Potensi Ekonomi Berbasis Kebudayaan

Pembicara & Moderator:

Cokorda Istri Dewi (SKM Kemenparekraf 2011-2014)

Antara Nilai Budaya dan Nilai Ekonomi

Di masa depan, tidak ada lagi pekerjaan yang dilakukan umat manusia, selain melakukan aktivitas dasarnya: Makan, minum, tidur, dan buang air. Bahkan para manusia tinggal dalam sebuah tabung dan hanya perlu duduk-duduk melakukan semua kegiatan purba tersebut. Tidak perlu buang-buang waktu dan tenaga pindah dari satu tempat ke tempat lain. Karena di masa depan, semua pekerjaan dan pemenuh kebutuhan manusia telah digantikan mesin, untuk membersihkan ingusnya sendiri sekalipun. Dalam film animasi berjudul Wall E yang memperoleh Best Animation dari Academy Award, semua manusia digambarkan kelebihan berat badan, pemalas, dan selalu mengantuk. 

Terlepas dari kekuatan audio-visual dan isu lingkungan yang diketengahkannya, Wall E mengabaikan satu elemen penting yang niscaya terintegrasi dalam diri manusia, yakni kreativitas. Benarkah ketika mesin, robot, atau teknologi mengambil alih hampir semua lini pekerjaan, manusia kehilangan aspek-aspek dasar dalam dirinya seperti kreativitas? Dalam pengertian luas, kreativitas bukan sekadar ide artistik yang berkait dengan keindahan belaka, namun seperti yang dinyatakan Professor Margaret Boden dari University of Sussex, kreativitas adalah karakteristik fundamental intelegensi manusia secara umum. Ia menjadi basis yang kita gunakan dalam aktivitas keseharian yang bertaut dengan ide, ingatan, persepsi, berpikir analogis, membaca struktur persoalan, dan berefleksi.

Tidak perlu repot-repot menunggu masa depan, saat ini pun ada begitu banyak jenis pekerjaan yang pada tahun-tahun sebelumnya dilakukan manusia, telah diambil alih oleh teknologi mesin. Kita tidak butuh lagi ratusan orang dengan badan kekar untuk menarik kapal atau mengangkat batu material bangunan. Sudah ada berbagai jenis alat berat yang sanggup mengupayakannya. Kita hanya perlu duduk di mesin kemudi sambil menekan-nekan tombol. Kita juga tidak perlu lagi membelek perut manusia hanya untuk mengetahui di bagian organ mana penyakit bersarang. Sudah ada teknologi yang bisa memindai bahkan sampai tulang sumsum kita. 

Apakah hal tersebut menandai penurunan daya kreatif manusia? Tentu saja tidak. Kreativitas manusia justru senantiasa mencari medium baru untuk terus berekspresi. Atau seperti yang disampaikan Cokorda Istri Dewi dalam konferensi bertajuk “Potensi Ekonomi Berbasis Kebudayaan” di Pekan Kebudayaan Nasional (PKN) 2020, kreativitas menjadi akar dari kebudayaan. Perbedaan kebudayaan dari masa ke masa, antara satu tempat dan lain tempat, bergantung pada bagaimana kreativitas manusia bekerja untuk menyelesaikan atau menjalankan kehidupannya setiap hari.  

Apabila pada masa awal industrialisasi, kreativitas manusia terkonsentrasi pada apa yang kita kenal dengan istilah seni murni, sebab antara kreativitas dan pekerjaan industrial lain dipisahkan sedemikian rupa, maka hari ini kreativitas manusia justru menjadi salah satu industri tersendiri. Namun, bukan berarti praktek kesenian di masa lalu tidak mempunyai nilai-nilai industrialnya. Meskipun banyak para pekerja seni, dari dulu sampai sekarang, yang tidak ingin teater, tari, sastra, atau lukisannya dilabeli sebagai produk industri. Faktanya, seperti yang dinyatakan dalam artikel di situs britishcouncil.org, aktivitas tersebut tetap mendatangkan keuntungan yang tidak sedikit di banyak negara dan banyak orang yang menggantungkan hidup di bawahnya. 

Saat ini ada begitu banyak orang yang juga menggunakan kreativitas dalam bekerja, kendati di lain sisi tetap menempatkannya dalam konteks industri. Untuk mengakomodir itulah, selama 20 tahun belakang, istilah ekonomi kreatif digunakan. Selain menggarap sejumlah kerja yang berakar dari jenis-jenis kesenian yang telah ada sebelumnya berupa seni pertunjukan, lukis, dan sastra tersebut, juga terdapat produk-produk kreatif baru yang muncul seiring dengan keberadaan istilah ini seperti desain grafis, aplikasi, film, animasi, fotografi, kuliner, fesyen, arsitektur, dan lain sebagainya. Ya, dalam konteks ekonomi kreatif tidak ada lagi pemisahan tegas antara seni murni dengan seni terapan. 

Lebih luwes ketimbang dikotomi seni murni dengan seni terapan, seni tinggi dengan seni populer, atau seni manual dengan seni digital, ekonomi kreatif menurut Cokorda Istri Dewi dalam konferensi PKN 2020 ini adalah ekonomi yang berbasis pada ide, kreativitas sumber daya manusia, pengetahuan sebagai input, dan termasuk juga seni-budaya, dan yang terpenting ekonomi kreatif tidak bisa dilihat secara sektoral, ia kait-mengait dengan industri lainnya. Ambil saja contoh desain grafis, kata Cokorda, yang bisa dipakai industri pertanian, transportasi, dan lain sebagainya. Begitupun aplikasi, yang bisa diterapkan dalam industri pendidikan, garmen, dan lain-lain.

Sepuluh tahun berkiprah atau bahkan ikut merumuskan dunia industri kreatif di Indonesia, Cokorda Istri Dewi memaparkan meskipun dilabeli industri, bukan berarti sektor-sektor dalam industri kreatif tidak memiliki nilai-nilai yang mampu membuat kehidupan masyarakat lebih baik. Selain mampu memperluas distribusi produk kreatif, meningkatkan kesejahteraan pekerja kreatif, dan dampak-dampak ekonomi lainnya, ekonomi kreatif juga tidak mengabaikan nilai-nilai yang telah tertanam dalam masyarakat tempat ia bertumbuh. Sejauh pengalaman Cokorda, kerja-kerja ekonomi kreatif masih memberdayakan sistem komunitas, keguyuban, dan nilai-nilai kultural lain. 

Dari penuturan Cokorda Istri Dewi, kita bisa memperoleh pemahaman bahwa alih-alih merusak kebudayaan tradisional seperti yang dikeluhkan banyak orang, ekonomi kreatif justru membuat kebudayaan kita tumbuh dan memiliki warna, rasa, dan tekstur yang baru. Dengan berpijak pada humanisme, keberlanjutan lingkungan hidup, kearifan lokal, nilai-nilai sosial, dan model-model kerja dalam ekonomi kreatif bisa diterapkan dalam banyak industri sehingga tidak tertutup kemungkinan inilah yang akan menjadi model industri masa depan.

survey