Siantar Rap Foundation

Perlawatan ke Bonapasogit

Mendengar enam lagu Siantar Rap Foundation alias SRF dalam Pekan Kebudayaan Nasional tahun ini, yaitu “Dainang,” “Dalihan No Tolu,” “Boru Ni Raja,” “Sik Sik Batumanikam,” “Latteung,” dan “Suan,” segera mengalunkan angan kita kepada nuansa budaya nun di tanah Batak sana.

SRF dibentuk pada 16 Agustus 2013 di Kota Pematangsiantar. SRF secara konsisten mengetengahkan paduan musik tradisi dalam lantunan rap yang segar dan memikat. Itulah yang tecermin dari repertoar sejumlah album mereka ciptakan: Batak Swag Ethnic (2014), Tobanese (2015), Sada Dua Tolu (2016), Indonesia Bisa (2020), Rap Tradisi (2020), serta single Pariban yang menjadi OST film Pariban Idola dari Tanah Jawa (2019). 

SRF terdiri dari Alfred Klinton Manurung, Petrus Simarmata, Alfred Reynaldo Sitanggang, dan Arwin Manurung. Keempatnya musisi muda sarat talenta. Bagi mereka, adaptasi bahasa dan langgam musikal tradisi Batak ke dalam musik rap bukan hanya demi mendekatkan kultur setempat ke kalangan anak muda. Adaptasi tersebut, boleh dikata, ikut memberi sentuhan warna bagi perkembangan musik tradisi Batak yang selama ini secara lincah dikreasikan musisi-musisi kontemporer dari Sumatera Utara lainnya.

Lebih dari itu, suguhan alur repertoar SRF mengajak kita melakukan lawatan retrospektif ke jantung budaya Batak yang lekat dengan nilai-nilai filosofisnya. Menyimak keenam lagu ini bagai mengulang perjalanan selama kurang lebih 6–7 jam dari ibukota Medan menuju Samosir di Tanah Toba. Di sanalah linimasa ingatan beralih dari hiruk pikuk kemodernan ke perenungan terhadap bonapasogit atau kampung halaman yang menjadi akar kehidupan orang Batak. Jika kebetulan Anda pernah melakukan perjalanan serupa, mari coba buka kembali rekaman ingatan momen-momen pengembaraan menuju tanah asal-muasal tersebut—diiringi lagu-lagu SRF. 

Musik dalam Perjalanan

Lagu pembuka, “Dainang” yang terekam dalam album Batak Swag Ethnic (2014) mengisahkan tentang bunda, sosok perempuan yang teramat penting dalam konteks kebudayaan dan kekerabatan orang Batak. Berkolaborasi dengan Pitta Rose yang suaranya menawan, SRF menggambarkan kesan dan pujian terhadap ibu. Petikan gitar pembuka mengantar suasana lembut, yang ditingkahi alunan sulim (seruling Batak) dan irama perkusi khas taganing. Seluruhnya berpadu dengan langgam rap yang tidak menghentak. Kesan atas kerinduan perihal ibu secara mudah tersirat selayaknya kita sedang menatap lintasan jalan ramai di aneka simpang jalan kota Medan, yang sejak beratus tahun silam menjadi tempat singgah maupun rantauan. Medan yang begitu lekat dengan aroma keterasingan. Medan, tempat orang-orang barangkali lumrah merasa sebatang kara, dan bunda, yang berada nun di kampung halaman senantiasa menjadi oase kehidupan. 

Kita menyusuri jalan ke barat, mengambil terusan menuju Sidikalang, jalur tercepat yang masih tersedia saat ini jika hendak ke Samosir. Kali ini kita diperdengarkan “Dalihan No Tolu,” lagu yang termuat dalam album Raptradisi (2020). Seiring jalanan lurus membentang—kadang sopir bergesit salip-menyalip—irama lagu yang lincah tampaknya cukup pas untuk melarutkan kita pada kenyataan di sepanjang perlintasan. “Dalihan No Tolu” mengisahkan filosofi Batak tradisional, yakni tiga nilai dasar yang patut dijunjung orang Batak di manapun mereka berada: somba marhula-hula (hormat kepada keluarga istri), elek marboru (mengayomi wanita), serta manat mardongan tubu (hati-hati terhadap teman semarga). 

