Philippine National Commission for Culture and the Arts — Sentro Rizal, Embassy of the Republic of the Philippines, Jakarta

Serumpun Negeri Kepulauan

Indonesia dan Filipina adalah sama-sama negeri kepulauan di Asia Tenggara. Tanah dan air kedua negara ini pada masa klasik masih dalam cakupan Nusantara. Bacalah kembali Kakawin Negarakertagama dari Majapahit, kita akan mengetahui persebaran warisan budaya dari Tanah Jawa ke negeri-negeri seberang termasuk Mindanao. Salah satu warisan budaya Majapahit yang masih lestari di Filipina adalah seni beladiri silat Kali Majapahit. Bahkan, silat kuno tersebut menjadi bahan ajar beladiri bagi militer dan kepolisian Filipina. 

Seringkali apabila ada warga negara Indonesia sedang berwisata ke Manila atau sebaliknya, warga setempat akan terkecoh. Tidak mengetahui mereka di sini atau kita di sana adalah orang asing. Pasalnya, secara morfologis wajah dan perawakan kedua warga negara ini mirip. Ketika diajak berbicara, barulah terbongkar asal-usulnya. Inilah bukti nenek moyang orang Indonesia dan Filipina telah berabad-abad menjalin komunikasi, melawat, berkawin-mawin dalam arus sejarah pelayaran dan perdagangan di Nusantara prakolonial.

Fakta sejarah membuktikan, ada seorang penguasa atau saudagar dari Minangkabau yang pernah menjadi pembesar di Manila pada awal abad ke-16. Raja Sulaeman namanya. Ia dikenal sebagai peletak dasar berdirinya kota Manila. Ia adalah pemimpin muslim. Maka tidak heran, penamaan kota Manila berasal dari kata fi’ amanillah, berarti di bawah lindungan Allah. Demi mengenang peran beliau, dibuatlah patung figur Raja Sulaeman di Rizal Park, di pusat kota Manila. Itulah salah satu bukti hubungan terbaik tanah air Indonesia dengan Filipina. 

Perjumpaan intensif dan sangat lama sejak masa sebelum datangnya bangsa Spanyol membuat hubungan antara rakyat Filipina dan Indonesia memiliki banyak persamaan sosial-budaya. Terutama, kehidupan sosial-budaya orang-orang Filipina bagian selatan dengan suku-suku bangsa dari Sulawesi (terutama bagian utara), Indonesia bagian timur. Kedua wilayah tersebut disatukan melalui Laut Sulawesi. Wujudnya tampak pada budaya seni pertunjukan, bahasa, kuliner hingga kerajinan tangan dan pakaiannya. 

Kemudian, pada masa pascakolonial, kala Negeri Filipina diakui kemerdekaannya oleh Amerika Serikat pada 4 Juli 1946, Filipina mendirikan kantor konsulatnya di Jakarta pada 24 November 1949, di Jalan Imam Bonjol, Jakarta. Artinya, sudah 71 tahun perhubungan diplomasi Indonesia-Filipina mengarungi persahabatannya dalam bidang ekonomi, politik, dan budaya. Perjalanan ikatan bilateral ini berlangsung hangat dan solid. Bahkan, kedua negara menjadi pelopor berdirinya ASEAN, sama-sama negara Non-Blok, serta terlibat dalam APEC.

Demi menambah erat tali persahabatan budaya antara kedua negara, melalui Pekan Kebudayaan Nasional (PKN) 2020, Indonesia mengulurkan tangan kepada Filipina untuk ikut berperan bahagia dalam berkebudayaan melalui wadah pergelaran seni pertunjukan. Uluran tangan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI dibalas jabatan hangat dari Kedutaan Besar Filipina. Melalui Sentro Rizal Jakarta (pusat seni-budaya dan bahasa Filipina di Jakarta) dan di bawah arahan Komisi Nasional untuk Budaya dan Seni di Filipina, undangan apresiasi budaya ini disambut baik. Pada kesempatan berharga PKN 2020, Filipina akan menyuguhkan tiga penampilan seni pertunjukan tradisinya dan dua video dokumenter mengenai upaya-upaya melestarikan kesenian tradisional di dalam negeri Filipina dewasa ini.

Pada penampilan seni pertunjukan, Filipina menghadirkan The Ramon Obusan Folkloric Group. Grup tersebut telah berdiri sejak 1972 dengan tujuan utamanya, yaitu melestarikan seni tradisi musik, tari dan teater rakyat khas Filipina. Penampilan pertama mereka adalah sebuah tarian berjudul Pangalay sa Agung. Gerakan demi gerakan tarian ini begitu lembut nan indah. Koreografinya mengumpamakan pergumulan ombak dengan burung laut yang beterbangan di atasnya. Pergumulan yang mengisyaratkan hubungan harmonis antara makhluk dan alam. Sepasang penari meliuk-liuk dalam kemesraan dengan iringan alat musik pukul berbahan logam serupa kenong, gambang dan gong di Tanah Jawa. Penampilan kedua adalah tarian berjudul Kapa Malong-Malong. Penarinya terdiri dari dua gadis muda yang sedang mengenakan sarung dan mengeksplorasinya dengan iringan gendang yang dipukul kayu dan sahutan alat musik tiup harmonika sehingga membuat suasana menjadi santai. Penampil terakhir, seorang pria yang bermain semacam teknik pertunjukan monolog dengan dihiasi tarian perang. 

Suguhan pamungkasnya adalah dua video dokumenter yang dibuat atas prakarsa Komisi Nasional untuk Budaya dan Seni, Republik Filipina. Dua video tersebut menampilkan kerja dan usaha pemerintah Filipina dalam melestarikan seni tradisi melalui program Sekolah Kelestarian Tradisi sebagai pendidikan informal dalam bidang seni dirintis pada 2016. Dua lokasi sekolah yang diulas menampilkan para narasumber yang merupakan maestro-maestro di bidang seni tradisi setempat. Pertama, sekolah yang berlokasi di Pulau Balut, tempat berseminya budaya suku Blaan dan Sangir. Kedua, yaitu Sekolah Kelestarian Tradisi tingkat lanjut yang berlokasi di  kawasan komunitas adat Panay Bukidnon di kotamadya Calinog, provinsi Iloilo, Filipina. 

Selamat menikmati pertunjukan dan dokumentasi seni tradisi Filipina. Marilah kita menambah wawasan atas budaya bangsa serumpun. Saksikanlah, hanya di PKN 2020!

survey