Nusa Tuak

Dawai Sasando di Jemari Lincah Nusa Tuak

Apa yang terbayang dalam benak Anda saat mendengar frasa “Nusa Tuak”? Adakah yang terlintas ialah sebuah pulau yang penuh dengan minuman memabukkan? Oh, sebentar, agaknya itu imaji yang keliru. “Nusa Tuak,” apalagi yang berkaitan dengan budaya orang Rote, Nusa Tenggara Timur, punya pengertian yang berbeda—pun, ini sesungguhnya nama kelompok musik sasando yang digawangi anak-anak muda NTT penuh talenta.

Diambil dari kata “nusa” yang bermakna pulau dan “tuak,” padanan bagi pohon lontar dalam bahasa Rote, grup musik Nusa Tuak ingin menghadirkan sasando bagi dunia luar yang lebih luas. Menyematkan kata “tuak” bukan pilihan yang sekadarnya. Para personilnya, yakni Ganzer, Peppy, Rico, Rizky, Ulrich, Martin, Julija, dan Uta, menyadari betapa pohon lontar punya peran besar bagi masyarakat Rote, sebab tidak ada satu bagian pun dari pohon tersebut yang tak bisa diolah untuk kepentingan manusia. Tak berlebihan kiranya jika orang NTT menyebut pohon ini sebagai pohon kehidupan.

Begitu pula dengan daun lontar, yang sejak turun-temurun dipergunakan sebagai bahan penting pembuatan sasando, sebuah alat musik chordophone khas dari Rote. Ada cerita menarik dari cikal bakal lahirnya sasando. Dahulu kala, di kampung Oetefu – Thi (kini sekitar kecamatan Rote Barat Daya) terdamparlah seorang pemuda bersama Sangguana ketika dirinya sedang mencari ikan. Ia ditemukan penduduk setempat dan dibawa menghadap Raja Takalaa di istana Nusaklain. Bilamana malam, di sini sering pula dilangsungkan permainan kebak (kebalai), yakni serupa tarian masal muda mudi dengan cara bergandengan tangan dan membentuk lingkaran. Seorang penyair, disebut manehalo, biasanya berada di tengah lingkaran. Sangguana yang ternyata memiliki bakat seni dengan segera menjadi bintang permainan ini dan memikat hati putri Raja. Sang Putri lantas berkeinginan memiliki sebuah alat musik yang unik, pun belum pernah ada, dan jika Sangguana sanggup membuatkan maka dirinya berhak mempersuntingnya menjadi istri. Sangguana konon menciptakan sasando berdasarkan ilham yang diperolehnya lewat mimpi dan menamainya sandu, bermakna “bergetar. Ada dugaan pengulangan kebiasaan ucap di masyarakat Rote membuat kata sasando menjadi lazim dan familiar.

Bagaimanapun kisah awal penciptaan sasando, beberapa literatur menyebutkan bahwa alat musik ini kemudian berkembang seiring waktu, dimulai pada abad ke-7 Masehi dengan diciptakannya sasando gong yang bertangga nada pentatonik, kemudian muncul sasando biola bertangga nada diatonik pada abad ke-17 M, dan yang terkini, sasando elektrik sejak tahun 1960-an.

Secara bentuk, sasando terdiri dari tabung bambu (aon) yang dikitari oleh dawai-dawai senar. Kemudian ada kepala sasando sebagai tempat diletakkannya sekrup pengikat dawai sekaligus tempat tersematnya haik atau daun lontar yang dikembangkan demi mengoptimalkan resonansi suara. Pada bagian bawah terdapat bokong sasando yang berfungsi mengikat dawai dan tempat socket input/output suara pada sasando elektrik. Tidak lupa ada juga senda atau penyangga dawai yang dapat dinaik-turunkan untuk menyetem nada-nada yang diinginkan.

Memang secara tradisional orang Rote tadinya hanya mengenal sasando gong dan sasando biola saja. Dalam masyarakat setempat, sasando gong sering digunakan sebagai alat musik instrumental yang nada-nadanya disesuaikan dengan alat musik gong tradisional Rote. Ada beberapa varian banyaknya senar yang digunakan, misalnya senar tujuh, delapan, sembilan, hingga 11. Sementara sasando biola konon adalah buah adaptasi dari musik biola yang dibawa orang Portugis dan dibuat dengan diameter bambu lebih besar dan jumlah senar lebih banyak—bisa mencapai 60 dawai—untuk dapat menghasilkan lebih banyak nada.