Sedangkan “Boru Ni Raja” (album Tobanese, 2015) terasa kental mengelaborasi langgam musik tradisi. Kita mendapati petikan hasapi atau sejenis kecapi bersenar dua, begitu pula sulim dan perkusi lima kendang taganing. Instrumen tradisi itu sering dipergunakan dalam kegiatan budaya setempat, dinamakan musik gondang, terutama bila mereka tersusun dalam komposisi instrumen lebih lengkap, terdiri dari sarune bolon (alat musik tiup), gordang (kendang besar penentu ritme), ogung (tiga sampai empat gong), sarune etek (sejenis klarinet), dan beberapa penyesuaian instrumen lain tergantung lokasi, latar budaya, serta peruntukannya. 

Boleh dibilang komposisi musik gondang ini terbilang unik. Meskipun sama-sama terbagi dalam tangga nada sebagaimana musik umumnya, ternyata gondang tidak disusun sama persis seperti alurnya. Ketika musik Barat terdiri dari tujuh tangga nada, gondang hanya memiliki lima tangga nada, yaitu do, re, mi, fa, sol—yang mana hal tersebut sering dijumpai pada taganing serta garantung (gambang kayu). Keunikan itu, sekaligus gaya permainannya yang nyaris tanpa pakem, membuat etnomusikolog Mark Kenyton asal Amerika Serikat menamai gondang sebagai musik dengan kekhasan pentatonik yang sulit diketemukan padanannya di belahan dunia lainnya. 

Adapun “Boru Ni Raja” bermakna pujian terhadap anak dara atau perempuan dengan secara khusus menyebut mereka sebagai anak perempuan raja. Melodinya lincah sekaligus indah, sangat tepat mengiringi lapang pandang Anda ketika mendekati daerah Sidikalang yang asri dengan jalanan yang berkelok-kelok. 

Anda juga pasti tidak asing dengan “Sik Sik Sibatumanikam,” lagu pergaulan tradisi Batak yang rancak. Kreasi atas lagu ini terbilang meluas, bukan hanya dalam bentuk lagu populer oleh musisi kenamaan Indonesia, termasuk dalam aransemen paduan suara yang relatif folklore. SRF mengaransemen ulang “Sik Sik Sibatumanikam” menjadi garapan yang tidak kalah elok dibanding yang selama ini sudah Anda kenali. SRF padu mengelaborasi vocal group. Kita terbawa mengalir ke lantunan musik cepat yang mengingatkan pada langgam manortor Batak Toba. Pesan lirik rapnya tentu saja masih seputar kecintaan kepada budaya Batak, sebagaimana muncul pada lagu-lagu lainnya. SRF menyandingkan penggunaan bahasa daerah dengan bahasa Indonesia. Garapan “Sik Sik Sibatumanikam” ala SRF menjadi salah satu nomor di Tobanese (2015). 

Lagu keempat, “Latteung” (album Sada Dua Tolu, 2016) bercerita tentang harga diri orang Batak dalam perlintasan zaman. Aransemennya nyaris berbeda dengan lagu-lagu sebelumnya yang masih menghadirkan instrumen lokal. Latteung seakan menegaskan eksplorasi estetik SRF terhadap langgam musik rap dan sebatas menyisakan jejak kedaerahan melalui penggunaan bahasanya. Inilah jalan tengah yang mempertemukan kelokalan dengan peluang pembaruan—dan ciri musik tradisi tidaklah selalu dihadirkan secara eksplisit dalam karya-karya kontemporer. Bentuk konsekuensi ini memang bukan tanpa risiko; pendengar yang tidak menguasai bahasa sumber akan kesulitan menguraikan artinya. Namun, kita tahu, ekspresi musik berbeda dengan penciptaan karya lainnya, terutama yang berkaitan dengan kebahasaan. Musik nyaris selalu menyediakan keluwesan tertentu bagi penciptanya untuk bebas membuat sesuatu tanpa terikat makna yang tunggal. Semua orang dapat tertaut hanya oleh irama, ritme, beserta melodinya. Atau bahkan impresi musikal, sebagaimana komposisi 4’33’’ karya John Cage. 

