NDX AKA

Jogja Vernakular

Apakah persamaan antara rap dan koplo? Keduanya memakai bahasa vernakular. Itulah sebabnya rap selalu milik orang-orang Afrika-Amerika dan koplo selalu milik masyarakat kelas bawah. Jika di Amerika Serikat, Snoop Dogg sempat mempopulerkan bahasa “izzle,” di Yogyakarta, grup rap-koplo, NDX AKA, membawa “kimcil” naik kelas. Kimcil itu sendiri adalah sebutan dari laki-laki untuk lawan jenis yang ia anggap telah menyakitinya—terjemahan bahasa Jawa untuk bitch. Dalam salah satu lagu mereka, “Kimcil Kepolen,” atau terlalu kimcil, atau terlalu picik, NDX AKA mendefinisikan seperti apa itu kimcil.

Pada 1987, grup rap AS, Public Enemy, menyampaikan hal yang kurang lebih sama dengan “Kimcil Kepolen” NDX AKA dalam lagu mereka berjudul “Sophisticated Bitch.” Lagu itu kemudian dihapus dari diskografi Public Enemy, sebab mereka bukan sekadar grup rap, melainkan juga sekelompok aktivis, sehingga seiring berjalannya waktu, “Sophisticated Bitch” pun dianggap tidak politically correct dan bertentangan dengan agenda politik mereka. Tapi, NDX AKA bukan Public Enemy. Nanda dan Fajar bukan Chuck D. dan Flavor Flav. Mereka bukanlah aktivis. “Kimcil Kepolen” tidak punya agenda politik apa pun. Lagu tersebut adalah ekspresi kekecewaan pria kepada wanita, semurni atau sementah kekecewaan Eminem kepada ibu dan mantan istrinya dalam “Kill You.” Simak satu bait dalam “Kimcil Kepolen” berikut ini: “Pancene kowe pabu/nuruti ibumu/jare lek ra Ninja/ra oleh dicinta” (memang kau a***** (jahat—pen.)/mengikuti kata ibumu/katanya jika bukan Ninja/ tak layak dicinta). 

Tidak hanya lugas, bait di atas juga menarik jika kita melihatnya dari sisi rancangan bar-nya. Ada berapa bar di sana? Perlu diketahui bahwa dalam rap, satu bar terdiri dari premis dan punchline. Dalam bentuknya yang konvensional, seperti pada masa Kurtis Blow di tahun 1980-an, misalnya, satu bar biasanya terdiri dari satu baris kalimat—sehingga bar, dalam rap, sering dipahami secara sederhana sebagai baris. Seiring berjalannya waktu, satu bar dalam sebuah lagu rap bisa terdiri dari banyak baris. Dalam salah satu lagunya yang berjudul, “The Ringer,” misalnya, Eminem membuat satu bar terdiri dari 10 baris; sembilan baris premis dan sebaris punchline. Sementara itu, dalam sebait “Kimcil Kepolen,” NDX AKA menyusun tiga baris premis dan satu punchline, sekaligus mendefinisikan pandangan siapa itu kimcil, dalam satu bar.

Membuat bar yang panjang atau tebal bukan hal mudah, tentu saja, karena untuk mengikat baris demi baris premisnya sebelum tiba pada punchline, seorang rapper butuh kemampuan storytelling dan rhyming yang mumpuni. Dalam “Kimcil Kepolen,” NDX AKA merimakan “cinta” dengan “Ninja” dan “ibumu” dengan “pabu.” Rima tersebut menarik, terutama karena dalam rap, ada aturan tidak tertulis tentang rhyming. Pencil, misalnya, tidak boleh dirimakan dengan utensil, sebab pencil adalah utensil. Dalam bahasa Indonesia, “alam baka” juga sebaiknya tidak dirimakan dengan “neraka.” Dengan kata lain, dalam rhyming, seorang rapper sebaiknya menghindari sinonim, sebab tantangan lain dalam rhyming adalah membuat kata-kata yang sebelumnya tidak sinonim memiliki kadar nilai yang serupa. Dalam satu bar “Kimcil Kepolen,” NDX AKA menyejajarkan kata-kata tersebut tidak hanya supaya berima dalam bentuk, tetapi juga dalam isi (substansi).

