Nusa Bungtilu

Sebentuk Dialog dengan Alam

Karya Nusa Bungtilu dari koreografer Jemmy Pragina Gong yang diperagakan pada pantai Pulau Semau itu memperlihatkan keselarasan antara lanskap alam dan hasil kreasi manusia. Melalui video tari untuk Pekan Kebudayaan Nasional 2020, kita seakan melihat bahwa tidak ada lagi yang pantas dilakukan manusia untuk bercengkrama dengan pantai berpasir putih dan laut biru selain dengan cara menari, menari, dan menari. Seolah bahasa verbal sia-sia belaka dan tarian sebagai bahasa “sunyi” manusia adalah medium paling tepat untuk menyentuh keluasan samudra.

Menari, bagi koreografer asal Nusa Tenggara Timur tersebut, adalah juga ibadah. ‘Selayaknya jika kita berdoa, pasti dengan hati yang tulus.’ Begitu yang ia sampaikan dalam video dokumenter untuk mengantarkan karya Nusa Bungtilu tersebut kepada khalayak. Ibadah dalam pengertiannya yang luas, tentu saja. Suatu upaya manusia untuk sadar diri, bahwa ada sesuatu yang lebih besar dan berkuasa di luar dirinya; sesuatu yang tidak bisa ia taklukkan dengan ego dan nalarnya. Alam, meskipun berkali-kali berusaha digenggam oleh manusia melalui ukuran-ukuran ilmu pengetahuan, senantiasa masih menyimpan berbagai hal yang lepas dari rengkuhan. Dan pada yang tidak terengkuh itulah, kesenian bekerja.  

Jika kita perhatikan lagi koreografi yang pernah dibuat Jemmy Pragina Gong di masa lampau, akan selalu terlihat hubungan antara dua elemen tersebut: alam dan manusia. Seperti pohon nira atau lontar yang diolah menjadi tuak, dalam karya Mumso Nok Tua’ atau jagung menjadi makanan pokok manusia dalam karya Besek. Pada dua nomor tari yang menurut koreografernya sendiri sebagai karya terbaiknya, kita temukan relasi yang konkret antara alam dan manusia. Pada satu sisi, motif gerak tarinya selalu berdasar cara-cara manusia menggarap alam selaku penyedia kebutuhan manusia. Di lain sisi, selalu ada gerak-gerak “ritual” dalam karyanya, yang menyatakan bahwa manusia juga harus menghormati alam.

Tampaknya, korelasi alam dan manusia yang demikian selalu dibawa atau terbawa oleh Jemmy Pragina Gong selama berkarya, termasuk ketika ia memproduksi Nusa Bungtilu. Lihatlah, biru yang ia pakai pada kostum adalah warna yang asosiasinya dekat dengan alam, khususnya laut. Sepuluh orang penari berkostum biru juga memegang tangkai rumput pada kedua tangan masing-masing, mengajaknya menari, mengangkatnya tinggi-tinggi, kemudian mendekatkannya ke bumi. Sepuluh penari memegang rumput itu melangkah, menyilangkan, menghentakkan kaki telanjangnya, di atas pasir putih. Takzim dan penuh penghayatan.

Peran tari sebagai medium untuk berdialog, bercengkrama, atau memuja alam tampak dalam Nusa Bungtilu. Inilah kesinambungan dari segala yang berakar pada khazanah tradisi di Nusa Tenggara Timur. Gerakan sepuluh penari berangkulan, membentuk lingkaran dan menggerakkan kaki saling-silang dalam koreografi misalnya, berakar dari begitu banyak tarian tradisional di daerah penghasil tenun terbaik tersebut. Ya, permainan kaki merupakan elemen dasar dalam tari tradisional di sana. Adakalanya sebagai ekspresi perayaan, ritual berburu, atau permainan rakyat. Permainan dan tari Rangku Alu di bawah terang purnama, misalnya, merupakan ungkapan kebahagiaan masyarakat pada masa panen. 

Namun Nusa Bungtilu, yang secara lateral bermakna pulau bunga tiga warna, juga adalah nama masa lalu Pulau Semau. Sebuah pulau kecil di seberang Kupang dan juga bagian dari gugusan kepulauan Nusa Tenggara Timur. Dengan mengusung nama lamanya menjadi judul karya, Jemmy seolah hendak membuka lagi ingatan kita tentang sejarah pulau yang sangat elok di sisi timur Indonesia tersebut. Jika kita telusuri, nama bunga tiga warna berasal dari warna tiga tenun yaitu merah, hitam, dan putih: Masing-masing menjadi simbol tiga suku awal penghuni pulau. Tenun dengan warna didominasi putih milik Suku Helong, hitam milik Suku Rote, dan merah untuk Suku Timor. Ketiga suku tersebut membentuk kultur dan adat-istiadat dalam Pulau Nusa Bungtilu lama.

Penelusuran sejarah Pulau Semau masih akan menjadi proyek jangka panjangnya, tutur Jemmy ketika tim penulis mewawancarainya. Tidak terlalu banyak data atau catatan yang menceritakan sejarah pulau tempat kelahiran Gubernur Nusa Tenggara Timur yang sedang menjabat tersebut. Oleh karena itu, karya Nusa Bungtilu yang tampil dalam Pekan Kebudayaan Nasional 2020 ini adalah pintu untuk Jemmy menapak-tilasi sejarah Pulau Semau di kemudian hari, tentu saja melalui sudut pandang ketubuhan atau koreografi. 

Selamat menyaksikan Nusa Bungtilu di Pekan Kebudayaan Nasional 2020!

survey