Bonapasogit

Akhirnya, tibalah kita di Puncak Tele, di sebuah ketinggian yang membentangkan pandang ke hamparan Danau Toba nun di bawahnya. Luas selayaknya lautan dengan setangkup daratan di tengahnya, sebentuk pulau yang kita kenali sebagai Samosir. Dari Puncak Tele jalanan terus menurun dengan kelokan-kelokan tajam dan angin lembah bertiup gigil tiada henti-hentinya. Ke dasar sana, kita bertemu daerah Pangururan, sebelum kemudian menyeberang ke Samosir. Ada juga Kampung Harianboho yang menjadi tanah lahir penyair Sitor Situmorang. Sementara itu, pada beberapa sisi Puncak Tele, kita bisa melihat Pusuk Buhit, yang konon merupakan gunung tertinggi di masa silam, tempat pertama turunnya nenek-moyang orang Batak ke dunia. Jadi, inilah situs mitologi cikal-bakal orang Batak, terkhusus bagi kaum Batak Toba, yang sepanjang hayat menjadi pusat kehidupan spiritual mereka. 

Sebagaimana kebanyakan lembah, wilayah itu diselimuti hutan dengan pohonan yang tumbuh dari masa ke masa. Rimbun dan hijau. Sembari menyaksikan itu semua, bayangkanlah lantunan repertoar terakhir yang dibawakan SRF, bertajuk “Suan” ciptaan Vicky Sianipar dan lirik oleh Suhunan Situmorang. Kita akan menemukan melodi yang bikin hati tersentuh: 

“Ooo ale dongan na burju marroha/ta suan ma gok hau di hutanta nauli/di dolok di turuan di topi ni tao nang porlak balian/sum gabe russum matolbak ma tano di lakkopi ma akka hutanta.” (ooo, semua teman-temanku yang baik, mari kita tanam banyak pohon di kampung. Di gunung di lembah di tepi danau maupun di ladang dan sawah perlahan-lahan tanah akan longsor menutupi kampung kita).

Inilah lagu ajakan untuk peduli terhadap ‘tanah dan hutan’, atau bonapasogit, dalam pengertian ekologis sekaligus kebatinan orang Batak. Sejatinya, hutan tidak terpisahkan dari kepercayaan dan kesejarahan orang Batak. Di hutan wilayah ini, dahulu kala Sisingamangaraja IX bergerilya melawan pasukan Kolonial Belanda, didukung para marga di tanah Batak. Di hutan ini, bertumbuhlah aneka hayati yang memberi mereka hidup selama turun-temurun. Ironisnya, di hutan ini juga pembalakan terjadi sampai sekarang demi kepentingan segelintir kalangan. 

Perlawatan retrospektif menuju bonapasogit tidak membawa kita kepada romantisme akan masa silam semata-mata, melainkan menghadirkan sisi lain dari kenyataan hari ini yang meminta kepedulian dalam upaya terus-menerus merawatnya, yang tidak lain adalah alam. Dialah alam sekaligus ibu yang kepadanya kita rindukan dengan penuh haru. Dialah juga jalan pengembaraan manusia, merentang di belahan bumi manapun: asal-muasal hadirnya seluruh hakikat kehidupan. Setidaknya, kita cukup beruntung bahwa perjalanan menuju bonapasogit ini ditemani SRF. Merekalah empat pemuda yang menyadari betul identitas kulturalnya. Lewat sajian musiknya, kita menerima pesan kecintaan universal yang SRF lantunkan.

survey