Ras Muhamad

Subkultur Reggae dan Kesadaran Sejarah

Kali pertama mendengar reggae, Muhamad Egar bertanya kepada kakaknya, dalam bahasa apakah penyanyi yang sedang mereka dengarkan pada saat itu bernyanyi. Kakak dari pria kelahiran Jakarta, 29 Oktober 1982 tersebut kemudian mengatakan bahwa penyanyi yang sedang mereka dengar pada saat itu bernyanyi dalam bahasa Inggris. Bahasa Inggris itu sendiri bukanlah bahasa yang asing bagi Muhamad Egar, sebab ia telah tinggal di New York, Amerika Serikat, sejak 1993, ketika baru lulus Sekolah Dasar. Tapi, bahasa Inggris yang pada saat itu Muhamad Egar dengar sepertinya berbeda dari bahasa Inggris yang telah ia kenal. “Musik apa ini?” kata Muhamad Egar kemudian. “Ini musik Reggae,” kata kakaknya.

Reggae dipopulerkan oleh penyanyi asal Jamaika, Bob Marley, dan—sekalipun mungkin pada saat itu mereka tidak sedang mendengarkan Bob Marley—bahasa Inggris yang Muhamad Egar dengar dalam musik yang kakaknya putar adalah bahasa Inggris dalam aksen Jamaika. Seiring berjalannya waktu, Muhamad Egar pun jatuh cinta pada reggae hingga ia pun menjadi seniman reggae, seperti Bob Marley, dan mengubah namanya menjadi Ras Muhamad, lalu merilis album debutnya, Declaration Of Truths, ketika ia masih tinggal di Brooklyn, AS, pada 2005. “Ras” dalam namanya ia ambil dari bahasa Jamaika, yang berarti “Bung.” Album debut Ras Muhamad membuat pria berambut dreadlocks ini populer di tanah air sehingga perusahaan rekaman Aksara Records pun menawarkan diri untuk merilis album yang ia produksi secara independent tersebut di Indonesia. Tapi, atas satu dan lain hal, Ras Muhamad menahan perizinannya. Aksara Records baru berhasil mengontrak Ras Muhamad di album berikutnya, Reggae Ambassador, yang rilis dua tahun kemudian. Pada 2008, album tersebut pun menerima penghargaan dari Anugerah Musik Indonesia (AMI).

Meski tak pernah menjadi genre yang dominan, tapi reggae bukanlah aliran yang asing bagi penggemar musik di Indonesia. Pada awal 90-an, penyanyi asal Jakarta, Imanez, meluncurkan album debutnya, Anak Pantai. Album tersebut mempopulerkan single berjudul sama, “Anak Pantai,” yang kemudian mengidentikan aliran musik reggae dengan pantai. Musisi reggae lainnya yang juga populer pada masa itu adalah penyanyi kelahiran Semarang, Jawa Tengah, Tony Q. Bersama grup bandnya, Rastafara, pria bernama lahir Tony Waluyo Suryoasih itu telah merilis dua album, yaitu Rambut Gimbal (1996) dan Gue Falling In Love (1997), hingga kemudian memutuskan bersolo karir sampai sekarang. Lebih dari satu dekade kemudian, grup band Steven & Coconut Treez kembali mempopulerkan reggae di Indonesia melalui single hits mereka, “Welcome To My Paradise.” Pada 2000-an awal, kita bisa dengar single tersebut dimainkan oleh siapa pun dan dimanapun, dari band-band café hingga pengamen jalanan. Pada masa itulah musik Ras Muhamad datang ke tanah air dan memperkaya khazanah reggae Indonesia.

Reggae Ras Muhamad barangkali merupakan reggae yang paling sadar sejarah. Sebagai praktisi apropriasi kultural, Ras Muhamad sadar akan tanggung jawabnya untuk memperkenalkan kultur yang telah melambungkan namanya agar ia tak mengulang kesalahan Elvis Presley, yang tenar di masanya tapi kini dikenang oleh sebagian orang sebagai culture vulture karena dianggap hanya mengambil keuntungan dari rock & roll (kultur yang menghidupinya) tanpa memberikan kontribusi apa pun pada musik yang diciptakan oleh orang-orang Afrika-Amerika tersebut. Dalam salah satu lagunya, “Musik Reggae Ini,” Ras Muhamad menyampaikan bahwa reggae berasal dari Jamaika dan dipopulerkan oleh Bob Marley, tapi Bob Marley bukan satu-satunya musisi reggae, dan lewat lagu itu ia pun memperkenalkan musisi-musisi reggae lainnya, seperti Sizzla dan Tony Rebel, sekaligus mengingatkan kita, para pendengar musik Indonesia, pada sosok Tony Q, yang bisa dibilang sebagai musisi Indonesia pertama yang membawa masuk reggae ke tanah air. 

Pada 2013, setahun setelah merilis album ketiganya dan meraih penghargaan Indonesian Cutting Edge Music Award (ICEMA), Ras Muhamad meluncurkan buku yang berjudul sama dengan album ketiganya tersebut, yaitu Negeri Pelangi. Dalam buku tersebut, ia menulis perjalanannya ke Ethiopia, yang oleh kaum Rastafari disebut sebagai Zion, atau tanah yang dijanjikan. Buku Negeri Pelangi adalah sumbangsih Ras Muhamad pada kaum Rastafari. Pada tahun yang sama, ia pun merilis album studionya yang keempat dan kembali meraih penghargaan dari AMI. Dalam album keempatnya tersebut, Ras Muhamad berkolaborasi bersama duo Endah ‘n Rhesa pada single “Berjaya.”

Ras Muhamad hadir menyapa kita semua dalam konser virtual Pekan Kebudayaan Nasional (PKN) 2020. Tetap di rumah dan saksikan penampilan Ras Muhamad, serta program-program lainnya PKN 2020 lainnya.

survey