Tari Kecak I Ketut Rina

Kecak Teges Suatu Ketika

Ketut Rina tentu tidak akan lupa peristiwa pada 1971. Dirinya masih kanak-kanak ketika itu dan barangkali karenanya hanya dapat memahami konteks kejadian secara samar saja: Dia menangis, tersedu sesenggukan bersama teman-teman sepantarnya, sementara warga lain yang lebih dewasa usianya tampak marah dan sakit hati. 

Mereka menatap hampa bus-bus yang melenggang pergi meninggalkan kampung mereka, Desa Teges di Ubud, yang kala itu keadaannya masih miskin sekali. Apa pasal? Tidak lain karena kecak garapan Sardono W. Kusumo, yang melibatkan penduduk setempat yang nyaris 80 persen adalah petani dan pematung, dilarang berangkat pentas ke Jakarta lantaran pemberitaan simpang siur di salah satu koran lokal. Mereka dikabarkan mempertunjukkan kecak telanjang di sana, begitulah isu keliru yang beredar.

Faktanya, tidak semua penari kecak itu bakal bugil di atas panggung. Hanya dua bocah saja, salah satunya Rina yang dalam pementasan berperan sebagai kanak-kanak pedesaan Bali pada umumnya, yaitu berkeliaran ke sana-kemari tanpa pakaian sama sekali. Ya, itulah menariknya garapan kecak ala Sardono yang datang ke Desa Teges pada 1971 dan menggubah lakon Dongeng dari Dirah dengan versinya sendiri. 

Alih-alih menghadirkan kecak dengan komposisi melingkar ciptaan Limbak dan Walter Spies pada awal 1930-an, Sardono memunculkan kecak yang bahannya kehidupan sehari-hari petani di Bali. Penarinya diminta menirukan gerakan burung, suara kodok dan monyet, menangkap belut, sampai menggambarkan seekor itik yang ditabrak truk dalam salah satu adegannya. Lain dari itu, Sardono ingin melepas kecak dari pakem dramaturgi Ramayana yang berkembang selepas 1930-an—yang menurut Sardono—adalah tiruan dari pentas balet Swan Lake di Eropa. 

Ada adegan lucu yang masih dikenang Rina, yaitu ketika orang-orang menirukan gerakan-gerakan monyet. Sardono sampai naik pohon beringin, begitu pula Sal Murgiyanto. Bedanya, alih-alih lincah menirukan gerakan seekor kera, Sal Murgiyanto konon malah tidak bisa turun dari salah satu cabang pohon. Ada pula kronik-kronik peristiwa lain selama proses penggarapan lakon tersebut yang Anda bisa temukan dalam buku Sardono W. Kusumo, Hanuman, Tarzan, Homo Erectus (2004). 

Dongeng dari Dirah ini memperoleh perhatian besar bukan hanya di sekitaran Teges dan Ubud, bahkan di wilayah-wilayah lain di Bali. Sensasional, karena ada seorang yang ingin mengubah tradisi pertunjukan yang berdasawarsa sebelumnya lahir di Bedulu, Gianyar. Kecak memang punya posisi yang menarik dalam konteks budaya dan religi pulau Bali. Dulunya, kecak ditarikan mengiringi tari Sanghyang yang sakral; jadi, dia pada mulanya bukan tontonan biasa. Teriakan cak cak cak yang disuarakan penari terus-menerus diyakini bisa menakuti roh-roh jahat. Sampai tiba Walter Spies yang mengusulkan kepada maestro tari Limbak agar menyusun komposisi baru yang lebih rancak, massal, serta menyisipkan aspek naratif Ramayana, terutama pertarungan kera Subali dan Sugriwa. Inilah versi kecak yang dikenal publik secara luas dan bisa dibayangkan bagaimana reaksi kebanyakan orang ketika Sardono muncul dengan konsepnya yang terbilang sangat kontras.

