Tanah Air Project

Musik Rock yang Patriotik

Lazimnya, kita akan berada dalam posisi diam ketika lagu-lagu nasional dikumandangkan. Jangankan ber-moshing ria di mosh pit hingga keringat mengucur deras membasahi tubuh, sekadar mengangguk-anggukan kepala mengikuti beat saja sepertinya bukan bahasa tubuh yang pantas untuk menikmati lagu-lagu seperti “Indonesia Pusaka,” “Satu Nusa Satu Bangsa,” atau “Ibu Pertiwi.” Tapi, hal itu tak lagi berlaku ketika lagu-lagu nasional tersebut dimainkan oleh sekelompok anak muda yang menyebut diri mereka, Tanah Air Project. 

Di tangan Tanah Air Project, lagu-lagu nasional yang sejak kecil sudah kita kenal itu kini dibalut dengan musik rock yang menggelegar. Di hadapan penampilan enerjik mereka, kelaziman untuk menjaga sikap khidmat kita ketika lagu-lagu nasional diperdengarkan pun digetarkan oleh bunyi distorsi gitar listrik Gerard dan Daniel, gebukan drum Ardika, dan suara serak-serak basah Siti Sa’adah atau Daeztyne. 

Karakter suara Daeztyne dan jaket kulit hitam mengilat yang ia kenakan tatkala bernyanyi seketika mengingatkan para pendengar musik Indonesia era 1980-an pada Lady Rocker Indonesia, Nicky Astria. Suara Daeztyne sudah tidak asing lagi bagi sebagian publik Indonesia, terutama bagi mereka yang mengikuti ajang pencarian bakat, Indonesian Idol, ketika setiap juri yang mengaudisi penyanyi wanita asal Cirebon, Jawa Barat itu memuji karakter suaranya bahkan sebelum ia mulai bernyanyi. 

Pada 2015, empat tahun sebelum ia mengikuti Indonesian Idol, Daeztyne pun pernah bergabung bersama band asal Bandung, SHE, untuk menggantikan vokalis sebelumnya, Melly Herlina, yang hengkang pada 2014. Bergabungnya Daeztyne dalam SHE pada saat itu langsung mengubah aliran musik grup band yang semua personilnya wanita tersebut. Siapa pun yang pernah mendengar single hits mereka, “Slow Down Baby,” mengenal SHE sebagai grup band yang beraliran pop-rock. Bergabungnya Daeztyne bersama SHE pun memperkuat unsur rock dalam SHE. Bersama Tanah Air Project, karakter Daeztyne sebagai Lady Rocker kembali mencuat. 

Selain Daeztyne, Gerard, Daniel dan Ardika, Tanah Air Project digawangi oleh Ezekiel Rangga pada kibor, yang akan mengingatkan sebagian diantara kita pada tokoh dalam film horor 1980-an, Friday The 13th,  Jason Voorhees, dengan topeng hockey yang ia kenakan setiap kali tampil di atas panggung. Di dalam Tanah Air Project, Rangga atau Mr. R bukan hanya berperan sebagai kibordis, tetapi juga produser. Pria yang merupakan Direktur Liga Musik Indonesia tersebut tidak sekadar mengaransemen ulang lagu-lagu nasional, bahkan turut menciptakan beberapa lagu baru yang memiliki semangat serupa. Salah satu di antaranya, yaitu “Anak Indonesia.”

Aliran musik rock agaknya sesuai untuk mengekspresikan perasaan cinta tanah air dan patriotisme. Pada 2001 silam, grup band asal Bandung, Cokelat, membawa semangat nasionalisme ke panggung musik rock melalui single hits, “Bendera.” Lagu itu diciptakan Eross Candra, gitaris grup band asal Yogyakarta, Sheila On 7, sebagai soundtrack film arahan Nan Achnas, Bendera. Melalui “Bendera,” Cokelat menyebarkan kembali semangat cinta tanah air kepada anak-anak muda yang bisa jadi telah terkikis oleh budaya asing yang menyertai usia di masa remaja. 

Selain itu, nasionalisme kembali menghentak panggung musik rock saat grup band asal Jakarta, NTRL, merilis album ke-14, XXV, yang melejitkan single “Garuda di Dadaku” pada 2018. Dengan meminjam tempo sorak-sorai suporter sepak bola Indonesia saat bernyanyi yel-yel tim kesayangan mereka, Bagus, Coki dan Eno membuat lagu mereka menjadi lagu wajib, baik bagi para suporter sepak bola maupun suporter cabang olahraga lainnya.

Sebagai negara kepulauan, yang mempunyai budaya dan tradisi beraneka-ragam, nasionalisme di Indonesia beririsan dengan lokalismenya. Tanah Air Project menyadari hal tersebut, sehingga dalam setiap penampilan mereka, Mr. R dan kawan-kawan pun tidak hanya membawakan lagu-lagu nasional seperti ciptaan Ismail Marzuki, Liberty Malik dsb., tetapi juga lagu-lagu daerah seperti “Ondel-Ondel” (Betawi), “Sinanggar Tullo” (Batak), “Ampar-Ampar Pisang” (Kalimantan) dan “Sajojo” (Papua). 

Tanah Air Project hadir kembali dalam Pekan Kebudayaan Nasional (PKN) 2020. Musik rock yang menghentak dan lirik-lirik patriotik yang mereka bawakan niscaya menjaga semangat kita tetap berkobar di tengah pandemi Covid-19. Di masa pandemi, nasionalisme dapat sederhana kita wujudkan, yaitu dengan tetap menjaga kesehatan diri dan orang-orang di sekitar kita. Tetap di rumah dan saksikan penampilan Tanah Air Project dalam PKN 2020!

survey