Sandiwara Sunda Miss Tjitjih

Panjang Umurnya

Batavia, 1928. Tahun bersejarah bagi rombongan sandiwara sunda pimpinan Aboe Bakar Bafaqih. Ia bersama istrinya, Nyi Tjitjih, melakukan hijrah demi mencari ruang berkarya lebih terbuka dan luas. Atau, kata orang-orang tua dulu, mencari peruntungan di pusat kota besar. Kala itu, Batavia adalah pusat dari negara kolonial Hindia Belanda. Pada tahun sama, di Batavia juga sedang terjadi peristiwa bersejarah skala nasional. Peristiwa Kongres Pemuda II yang berujung pada Sumpah Pemuda 1928. Di arus sejarah papan atas para pemuda dari berbagai daerah berkumpul dan menyatukan suara untuk bertanah air satu, berbangsa satu, dan berbahasa satu. Indonesia. Sedangkan bagi Aboe Bakar Bafaqih seorang seniman plus pengusaha tonil, bersumpah kepada istrinya yang satu itu, akan berjuang mengibarkan bendera sandiwara sunda satu-satunya: Miss Tjitjih Toneel Gezelschap.

Miss adalah sebutan bagi seorang primadona perempuan dalam perkumpulan tonil pada masa kolonial. Sistem bintang pada dekade kedua abad 20 memang telah dikenal. Setiap ada seorang gadis berbakat dalam berakting dan bernyanyi serta menonjol dalam paras dan bergaya, maka nama dari gadis tersebut akan dijadikan sebagai merek dagang dari perkumpulan tonil yang membawanya. Demikianlah yang terjadi pada Nyi Tjitjih muda. Kala perjumpaan perdana dengan Aboe Bakar Bafaqih yang masih mengoperasikan sandiwara Opera Valencia, Nyi Tjitjih masih bermain dengan tonil sunda di daerah Sumedang. Aboe Bakar Bafaqih jeli melihat bakat dan peluang bisnis. Nyi Tjitjih yang cantik, bersuara merdu, mampu bermain peran dengan apik dan menari enerjik, sungguh memikat. Segeralah Nyi Tjitjih, gadis 18 tahun, dirangkul bergabung dalam Opera Valencia. Dua tahun kemudian sang pimpinan sandiwara juga meminang sang primadona panggungnya. Inilah sepasang kekasih yang mengasuh perkumpulan tonil Miss Tjitjih yang baru lahir.

Dari kampung ke kampung. Tanah Becek. Bukit, ladang, sawah dilewati. Gerobak dan kereta api dinaiki. Demi menghampiri para penyewa Miss Tjitjih. Persaingan mesti dihadapi dengan perjuangan gigih demi eksistensi. Sebab, pada akhir dekade 1920-an dan awal dekade 1930-an, Miss Tjitjih berdiri di antara tonil-tonil lainnya yang cukup ternama. Ada Miss Riboet-Orion dan ada pula perkumpulan tonil Dardanella dengan primadonanya Miss Dja. Kecirian dari Miss Tjitjih adalah pemakaian bahasa Sunda dalam pertunjukannya. Di satu sisi, hal ini membatasi Miss Tjitjih untuk bisa berkembang di luar tatar Sunda. Namun, dengan kekuatan tradisi dan budaya Sunda, justru banyak kalangan elite daerah sunda (antara lain, Cianjur, Garut, Lebak, Cirebon, dll) menyukainya. Di Batavia pun juga banyak pemukim berbahasa sunda dalam kehidupan sehari-harinya. Jadi, Miss Tjitjih dengan keciriannya itu tidak kehilangan pasar penontonnya. Alhasil, tonil ini tahun demi tahun menjadi tambah terkenal di Batavia, terutama di sekitar Pasar Gambir. Di Pasar Gambir tonil ini terjadwal pergelarannya. Bahkan, Gubernur Jenderal Hindia Belanda pernah mengundang Miss Tjitjih unjuk kebolehannya di Istana Bogor pada 1931.

Pada 1936, terjadi kejadian tak terduga. Sang primadona terjatuh di atas panggungnya. Penyakit lama menggerogoti tubuhnya. Nyi Tjitjih yang sakit keras dibawa kembali ke kampung halamannya, Sumedang. Tak lama kemudian, ia pun meninggalkan dunia panggung dan kehidupan pada usia terbilang muda, 28 tahun. Sang suami dan pimpinan Miss Tjitjih terpaksa harus menahkodai sendiri tonilnya yang sedang naik daun. Perlawatan pertunjukan ke berbagai daerah di Jawa Barat terus dihadapinya sendiri hingga masa kemerdekaan dan tahun-tahun revolusi. Sistem bintang yang biasa dipakai telah hilang sepeninggal Nyi Tjitjih.

