Rhoma Irama

Pada Mulanya Cuma Dangdut

Pasca transisi politik di pertengahan 1960-an, dunia musik Indonesia boleh dikata hanya menyisakan Koes Bersaudara—yang lantas berganti nama menjadi Koes Plus. Tidak lama setelah perubahan tersebut, kehidupan masyarakat berubah drastis; beberapa hal yang dulunya tidak mungkin hadir di Indonesia pun perlahan muncul kembali, termasuk musik Barat yang dulunya dilarang oleh Bung Karno pada masa pemerintahan Orde Lama.

Koes Plus kemudian tidak lagi sendirian. Grup band beraliran musik pop, semisal The Mecys, Favourite, Panbers yang hadir pada akhir 1960–1970-an bermunculan. Bukan hanya musik pop, genre rock juga pelan-pelan memiliki pendengannya sendiri di kalangan masyarakat. The Rollies asal Bandung menjadi grup yang mengawali kiprah musik rock di Indonesia, menyusul God Bless di awal 1970-an dengan vokalis Ahmad Albar.

Kehadiran musik pop dan rock memanglah mendominasi musik Indonesia waktu itu. Banyak penyanyi yang mencoba eksis dengan memainkan dua genre musik tersebut, tidak terkecuali Oma Irama, penyanyi kelahiran 11 Desember 1946 di Tasikmalaya, Jawa Barat. Oma Irama menjalani lika-liku sebagai penyanyi, termasuk pernah ikut lomba di Singapura, dan memenangkan lomba menyanyi dengan lagu Tom Jones berjudul I Who Have Nothing.

Oma Irama yang berusaha konsisten sebagai penyanyi agaknya lantas merasakan bahwa musik pop dan rock tidak serta merta memenuhi hasrat dari seluruh masyarakat yang ada. Apalagi pop dan rock seakan diminati hanya oleh kalangan tertentu; bahkan bisa dibilang cukup eksklusif pada masa itu. Kedua genre tersebut bukan musik yang digandrungi berbagai lapisan di masyarakat Indonesia. 

Tebersitlah ide Oma Irama menciptakan musik baru, paduan rock dan melayu yang mengelaborasi instrumen kendang dan seruling. Memetik inspirasi dari grup rock Deep Purple, Oma Irama membuat musik yang mengejutkan orang banyak. Inilah cikal bakal dangdut, yang sampai sekarang masih hidup dan digandrungi masyarakat kita.

Dangdut, tidak pelak, menjadikan dunia musik Indonesia lebih semarak dan Oma Irama seketika mengubah namanya jadi Rhoma Irama, mengacu pada sebutan Raden, gelar kebangsawanan yang disandangnya. Setelah berganti nama panggung, ia membentuk grup baru yang mengadaptasi istilah puisi dalam bahasa Italia, tidak lain dan tidak bukan, Soneta. Publik menyambut inovasinya secara gembira yang membuat hampir semua kalangan pendengar musik kala itu menerima dangdut sebagai musik yang mewakili rasa khalayak berbagai lapisan. 

Dalam proses bersama Soneta, Rhoma Irama sempat berduet dengan penyanyi wanita yang kondang Elvi Sukaesih, membawakan sederetan lagu di antaranya “Ke Monas, “Rujuk,” “Berbulan Madu,” “Asam Garam,” dan masih banyak lagi. Kehadiran pola bermusik itulah yang membuat sensasi tersendiri sebagai penyambutan, sehingga mereka boleh dibilang fenomenal. Setiap konser Soneta digelar, penonton selalu membludak!

Setelah duetnya dengan Elvi Sukaesih, Rhoma Irama pun manggung bersama Rita Sugiarto, seorang penyanyi dangdut asal Semarang. Bisa dibayangkan, duet ini tidak kalah dengan duet Rhoma–Elvi. Bahkan, lagu-lagu Rhoma–Rita melejit mencuri perhatian. Ketika Rhoma merambah dunia film, hampir semua lagu duetnya disisipkan ke tengah sekelumit adegannya. Cobalah tonton lagi film yang dibintangi Rhoma dan Yatie Octavia. Alih-alih mendengar sang aktris bernyanyi, yang Anda dengarkan adalah suara merdu Rita Sugiarto. Duet tersebut lantas berakhir lantaran Rita memilih bersolo karier. Membawakan lagu karangan Jacky, dirinya muncul dengan ragam dangdut yang lebih rancak dibandingkan lagu-lagu dangdut yang pernah diciptakan selama ini. 

Ya, Rhoma Irama tidak hanya dikenal sebagai penyanyi dangdut, tapi juga bintang film—yang judulnya biasa diambil dari judul-judul lagunya sendiri. Sebut saja Satria Bergitar, Begadang, Berkelana, atau Gitar Tua. Sama seperti genre dangdut yang diciptakannya, film-filmnya laris manis. Bioskop-bioskop selalu penuh dan penonton antre menyaksikan Rhoma Irama berlaga di layar. 

Walau merambah dunia film, Rhoma Irama tidak pernah meninggalkan dangdut. Dia  berusaha konsisten dengan musiknya, termasuk dengan grup musik Soneta yang senantiasa menyertainya saat pentas di berbagai kota. Sementara itu, dangdut kian lama mengalami perkembangan, ditandai munculnya nama-nama penyanyi kondang lainnya seperti A. Rafiq, Muchsin Alatas, Mansyur S., Meggy Z., serta artis-artis lainnya. Bahkan, ada pula nama-nama yang jauh lebih muda dan cukup dominan diisi oleh para penyanyi perempuan. Anda tentu masih akrab dengan nama-nama pasca Elvi Sukaesih dan Rita Sugiarto, di antaranya Ikke Nurjanah, Inul Daratista, Nita Thalia, sampai generasi paling anyar yang kini digandrungi kawula muda: Ayu Ting Ting, Via Vallen, dan Nella Kharisma. 

Kita seolah tidak akan pernah selesai membincangkan musik dangdut, apalagi saat genre musik ini secara lincah dikreasikan bersama langgam-langgam unik dari pantura, ala koplo, hingga berbagai model campursari dangdut. Bahkan sekarang, tidak jarang juga kita menemukan dangdut ala Jawa Timuran atau Banyuwangi, termasuk yang mengolah cengkok nyanyian ala tembang Jawa. Adakah ini melenceng dari “marwah” dangdut yang dahulu diciptakan Rhoma? Bisa ya, bisa juga tidak. Meskipun mengalami perubahan-perubahan dari sisi musikal, bukankah musik dangdut telah berhasil menjadi genre yang “merakyat,” suatu pengharapan yang mengalir dalam nadi sang Raja Dangdut? 

Bagaimanapun luasnya eksplorasi musik dangdut yang terjadi selama sekian kurun waktu ini, marilah kita nikmati sejenak penampilan Rhoma Irama dalam pagelaran Pekan Kebudayaan Nasional 2020. Bersama grup Soneta, Rhoma masih saja piawai menyanyi dan memainkan dawai gitar buntungnya yang ikonik. Tidak apalah, sekali ini kita bersama-sama sedikit bernostalgia mengenang musik dangdut yang kini telah berhasil menjadi musik yang dicintai berbagai kalangan dari aneka lapisan, bersama lagu-lagu dari Rhoma Irama. Mari kita dangdutan!

survey