Perumusan Konferensi

Mewujudkan Ketahanan Bangsa melalui Budaya

Seluruh sesi konferensi yang tayang selama agenda Pekan Kebudayaan Nasional 2020 adalah refleksi kita secara kolektif memahami, mengalami, dan membayangkan kebudayaan Indonesia kontemporer. Melalui refleksi itulah kita membangun kultur dari tutur, suatu musyawarah bersama seluruh masyarakat yang kemudian terwujud dalam praktik gotong royong yang luhur. Setelah lebih kurang satu bulan penuh terselenggara sebagai wadah penghargaan atas upaya pemajuan kebudayaan, dalam sesi pamungkas ini kita mendengar rumusan yang disarikan dari musyawarah, diskusi, pidato, dan perdebatan para narasumber pada masing-masing sesi, dari berbagai bidang dan daerah. Rumusan yang berupa strategi bersama memulihkan relasi sosial dan relasi dengan alam demi mengembalikan tuah dari falsafah “belajar dari alam.”

Sesi perumusan konferensi dibuka oleh Drs. Fitra Arda, M.Hum., selaku Koordinator Program Konferensi. Indonesia bahagia berlandaskan keberagaman budaya, kata Fitra Arda, hanya bisa terwujud jika semua masyarakat menyadari inklusivitas kebudayaan di negeri ini. Bahwa tidak ada kebudayaan yang benar-benar Indonesia, juga tidak ada yang benar-benar asing. Indonesia berarti semua yang berjalin-kelindan membentuk kebudayaan di negeri ini. Inklusivitas khas Indonesia tersebut yang menjadi dasar perancangan setiap sesi konferensi, mulai dari topik ketahanan lingkungan, ketahanan pangan, ketahanan budaya, ketahanan ekonomi, hingga ketahanan jiwa raga.

Ketahanan, disampaikan Fitra Arda lebih lanjut, adalah daya hidup suatu bangsa dalam mengupayakan kelangsungannya di tengah pergaulan dunia. Ketahanan bukanlah konsepsi defensif, melainkan inisiasi untuk mempertautkan diri kepada dunia yang lebih luas dan menemukan relevansi dari apa yang kita miliki untuk berhadapan dengan situasi masa kini. Konsepsi ketahanan tersebut juga merupakan sikap bersama yang patut kita terapkan saat dunia dilanda pandemi Covid-19. Sebuah kondisi yang membuat kita sadar betapa pentingnya merenung lelaku hidup kita selama ini dan bahwa pembangunan dan ekonomi yang kita agungkan mengabaikan integrasi sosial dan hubungan manusia dengan alam.

Apa yang disampaikan Fitra Arda tersebut kemudian juga menjadi latar belakang maklumat konferensi Kebudayaan Nasional 2020 yang diutarakan oleh Noer Fauzi Rachman, aktivis lingkungan dan pengajar psikologi komunitas, mewakili tim perumus lain. Di samping itu, selain persoalan pandemi, latar belakang yang menjadi dasar pelbagai rumusan topik dalam konferensi adalah berkenaan dengan dampak dan pengaruh atas kemajuan teknologi digital terhadap kehidupan kita. Budaya layar dan ruang virtual ini, yang diatur oleh algoritma tertutup, berperan sebagai pembentuk identitas kolektif yang paling berpengaruh saat ini. 

Perpaduan antara kegamangan dan kecemasan yang ditimbulkan Covid-19 dengan kemunculan budaya layar telah menghasilkan suatu fenomena baru yang belum pernah ada presedennya sepanjang sejarah. Seperti dinyatakan Noer Fauzi Rachman, untuk pertama kalinya umat manusia bergegas saling berpegang tangan, menjangkau, menyelamatkan kehidupan, menakar risiko, dan menghitung harapan. Dalam lapisan masyarakat kini, semua pihak sedang mencari solusi bersama. Di tengah suasana batin ini, rangkaian sesi konferensi diselenggarakan untuk mencari titik temu dan merumuskan serat kesadaran (mindscape) yang berhubungan satu sama lain, membentuk lima benih kesadaran baru.

