Pemulihan Lewat Kebudayaan

Pembicara & Moderator:

Rachel Amanda (Aktris)
Adjie Santosoputro (Praktisi Mindfulness)
Mia Maria (Seniman dan Kurator)

Seni sebagai Medium Penyembuhan

Dalam jurnal Frontiers of Psychology, sekelompok psikolog dari UK’s Bangor University pernah mempublikasikan hasil temuannya tentang hubungan puisi dengan saraf manusia. Dengan menggunakan alat FMRI (functional magnetic resonance imaging), mereka amati pergerakan otak manusia yang langsung teraktivasi untuk mengenali rima dan ritme yang terdapat pada puisi, lalu membedakannya dari bahasa percakapan yang prosaik. Mereka juga menemukan imaji dan lapis pemaknaan pada puisi mampu mengaktivasi area spesifik pada otak, yang berfungsi sama ketika manusia menginterpretasikan realitas sehari-harinya. 

Menurut salah seorang peneliti tersebut, Profesor Guillaume Thierry, ‘Puisi adalah intuisi dasar manusia, setiap kita secara tidak sadar adalah seorang penyair.’ Oleh karena itu, sangat perlu bagi manusia terus berlatih membaca dan memahami puisi, tidak hanya berguna untuk meningkatkan kualitas emosi, tapi juga membuat kita mampu berpikir secara fleksibel, membantu kita menghadapi peristiwa tidak terduga, serta berdampak pada pilihan yang kita ambil dalam rutinitas hidup. Penelitian berbasis neurologi tersebut melanjutkan berbagai pandangan tentang hubungan seni dengan psikologi yang telah diteroka banyak ahli sejak zaman dahulu, dan secara spesifik seni diterapkan sebagai medium terapi.

Dalam salah satu sesi konferensi Pekan Kebudayaan Nasional (PKN) 2020 bertajuk “Pemulihan Lewat Kebudayaan,” kita juga akan mendengar pengalaman Rachel Amanda, Adji Santosoputro, dan Mia Maria tentang kerja-kerja kebudayaan yang mereka lakukan serta kaitannya dengan kesehatan psikologi masing-masing. Ketiga narasumber menempatkan aktivitasnya masing-masing di dalam bidang budaya, tidak hanya sebagai salah satu medium untuk penyembuhan jiwanya, bahkan untuk memahami lebih mendalam tentang struktur berpikir dan indra perasa manusia. 

Rachel Amanda, aktris yang merintis karier keaktorannya sejak belia, membagikan pengalaman personalnya dalam mempertautkan antara aktivitas seni peran dan pendidikan psikologi yang ia peroleh di tingkat perguruan tinggi. Dulu, ketika masih berusia 13 tahun, ia ternyata hanya menjalankan apa-apa saja yang tertera dalam naskah sinetron yang ia lakoni tanpa terlalu paham apa yang ia peroleh, selain tekanan pekerjaan karena terlalu sering diminta memainkan adegan menangis, ia tidak mengerti mengapa begitu banyak orang yang menyukai adegan kesedihannya di sinetron tersebut. 

Barulah kemudian, ketika Rachel mencerap pengertian bahwa setiap manusia adalah entitas yang berbeda-beda satu dengan yang lain, dipengaruhi oleh latar belakang budaya, sosial, dan keluarga yang beragam. Perlahan-lahan ia mulai memahami hubungan dunia seni peran yang ditekuni sejak dulu dengan kejiwaan manusia yang dipelajarinya. Bermain peran, bagi Rachel Amanda saat ini, tidaklah lagi sebatas menjalankan adegan yang diminta oleh sutradara atau tertera pada skenario, kendati upaya untuk lebih memahami seluk-beluk sifat, sikap, dan karakter manusia, lantas pada gilirannya berempati pada setiap gejala psikis yang ditampakkan oleh orang lain, sekecil apapun itu.

Terlebih pada era digital, persoalan psikis yang dialami manusia semakin meningkat dan kompleks akibat mesti mengikuti kecepatan yang ditawarkan dan diakomodasi oleh teknologi. Dua ilmuwan psikologi, Dr. Gini Harrison dan Dr. Mathijs Lucassen, menulis artikel hasil penelitian berjudul The Dark Side of Technology, yang menunjukkan pengonsumsi media sosial yang terlalu intens berdampak pada stres dan kegelisahan seperti gangguan pikiran berkelanjutan, tidur yang tidak terjadwal, pekerjaan dan aktivitas lain yang tidak seimbang, takut jika tidak mengikuti informasi terbaru, dan lain sebagainya. Oleh sebab itu, dalam sesi konferensi inilah Adji Santosoputro turut berbagi tentang pengalamannya selaku praktisi mindfulness.

Perasaan tidak pernah nyaman yang kita alami sebagai pengguna media sosial, selalu ingin melihat notifikasi, selalu ingin tahu hal-hal yang trending, selalu merasa sibuk atau tergesa-gesa, dan lain sebagainya itu lama-kelamaan akan merusak batin kita. Menyikapi situasi tersebut, Adji Santosoputro berpandangan bahwa untuk mengendalikan pikiran yang selalu dihantui ketakutan dan kegelisahan, baik dari pengalaman masa lalu maupun dari bayangan masa mendatang, kita perlu melatih diri agar tubuh dan pikiran bisa sadar serta berada secara penuh “di sini” dan “saat ini.” Bagi para pelaku seni, kesadaran diri itulah—yang diistilahkan mindfulness—sangat penting agar karya yang diciptakan tidak berdasarkan pada kemarahan sehingga berdampak baik kepada khalayak luas.

Sementara itu, Mia Maria yang kini bekerja selaku kurator Pasar Seni Ancol, turut menyampaikan persoalan jiwa yang kita alami selama pandemi 2020 dan pemulihannya melalui karya seni. Sudah hampir satu tahun penuh, semua orang di hampir seluruh dunia mengidap persoalan psikis yang identik, yaitu kecemasan dan ketakutan akan kesehatan, ekonomi, tercerabut dari akar kebersamaan, serta menimbang-nimbang pola baru dalam mengkonsumsi. Dalam konteks pemulihan bersama yang kritis ini, Mia Maria melihat peran seni bukan hiburan belaka, tetapi sebagai pilihan alternatif untuk menguatkan akar identitas diri. Sebab akar identitas diri yang kuat menjadi jaminan rasa aman dan kekuatan mental.

Pemahaman tentang akar identitas diri diperoleh Mia Maria dari pengalamannya sebagai etnis Cina yang minoritas di Indonesia dan berbagai literasi serta penelitian yang ia akses. Salah satunya, ia mempresentasikan hasil riset yang menyebut salah satu faktor penyebab tingginya tingkat bunuh diri para remaja penduduk suku asli di Australia dan Kanada, lantaran mereka terjebak antara dua dunia: Dunia para leluhur dan dunia yang dikonstruksi kolonialisme. Lebih lanjut menurut hasil penelitian tersebut, secara kontras, di antara kelompok penduduk asli yang masih menjaga hubungan dengan tradisi leluhurnya, angka kasus bunuh diri remajanya sangatlah rendah.

Dari paparan tiga narasumber dalam sesi “Pemulihan Lewat Kebudayaan”, kita jadi tersadarkan bahwa praktik-praktik seni berkorelasi erat dengan psikis manusia, baik para khalayak penikmat seni yang mengalami kesenian, maupun pelaku seni itu sendiri. Terlebih ketika ketergantungan kita pada teknologi digital semakin meningkat pada saat pandemi ini, kesenian bisa menjadi sarana bagi kita untuk menjaga kesehatan mental bersama.

survey