Suarasama

Inspirasi Musik Ketenangan

Jurusan Etnomusikologi Universitas Sumatera Utara (USU) telah mempertemukan Rithaony Hutajulu pada musik dunia (world music) melalui salah satu dosennya yang berasal dari Amerika Serikat. Semesta musik dunia ternyata langsung menarik hati wanita yang pada mulanya adalah seorang penyanyi lagu-lagu pop tersebut. Maka, ia tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk melanjutkan studi masternya di University of Washington (UW), Seattle, Amerika Serikat. 

Selama studi di UW, Ritha mempelajari musik dunia dari etnomusikolog Kamboja, Sam Ang Sam, dan penyanyi Qawwali asal Pakistan, yang pada 1994 dinobatkan sebagai penyanyi terhebat ke-4 di dunia oleh LA Weekly, Nusrat Fateh Ali Khan. Di UW pula, Ritha kemudian bertemu dengan rekan setanah air yang juga berasal dari Sumatera, Irwansyah Harahap. Jika Ritha mempelajari seni pertunjukan, di UW Irwansyah mempelajari komposisi dan alat musik seperti sitar dan tabla. Pada 1995, setelah rampung studi, mereka kembali ke Medan dan mendirikan Suarasama bersama para mahasiswa etnomusikologi USU.

Teknik Qawwali, yang berasal dari para sufi asal India dan Pakistan, terdengar sangat kental pada vokal Ritha, sehingga permainan gambus Irwansyah, seperti yang bisa kita dengar melalui lagu “Lebah,” misalnya, akan langsung dihayati oleh kuping orang Melayu kebanyakan sebagai musik Timur Tengah. Irwansyah sendiri mengakui gaya bermain gambus dalam “Lebah” terinspirasi dari musik tradisional Eropa Timur dan Afrika Utara. 

Luangkan waktu sejenak untuk bertualang dalam jaringan ke Eropa Timur hingga bertemu dengan, misalnya, masyarakat Csango, yang tinggal di Hungaria dan Rumania, dan Anda pun akan mendapati bahwa ternyata musik tradisional masyarakat penganut Katolik Roma tersebut juga mengusung suara yang sama dengan suara dalam aransemen “Lebah.” Lebih lanjut, Irwansyah menyampaikan bahwa gambus yang ia mainkan dalam “Lebah” sedikit berbeda dengan gambus konvensional karena terbuat dari bambu, yang merupakan bahan utama dalam budidaya lebah. Dalam “Lebah,” Suarasama merayakan sekaligus berterima kasih pada sumbangsih alam pada kehidupan manusia. 

Suarasama merilis album debut mereka, Fajar Di Atas Awan, pada 1998. Judul album tersebut juga merupakan judul single andalan mereka. Pada 1999, musikolog asal New York, Philip Yampolsky, menjadikan track “Fajar Di Atas Awan” sebagai lagu penutup dalam album kompilasi Music of Indonesia Vol. 20: Indonesian Guitars, yang dirilis di bawah label rekaman Smithsonian Folkways Recordings, AS.

Dalam “Fajar Di Atas Awan,” Ritha bersenandung sambil diiringi petikan gitar akustik Irwansyah dan tarikan nada yang keluar dari alat musik asal anak benua India, shruti box, atau surpeti. Surpeti adalah alat musik yang berfungsi sebagai penjaga keseimbangan, atau harmoni dalam sebuah ansambel. Jika permainan gambus dan tabla dalam “Lebah” terdengar semarak, petikan gitar akustik dan ketukan tabla yang mengiringi harmonisasi vokal Ritha dan Irwansyah dalam “Fajar Di Atas Awan” akan mengantar kita kepada suasana meditatif. Suasana yang mengembalikan ingatan masa kecil, kala orang tua kita meninabobokkan kita.

Suarasama juga membawa suasana meditatif dalam lagu mereka lainnya, “Timeline.” Jika dalam “Lebah,” Irwansyah memainkan gambus bambu yang terinspirasi dari para petani lebah, dalam “Timeline,” Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia 2017 itu memainkan gitar kreasinya yang terinspirasi dari alat musik petik asal Turki, Bağlama. 

Berbeda dengan “Fajar Di Atas Awan,” yang membuat suasana hati kita lebih tenang dan damai, aransemen musik dan nada yang Ritha dan Irwansyah senandungkan dalam “Timeline” membikin suasana hati kita dirasuki semangat para serdadu abad pertengahan yang siap maju ke medan perang. “Timeline” berdurasi lebih panjang dibanding “Lebah” atau “Fajar Di Atas Awan.” Seperti judulnya, “Timeline” memuat satu lini masa. Pada bagian awal, petikan gitar saz—demikian Irwansyah menyebut alat musiknya—dalam lagu ini bisa kita tafsirkan sebagai masa bercermin. Saat vokal Ritha masuk bersama alunan panjang surpeti, kita diajak bercermin lebih dalam lagi hingga kemudian petikan gitar saz Irwansyah berubah tempo untuk mengantar kita menghadapi ketakutan-ketakutan kita sendiri. 

Sebelum mencapai penghujung lagu, senandung Ritha berhenti seperti lenyap begitu saja, meninggalkan kita seorang diri di antara kepungan ketukan tabla dan tempo gitar yang semakin agresif, hingga senandung wanita yang sedang menyelesaikan program doktoralnya itu kembali bersuara lagi, dengan nada tinggi, untuk membawa kita kembali ke permukaan sebagai kita yang baru.

Pekan Kebudayaan Nasional 2020 adalah panggung yang tepat bagi Suarasama untuk menyuguhkan ketenangan dan penguatan lewat musik di tengah situasi pandemi Covid-19. Tetaplah di rumah, dan temukan “Fajar Di Atas Awan” milikmu sendiri. Selamat menyaksikan!

survey