Nah, apa sebab jumlah senar sasando ini cenderung berbeda-beda? Ini tak lain karena sasando tadinya adalah alat musik keluarga yang diwariskan turun temurun, mengakibatkan perbedaan dalam hal informasi sejarah penciptaan sasando, teknik menyetem, ataupun teknik memainkan sasando. Sebagai contoh dari soal teknik permainan: Tadinya sasando menggunakan enam jari, yaitu tangan kanan jari jempol, telunjuk, dan tengah untuk iringan (ritme), serta jari kiri meliputi jempol untuk melodi, telunjuk dan tengah untuk memainkan bas. Belakangan, dikenal pula gaya permainan tujuh jari ala keluarga Edon, dan teknik bermain 10 jari yang dikembangkan oleh Theedens. Setidaknya, inilah informasi yang dilansir dari penelitian YS. Francis tentang sasando pada tahun 2017.

Hal menarik lainnya dari sasando ialah teknik penyetemannya. Ternyata, satu jenis setem sasando hanya bisa digunakan untuk dua nada dasar, misalnya nada dasar D dan A, atau F dan C, termasuk kombinasi lain. Bagaimana kalau mau bermain di tangga nada yang berbeda? Tentu musisi mesti menyetem ulang keseluruhan dawai sasandonya (oh, bayangkan jika Anda menggunakan sasando 30 atau 60 dawai, seperti apakah mekanisme penyetemannya!). Tak hanya sampai di situ, cara penyeteman sasando juga berbeda-beda, tergantung jumlah dawai dan dengan gaya apa Anda mempelajarinya. Ini jelas berbeda dengan alat musik chordophone yang kita kenal, semisal gitar, yang satu dawai dapat menghasilkan bermacam-macam nada.

Nah, jadi kita bisa membayangkan betapa menantangnya alat musik sasando ini. Butuh ketekunan sungguh untuk menguasainya, apalagi oleh anak-anak muda yang barangkali lebih mudah memilih alat musik modern sebagaimana yang lazimnya kita kenali, sebutlah gitar, biola, piano, dan sebagainya. Tapi, tidak demikian dengan Nusa Tuak, yang notabene terdiri dari generasi muda yang menyadari pentingnya melestarikan ragam instrumen ini dan dengan bangga menghadirkannya di berbagai perhelatan musik di mana saja, misalnya pada Pekan Raya Indonesia (Jakarta, 2017), Festival Dawai Nusantara (Malang, 2017), Konser Musik Etnik Denting Suara Lontar (Jakarta, 2017), JATA Exhibition Budaya Indonesia Sasando (Tokyo, 2016), dan bermacam-macam pagelaran lagi.

Dalam PKN kali ini, Nusa Tuak membawakan beberapa lagu andalan mereka, sebut saja Overture dan “Medley Indonesia Pusaka,” “The Sound of Love,” “Haksoke,” dan “Ofa Langga.” Seluruhnya mereka garap dengan aransemen yang segar, memadukan musik sasando dengan instrumen modern, semisal drum, bass, dan melodi gitar. Hasil perpaduan berbagai instrumen ini jelas bukan gado-gado alias asal tempel, melainkan menyatu secara menawan sehingga denting dawai sasando dapat mengisi dinamisnya ragam repertoir yang mereka sajikan. “Ofa Langga.” contohnya, lagu yang merupakan nyanyian pergaulan ini, diaransemen begitu apik sehingga tetap memunculkan potensi-potensi petikan dawai yang lincah dari sasando dan sama sekali tidak tenggelam lantunan instrumen kekinian yang lain.

Nusa Tuak masih konsisten memainkan sasando karena menyadari bahwa mereka memiliki tanggung jawab terhadap pelestarian kesenian leluhurnya. “Sasando adalah hasil karya seni tinggi nenek moyang kami. Kami merasa terpanggil untuk mengembangkan tradisi Indonesia Timur ini ke mata dunia,” tulis mereka dalam narasi yang menyertai pagelaran mereka. Didasari kesadaran ini, Nusa Tuak memilih lebih banyak berkegiatan di Yogyakarta, tempat mereka juga membuka kursus bagi siapa saja yang ingin mengenal dan mempelajari sasando lebih jauh. Perlahan namun pasti, kecintaan mereka pada sasando kian bertumbuh dan diapresiasi oleh kian banyak kalangan—dan dawai sasando terdengar berdenting elok dipetik jemari lincah lebih banyak anak-anak muda.

survey