Padi Reborn

Sobat Kita Dua Dekade

Jika ada band yang tidak pernah berganti personel sejak hari mereka berdiri, maka band itu adalah Padi—yang kini bernama, Padi Reborn. Sudah lebih dari dua dekade, mereka menjadi “Sang Penghibur” seperti salah satu judul lagunya. Band yang berasal dari Surabaya, Jawa Timur ini digawangi Fadli (vokal), Piyu (gitar), Ari (gitar), Rindra (bass) dan Yoyo (drum) layak menyandang gelar sebagai band Indonesia paling solid. Setahun setelah merilis hits single “Sobat,” dalam album kompilasi Indie Ten pada 1998, Padi Reborn yang masih bernama Padi, langsung merajai industri musik Indonesia dengan album debut mereka, Lain Dunia.

Lain Dunia dirilis pada 1999, dengan empat single: “Sudahlah,” “Seperti Kekasihku,” “Begitu Indah” dan “Mahadewi.” Keempat single tersebut berhasil membawa Padi sebagai band papan atas di tanah air pada akhir 1990-an. Hentakan drum Yoyo yang mengantar melodi gitar elektrik Ari dalam intro “Mahadewi” menjadi semacam signature musik Padi. Gitaris yang bernama panjang Ari Tri Sosianto tersebut tidak hanya mahir mengulik melodi, melainkan juga riff gitar, yang mudah diingat telinga para pendengar musik di Indonesia. 

Sampai sekarang, siapa pun yang pernah mendengar Lain Dunia, 21 tahun lalu, pasti akan langsung mengenali riff gitar yang untuk mengantar melodi gitar elektrik Piyu dalam “Begitu Indah.” Sementara itu, Piyu adalah perangkai utama pada setiap lirik dalam lagu-lagu Padi (Reborn). Pria yang lahir di Surabaya, 15 Juli 1973 tersebut mampu membuat lirik tentang orang ketiga seperti “Sobat,” yang terdengar sama puitisnya dengan lirik lagu yang menceritakan tentang perasaan cinta yang lebih bersifat spiritual seperti “Mahadewi.” 

Sebagai band pendatang baru yang naik daun, Padi (Reborn) tidak mengecewakan para pendengar musik di tanah air ketika meluncurkan album kedua mereka, Sesuatu Yang Tertunda, pada 2001. Sebagai salah satu album rock terlaris pada masa itu, Sesuatu Yang Tertunda berhasil membuktikan bahwa band yang dibentuk oleh anak-anak Universitas Airlangga, Surabaya, ini memang pantas berada di posisi papan atas. 

Sesuatu Yang Tertunda dibuka oleh sebuah lagu yang intensitas kegarangannya naik secara perlahan, yaitu “Bayangkanlah,” dan ditutup dengan lembut oleh lagu yang diiringi petikan harpa, “Kasih Tak Sampai.” Popularitas “Kasih Tak Sampai” ikut membawa popularitas Maya Hasan, pemain harpa yang mengisi lagu tersebut. Pada 2007, majalah Rolling Stones Indonesia (RSI) pun menempatkan Sesuatu Yang Tertunda di peringkat ke-55 dalam daftar 150 Album Indonesia Terbaik.

Dalam Sesuatu Yang Tertunda, Padi (Reborn) membuat sebuah lagu yang berjudul sama dengan album pertama mereka, yaitu Lain Dunia sehingga judul album mereka pun mulai dikenal publik sebagai semacam pengantar bagi lagu-lagu yang tercipta selanjutnya. Terbukti, dalam album ketiga mereka, Save My Soul, ada satu lagu berjudul “Sesuatu Yang Tertunda.” Dalam lagu tersebut, Padi (Reborn) berkolaborasi dengan salah satu penyanyi legendaris tanah air, Iwan Fals. Lagu “Sesuatu Yang Tertunda” dibuka dengan suara Iwan Fals beriringan aransemen balada dari gitar akustik dan seperangkat perkusi seperti bongo dan tambur. Seandainya suara Fadli tidak masuk sebagai latar suara Bang Iwan di paruh kedua, lagu tersebut bisa jadi kita tidak akan bisa mengenali lagu itu sebagai lagu Padi (Reborn). Save My Soul dirilis pada 2003 sebagai buah dari penjelajahan bermusik yang matang bagi Fadli, Piyu, Ari, Rindra dan Yoyo. Eksplorasi mereka di album ketiga mendapat sambutan positif dari publik. Save My Soul pun menduduki peringkat ke-110 dalam daftar 150 Album Indonesia Terbaik rilisan majalah RSI.

Pada 2005, Padi (Reborn) merilis album keempat yang berjudul sama dengan nama awal band mereka, Padi. Album tersebut menjagokan single “Menanti Sebuah Jawaban” yang merupakan lagu pengiring Ungu Violet, film arahan sutradara asal Magelang, Jawa Tengah, Rako Prijanto, yang dibintangi Dian Sastrowardoyo dan Rizky Hanggono. Dalam “Menanti Sebuah Jawaban,” Padi (Reborn) kembali ke warna musik yang telah publik kenali sebelum mereka merilis Save My Soul. Hentakan drum Yoyo pada bagian awal dan riff gitar elektrik Ari pada bagian reff sudah pasti terdengar familiar di telinga Sobat Padi (nama fans Padi), ditambah dengan permainan gitar elektrik Piyu, yang mengawali melodinya dengan petikan jazzy, tanpa distorsi, sebelum kemudian menghentak dengan bunyi distorsi gitar elektrik yang meraung-raung, akan langsung mengingatkan kita pada lagu “Seperti Kekasihku.” 

Padi (Reborn) merilis album kelima mereka, Tak Hanya Diam, pada 2007. Album ini mengandalkan lagu “Sang Penghibur” sebagai single mereka. Empat tahun kemudian, Padi (Reborn) merilis dua CD yang berisi lagu-lagu mereka yang pernah berseliweran baik di stasiun radio maupun televisi, dengan dua tambahan lagu baru, yaitu “Terbakar Cemburu” dan “Tempat Terakhir.” Delapan tahun kemudian, setelah Padi menjadi Padi Reborn, mereka pun merilis album yang benar-benar baru, yaitu Indera Keenam. Padi menambah kata “Reborn” karena ingin melahirkan kembali semangat muda mereka. Semangat yang bisa menjangkau pendengar generasi muda, menemani Sobat Padi yang mengenalnya sejak dua dekade lalu.

Dalam Pekan Kebudayaan Nasional (PKN) 2020, Padi Reborn tampil secara virtual sebagai “sang penghibur” seutuhnya untuk menemani kita yang sedang “menanti sebuah jawaban.” Jawaban atas pertanyaan tentang kapan pandemi Covid-19 berakhir, tentu saja. Jawaban itu tidaklah akan sejauh “kasih tak sampai” jika kita tetap berada di rumah dan menyaksikan “sesuatu yang indah” dalam PKN 2020. Selamat menyaksikan, Sobat Padi!

survey