Namun, kisah pahit warga Desa Teges terobati kala Dongeng dari Dirah justru mendapat kesempatan pentas ke Eropa pada 1974. Rina, yang usianya baru 11 tahun, ikut dalam rombongan. Dia menginjakkan kaki di Perancis, Swiss, Inggris, Italia, dan Jerman—itulah sepotong fragmen dari pengelanaan Rina bersama kecak hingga bertahun-tahun kemudian seiring kreativitasnya sebagai seorang penari. 

Dua tahun setelah Dongeng dari Dirah mengembara di Eropa, Kecak Teges diundang membuka Festival Shiraz di Iran pada 1976. Selanjutnya, mereka pentas di Vancouver, Kanada (1986), Festival Seni Singapura (1988), juga beberapa eksibisi di Jepang dari 1987 sampai 1999 berturut-turut dan diteruskan lagi pada 2000 dan 2001. Kian lama, sejalan bertambah dewasanya usia Ketut Rina, regenerasi penari kecak beralih kepadanya. Kelompok kecak dari Teges pun lebih identik dengan namanya sendiri, yakni Kecak Rina. Demi mengembangkan wawasan kepenariannya, Ketut Rina pun menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Seni Indonesia di Denpasar. 

Pengalaman berproses kreatif bersama Sardono begitu membekas bagi Rina. Dia tidak lagi memandang kecak dalam rupa-rupa pakem yang seakan tidak dapat digoyahkan. Di tangan Rina, kecak berkembang menjadi lebih dinamis, dengan komposisi tidak melulu melingkar dan penarinya duduk di pelataran sebagaimana yang sering kita temui dalam pentas-pentas kecak turistik sampai sekarang. 

Rina mendorong para penarinya, yang sampai ratusan jumlahnya, untuk bergerak serupa liar dalam formasi-formasi baru, entah berupa garis yang rapi ataupun acak seakan tanpa pola. Ritme gerakan mereka juga menjadi lebih cepat. Belum lagi tatkala mereka membuat adegan pertarungan kera Subali dan Sugriwa, panggung kalangan seolah heboh dan riuh, penari dewasa secara atraktif saling melempar bara sabut kelapa, berlarian penuh energi di segala sisi arah. 

Ciri khas garapan Rina yang tidak ada pada penampilan kecak lain, yaitu munculnya bocah-bocah yang menimbulkan suara-suara cik…cik…cik…dengan nadanya yang nyaring dan lucu, berlarian lincah seraya membawa obor—persis seperti dirinya pada 1971. Dalam sanggarnya, Rina sengaja mengajak anak-anak untuk terlibat dalam pementasannya, bahkan hampir seperempat jumlahnya terdiri dari bocah-bocah. Dalam sanggar besutan Rina pula, mereka belajar jenis tari Bali lainnya, boleh dibilang dengan disiplin yang cukup ketat.

Sebagai penari, Rina tidak hanya mengembangkan kecak. Dia menciptakan banyak tarian tunggal dan berkolaborasi dengan penari tradisi dari negara lain, sebut saja butoh asal Jepang. Pernah pula Rina terlibat garapan pertunjukan teater epik Bugis, I La Galigo bersama Robert Wilson; di sana Rina berperan menjadi Batara Guru. Selain itu, Rina pun kerap mondar-mandir ke negara lain untuk berbagi kisah pengalamannya menari kecak. Dalam kapasitas itulah, Rina turut berkontribusi menjadikan kecak berikut kesenian tari tradisi Bali lainnya lebih mendunia. 

Bagi Rina, kecak adalah keindahan koreografi. Dari seorang penari kecak anak, dia konsisten mengembangkan kecak dengan koreografi yang menawan. Dia bukan hanya menyerap tradisi, tetapi juga berusaha membuat kecak yang menyejarah ini jadi lebih lentur dan kaya akan spontanitas kreativitas tertentu. Boleh jadi, bayangan Rina tentang kesenian tradisi bukanlah suatu entitas baku dan kaku, yang hanya diusap-usap belaka dengan dalih pelestarian. Kesenian tradisi sangat mungkin dikembangkan seiring tumbuhnya kesadaran berkesenian manusia. Selamat menyaksikannya dalam Pekan Kebudayaan Nasional 2020! Caakkkk!!!!

survey