Tari Paraga

Amsal Siklus Kehidupan

Di Makassar, Sulawesi Selatan, bola rotan dimainkan bukan di sebuah pertandingan seperti dalam sepak takraw, melainkan dalam pertunjukan. Sebuah pertunjukan yang melibatkan enam pria saling unjuk kebolehan memainkan bola rotan dengan kaki, tangan, bahkan kepala. Masyarakat Bugis-Makassar menyebutnya Paraga. Dalam Paraga, para pemain tidak hanya memainkan bola dengan anggota tubuh, tetapi juga pakaian yang mereka kenakan. Masing-masing pemain mengenakan pakaian tradisional, lengkap beserta ikat kepala laki-laki yang disebut passapu berupa topi segitiga berlapis kanji yang membantu gerak bola di kepala pemainnya. 

Paraga mempertontonkan kebolehan masing-masing pemain berurusan dengan bola yang dioper dari satu pemain ke yang lainnya, sekaligus menuntut kekompakan di antara mereka sebagai tim. Setelah unjuk kebolehan dalam berbagai variasi posisi dan gaya, mulai dari duduk, jongkok, hingga berbaring, para pemain Paraga membentuk formasi menara, yang terdiri dari dua hingga empat orang. Pemain paling bawah menopang tubuh pemain lainnya dengan paha atau pundak, sedangkan pemain yang berada di atas harus tetap memantulkan bola baik dengan kaki, tangan, maupun kepalanya agar tidak jatuh ke tanah.

Bola Paraga tentu berbeda dengan bola rotan dalam cabang olahraga sepak takraw. Umumnya, setiap pemain Paraga dapat membuat sendiri bola anyaman rotan yang konon mendapat perlakuan khusus sebelum dimainkan, sehingga mereka bisa memperbaiki sendiri bola tersebut jika terjadi kerusakan di tengah permainan.

Paraga dimainkan dengan iringan seperangkat alat musik pukul tradisional seperti gendrang atau kendang, kenong dan gong, yang berfungsi sebagai penjaga ritme, serta satu alat musik tiup yang berfungsi sebagai melodi, yaitu seruling. Sebelum Paraga dimainkan, bola rotan dimantrai terlebih dahulu agar keselamatan para pemain terjaga. Pada zaman dulu, seorang perjaka tidak diperbolehkan menikah jika belum bisa memainkan Paraga. Hal itulah yang membuat Paraga dianggap penting lantaran meningkatkan status sosial seseorang.

Dalam Pekan Kebudayaan Nasional (PKN) 2020, para pemain Paraga beratraksi di tengah-tengah empat penari wanita berkipas. Tari kipas, di Makassar, disebut Tari Pakarena. Berbeda dengan para pemain Paraga, yang bergerak meliuk lincah, para penari Pakarena bergerak lemah lembut seperti para penari Bedhaya di Jawa Tengah. Kelemahlembutan itu merupakan penggambaran wanita ideal di Makassar—dan sepertinya juga di sebagian besar belahan bumi lainnya. Tari Pakarena berdurasi dua jam, dan di sepanjang tarian berlangsung para penari Pakarena tidak boleh membuka matanya terlalu lebar atau mengangkat kaki mereka terlalu tinggi. 

Selain itu, kelemahlembutan gerakan pada Tari Pakarena tidak hanya kontras dengan kelincahan para pemain Paraga, tetapi juga dengan irama musik pengiringnya yang agresif. Seperti halnya para pemain Paraga, seluruh pemain musik yang mengiringi Tari Pakarena dan Paraga juga terdiri dari pria. Gemuruh suara gendang dan kenong adalah gambaran pria ideal dalam bingkai sosial di konteks masyarakat Bugis-Makassar, yaitu kuat dan keras. Dalam pertunjukan ini, penabuh gendrang menjadi pemimpin komposisi. Tabuhan gendrang lah yang memimpin laju permainan alat musik lainnya sekaligus penentu ketukan atas gerakan para pemain Paraga dan penari Pakarena. Dengan kata lain, penabuh gendrang adalah orang yang memahami seluruh gerakan dalam Pakarena. 

Paraga dan Pakarena, serta musik pengiringnya merupakan amsal keseimbangan. Keseimbangan dalam kehidupan, tentu saja, mengingat beberapa gerakan dalam Pakarena mengisyaratkan makna yang berkaitan dengan siklus kehidupan. Asal-usul Pakarena sendiri memiliki banyak versi. Dalam salah satu versi diceritakan, Pakarena disebutkan berawal dari perpisahan penduduk botting langi (kahyangan) dengan penduduk bumi. Sebelum kembali ke kahyangan, penduduk botting langi mengajarkan kepada penduduk bumi tentang tata cara hidup, bercocok tanam, berburu, dan semua gerakan tubuh itulah yang kemudian tersimbolkan menjadi Tari Pakarena.

PKN 2020 mengajak Anda sekalian berselancar sejenak melawat ke Sulawesi Selatan dengan menonton para pemain Paraga beratraksi memainkan bola rotan beriring tarian Pakarena yang dibarengi aransemen musik tradisional Bugis bernama Gondrong Rinci. Tetap di rumah dan jaga diri Anda dan orang-orang tercinta di sekeliling Anda, serta jangan lupa untuk mengikuti program PKN 2020 lainnya. Selamat menyaksikan!

survey