NDX AKA terdiri dari Yonanda Frisna Damara (Nanda) dan Fajar Ari, yang sebelumnya bekerja sebagai buruh bangunan. Sekalipun tidak berasal dari lingkungan hip-hop, mereka bisa menyusun rima dan membawakannya di atas beat seperti rapper yang akrab dengan kultur hip-hop. Hip-hop itu sendiri adalah kultur yang terdiri dari beberapa subkultur, yaitu rap, graffiti, break dance dan DJ (sampling). NDX AKA adalah grup rap, tapi bukan grup hip-hop, sebab mereka tidak melibatkan graffiti dan break dance baik di penampilan maupun lirik-lirik mereka. NDX AKA juga punya DJ, kendati sebagai DJ dari grup rap-koplo, tentu saja DJ NDX AKA berbeda dengan DJ-DJ atau produser hip-hop. Meskipun demikian, semangat bermusik mereka, para DJ dari kedua subkultur tersebut, agaknya saling beririsan.

Pada 2015, rapper AS, Kendrick Lamar, merilis album ketiganya yang berjudul, To Pimp A Butterfly (TPAB). Album itu kemudian dianggap sejumlah pengamat hip-hop sebagai album terbaik dalam diskografi rapper asal Compton, California, AS, tersebut. TPAB bahkan dinilai lebih baik dari album keempatnya, DAMN., yang meraih Pulitzer Prize pada 2018, sebab dalam samplingsampling yang ia gunakan pada sejumlah lagu di album ketiganya itu, Kendrick berusaha untuk merangkum 70 tahun perjalanan black music (jazz, blues, soul, funk, dan fusion dari keempat genre tersebut). Dengan kata lain, autentisitas vernakular Kendrick, yang dimaksud para juri Pulitzer, sebenarnya terasa jauh lebih kental dalam TPAB ketimbang DAMN., yang menggunakan sampling-sampling seperti trap, R&B, dan pop. 

Sadar atau tidak, autentisitas vernakular itu jugalah yang dibawa oleh beat dalam lagu-lagu NDX AKA. Mereka tidak berusaha orisinil dengan mundur terlalu jauh ke masa lalu, memanggil kembali arwah primordial untuk menyusup ke dalam musik mereka demi sebuah upaya untuk menjadi lokal. Dangdut koplo adalah musik yang menyertai kehidupan sehari-hari Nanda dan Fajar ketika mereka masih menjadi buruh bangunan. Kini, sebagai NDX AKA, mereka pun menggebrak panggung dangdut koplo, yang sebelumnya didominasi oleh para penyanyi wanita—yang lebih sering bergoyang ketimbang bernyanyi. 

Dominasi NDX AKA pun semakin tak tergoyahkan ketika para biduan dangdut koplo ikut membawakan lagu-lagu mereka. Penyanyi dangdut koplo wanita asal Sidoarjo, Jawa Timur, yang juga merupakan pelantun lagu Asian Games 2018, Via Vallen, misalnya, bahkan lebih sering membawakan “Sayang,” versi NDX AKA—lagu aslinya sendiri diciptakan Anton Obawa dan dibawakan pertama kali oleh OM Wawes. Tahun lalu, NDX AKA membuat para pengunjung Pekan Kebudayaan Nasional (PKN) di Istora Senayan, Jakarta Pusat, melupakan sejenak segala kekecewaan di hati dengan ikut bernyanyi bersama Nanda dan Fajar. PKN 2020 kembali menghadirkan mereka, dan kali ini, secara virtual, untuk menemani Anda di rumah. Tetap di rumah, dan saksikan NDX AKA di PKN 2020!

survey