Sejak sang primadona tiada, Miss Tjitjih menjadi lebih terbuka kepada setiap pemain untuk dapat memainkan peran besar. Pada 1951, Miss Tjitjih menetap pada satu gedung. Gedung bekas pabrik limun seluas 0,5 hektar. Gedung itu beralamat di Jalan Kramat Raya, No. 43, Jakarta Pusat. Sejak menetap di gedung berdinding bambu dan beratap bilik, sandiwara sunda Miss Tjitjih menapaki zaman keemasannya. Sebab, setiap hari mereka manggung. Para penontonnya adalah orang-orang dari kampung-kampung di Jakarta dan kota satelit Bekasi, Bogor hingga Bandung. Walaupun sudah mempunyai gedung pertunjukan sendiri, Miss Tjitjih masih tetap menerima undangan manggung sesekali ke daerah-daerah di Jawa Barat.

Di masa-masa kejayaanya itu, Miss Tjitjih juga dianugerahi piagam Widjaja Koesoema dari Presiden Soekarno pada Perayaan Hari Kemerdekaan 17 Agustus 1962. Plus memperoleh uang sebesar Rp.50.000. Pada situasi dan kondisi saat itu, pemerintah memang sangat memperhatikan kesenian tradisi. Miss Tjitjih dinilai negara telah berjuang dan bertahan lama dalam menyiarkan cerita-cerita rakyat dan sejarah sunda dengan cara populer. Kerja budaya semacam ini mengandung unsur-unsur pendidikan praktis.  Selain menerima piagam dan uang, Miss Tjitjih juga diminta menampilkan satu pertunjukannya di hadapan Presiden di Istana. Sepanjang dekade 1960-an, Miss Tjitjih berjaya. Kejayaan ini tetiba terusik oleh kedukaan. Sang pendiri dan pimpinan utama Sandiwara Sunda ini meninggal dunia.

Pada 1970, Aboe Bakar Bafaqif wafat. Pasca ditinggal sang pendiri untuk selamanya, Miss Tjitjih mengalami kesurutan. Terjadi perpecahan di internal keluarga ahli waris yang berujung dijualnya gedung pertunjukan tetap Miss Tjitjih di Jalan Kramat Raya, No. 43. Satu anak Aboe Bakar Bafaqif yang memiliki darah seni yang kuat, Harun Bafaqih, merintis kembali sandiwara ini di gedung baru di jalan Stasiun Angke, No. 2, Jakarta Barat. Tidak sejaya dekade 1960-an, era tahun-tahun 70-an, masyarakat sudah banyak mengenal media hiburan lain seperti film dan televisi. Sandiwara Sunda Miss Tjitjih mesti bertahan hidup dengan bantuan-bantuan atau subsidi dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan-Pemerintah Daerah DKI Jakarta, mulai dari masa gubernur Ali Sadikin, Tjokropranolo hingga R. Suprapto. Pemerintah Daerah DKI juga mengusahakan agar Miss Tjitjih mendapatkan gedung pertunjukan yang lebih layak dengan mencari lokasi yang tepat. Akhirnya, diperoleh satu lahan dan dibangunlah gedung pertunjukan khusus bagi Sandiwara Sunda Miss Tjitjih. Gedung itu beralamat di Jalan Kabel Pendek, Kemayoran, Jakarta Pusat.

Kini, Miss Tjitjih masih berdiri. Panjang umurnya, 92 tahun. Tetap mempertahankan keciriannya yakni bersandiwara dengan bahasa sunda. Pada Pekan Kebudayaan Nasional 2020, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan merangkul Miss Tjitjih untuk berpartisipasi. Keterlibatan Miss Tjitjih dalam perhelatan budaya terbesar di Indonesia ini akan menambah luas pengetahuan publik tentang perkumpulan tonil ini. Apalagi dipertunjukan dalam jaringan daring. Penontonnya akan beragam dan luas, baik dari dalam negeri maupun luar negeri dapat menjadi saksi. Semoga wadah pergelaran dari PKN 2020 ini dapat menambah semangat kepada para pekerja budaya di dalam tubuh organisasi Miss Tjitjih untuk terus bertahan dan berkreasi seni.

survey