Kesadaran pertama, pandangan dunia dan bangkitnya akal-budi. Hal ini terkait lelaku “kewajaran baru” yang membutuhkan moralitas, pola ajar, dan panduan yang tentunya baru. Kesadaran kedua, tubuh alam dan jaringan keadaan. Kearifan tradisi mengajarkan bahwa pengalaman mengalami alam merupakan cara bereksistensi di dunia. Merawat alam berarti meruwat tubuh masyarakat, memulihkan relasi dengan keberadaannya. Kesadaran ketiga, ekonomi perawatan kehidupan. Pelbagai skema ekonomi sirkular yang bersifat organik dan berkelanjutan harus dikembangkan bersama skema ekonomi pengetahuan yang bersandar pada jaringan kreatif koperasi rakyat di tingkat kampung, desa, sampai kota. 

Kesadaran keempat, politik makanan dan selera. Revolusi kuliner saat ini menjamah seluruh nusantara, sesungguhnya dibayangi oleh kemegahan leluhur yang dirintis melalui jalur rempah. Politik “rasa” menjadi langgam baru dalam identitas antar bangsa. Kesadaran kelima, bangunlah jiwanya bangunlah badannya. Dalam jiwa yang sehat dan badan yang bugar lah terletak ketahanan bangsa. Dengan demikian, “marilah kota mendoa” adalah kalimat aktif dan mencerminkan tindakan. Doa berarti tindakan kreatif, berdaya cipta, peduli, bela rasa, perhatian, dan membangun ikatin batin. Doa adalah penanda untuk saling menggotong dan meroyong. Doa adalah praktik budaya gotong-royong.  

Setelah pembacaan maklumat tersebut, sesi ini kemudian ditutup oleh pembacaan sepuluh rekomendasi dan sikap budaya oleh L. G. Saraswati Putri, seorang aktivis dan dosen filsafat Universitas Indonesia. Sebuah sikap yang disarikan dari puluhan percakapan tutur, berbagi pengalaman dalam tindak budaya, dan refleksi kearifan tradisi luhur yang terentang selama konferensi Pekan Kebudayaan Nasional 2020 berlangsung. 

Pertama, sikap budaya yang responsif, aktif, peduli, dan berorientasi pemuliaan kehidupan menjadi landasan kewajaran baru. Kedua, keselarasan antara diri dan masyarakat, antara alam dan kalam, antara sekala dan niskala, menjadi nafas perkembangan keadaban. Ketiga, kemandirian menjadi cara sekaligus sasaran melakukan tindak budaya. Keempat, kultur dan tutur, tanah dan air, merupakan modal dasar ekonomi kehidupan. Kelima, menghidupkan gotong-royong sebagai model dan metode pemulihan kolektif. Keenam, menyusun peta jalan kebijakan pangan sebagai alur utama strategi kebudayaan. Ketujuh, berbagai rintisan kebudayaan kaum muda yang menjalar serentak dalam pemberontakan kreatif, menjadi kompas dan jejak masa depan. Kedelapan, mendorong semaraknya kewirausahaan sosial dan wira-budaya sebagai pilihan karier dan profesi, membangun platform bagi industri kreatif dan ekonomi kehidupan. Kesembilan, dibutuhkan kebijakan komprehensif dan epistemologi ekologi budaya yang memperantarai budaya kota dan desa. Kesepuluh, merekomendasikan pemerintah untuk menjalankan pengelolaan kebudayaan dan lingkungan dalam satu kebijakan yang terpadu.

Demikianlah 23 sesi konferensi Pekan Kebudayaan Nasional 2020 berlangsung selama satu bulan dengan melibatkan 59 narasumber. Semoga kita, selaku penonton dan pendengar yang budiman, dapat menjadikan rekomendasi dan sikap budaya yang disarikan dari lima rumpun isu yang diketengahkan konferensi tersebut sebagai pedoman bersama demi terwujudnya kehidupan yang lebih baik di masa mendatang demi tercapainya kebahagiaan seluruh masyarakat Indonesia. Semoga!

survey