubungan tersebut dipertegas dengan penggunaan jieue (nyiru), are trieng (penyukat gabah), dan aweuwek (sendok nasi) oleh tujuh penari sebagai properti karya. Dengan jieue, mereka kembangkan berbagai motif gerak yang diambil dari cara menampi beras. Dengan are trieng mereka peragakan cara memisahkan padi dari gabah. Dengan aweuwek, mereka hendak simbolkan betapa padi yang menjadi beras lalu nasi artinya lingkaran kehidupan. Sementara instrumen musik taktok trieng, konon dikembangkan dari alat yang dipukul-pukul di tengah sawah guna mengusir hama. 

Selayaknya berbagai jenis tari tradisi Melayu, Tari Teumampoe adalah gabungan antara gerakan energik namun tanpa kehilangan kelenturan dan keluwesan tubuh. Lihatlah gerakan tujuh penari yang rempak, pola lantai simetris, dan tempo yang ritmis. Seiring dengan ketukan dan tingkah rapa’i yang cepat, mereka selaraskan dengan suara surune kale yang tinggi dan mengalun. Harmonisasi dan simetri merupakan unsur-unsur yang hendak dicapai Tari Teumampoe. Tarian inilah manifestasi dari hubungan simbiosis antara manusia dan alam dalam kosmologi masyarakat tradisional.  

Menyaksikan Tari Teumampoe, kita bisa membayangkan sambil menelusuri laku keberlangsungan masyarakat agraris di daerah Pidie Jaya, sejak dulu hingga kini. Di Pidie Jaya, kita temui berbagai ritual dan pengetahuan tradisional yang berkenaan dengan sawah. Mereka memiliki cara pembagian kerja dalam menggarap sawah dan aturan untuk turun ke sawah, mekanisme pembagian air, dan perawatan jaringan air, yang tercantum dalam meugo blang (hukum sawah). Adapun hukum tersebut, ditetapkan bersama-sama dalam sebuah ritual khanduri blang, yang berlangsung sebelum penggarapan sawah dimulai. 

Kultur dalam bersawah tersebut mengindikasikan bahwa tidak hanya baru-baru ini saja Pidie Jaya memiliki sawah luas dan padi bermutu. Dalam historiografi masyarakat Aceh, Meuredeu yang saat ini menjadi ibu kota Pidie Jaya, pada masa lalu merupakan kota penting yang menjadi lumbung utama Kerajaan Aceh di bawah Sultan Iskandar Muda. Tercatat dalam Adat Meukuta Alam, sebuah undang-undang Kerajaan Aceh, Mereudeu adalah kota istimewa yang dibebaskan dari segala aturan kerajaan atau disebut nanggroe bibeueh (negeri bebas), dan hanya punya satu kewajiban, yakni, menyediakan kebutuhan logistik kerajaan. Karena pertimbang geografisnya yang strategis, Mereudeu pernah direncanakan menjadi ibu kota Kerajaan Aceh, meskipun kemudian gagal karena intrik politik.

Demikianlah Tari Teumampoe yang tampil dalam PKN 2020 sebagai manifestasi dari ratusan tahun usia persawahan di Pidie Jaya. Karya yang berdurasi sepuluh menit ini boleh jadi digubah oleh seorang seniman dan tujuh penari belaka, alih-alih Tari Teumampoe sebenarnya mewakili puluhan ribu jiwa penduduk Pidie Jaya yang menggantungkan hidup pada padi menguning dengan latar Bukit Barisan. Selamat menyaksikan!

survey