Navicula

Pembawa Amanat Lingkungan

What if the truth is yours to decide? Demikian suara vokalis dan gitaris Navicula, Gede Robi Supriyanto, terdengar menyelip di tengah raungan riff gitarnya. Dalam Everyone Goes to Heaven, band grunge asal Bali ini menyampaikan pesan bahwa setiap manusia bisa punya kapasitas yang sama dalam menawarkan kebenaran. Di tengah kecemasan akibat pandemi, di antara bertubi-tubinya aliran arus informasi belakangan ini, setiap orang seolah memiliki kebenaran versinya sendiri seumpama pria dalam tembang “Everyone Goes to Heaven.” Lagu yang dimuat dalam album ke-5 Navicula, Salto (2009) seakan mengingatkan kita untuk tetap waspada dan menyelidiki setiap kebenaran yang belakangan ini ramai dikemukakan. 

Navicula terbentuk pada 1996, dua tahun setelah ikon grunge dunia, Kurt Cobain, wafat. Band ini dibentuk setelah Robi dan Dadang Pranoto (Dankie) menonton penampilan Cobain, Krist Novoselic dan Dave Grohl dalam video klip Nirvana, “Smells Like Teen Spirit,” yang pada 1991 menggebrak industri musik dunia dan mengantarkan genre grunge ke arus utama. Pemain drum Navicula, Gembul Rai, bergabung bersama Robi dan Dankie pada 1998, sementara bassist mereka, alm. Made Indra Dwi Putra, bergabung empat tahun kemudian.

Nama Navicula diambil dari nama ganggang yang Robi dan Dankie temukan dalam buku pelajaran Biologi. Navicula adalah ganggang emas bersel satu yang memproduksi sekitar seperempat dari seluruh oksigen dalam biosfer bumi. Seperti jenis ganggang yang menginspirasi nama band mereka, Robi, Dankie, Gembul dan alm. Made pun aktif membela keberlangsungan lingkungan hidup. Pada 2012 lalu, misalnya, mereka menolak deforestasi yang mengancam habitat biotik, baik di Sumatra maupun di Kalimantan, dengan menggelar konser Borneo Tour

Dalam tur yang dibiayai melalui portal digital penggalangan dana kolektif, Navicula tidak hanya bermain musik, tetapi juga mengendarai motor melintasi tiga provinsi, yaitu Kalimantan Selatan, Tengah dan Barat, untuk mendokumentasikan kerusakan alam akibat eksploitasi perusahaan tambang dan ekspansi perkebunan monokultur, yaitu sawit. “Di jalan Trans-Kalimantan, dari Kabupaten Lamandau, Kalteng, menuju perbatasan Kalbar, yang terlihat hanya lautan kelapa sawit,” ujar Robi saat itu.

Selama lebih dari dua dekade dedikasi berkarya, kesenimanan Navicula memang selalu berjalan beriringan dengan aktivisme mereka. Selain menggelar Borneo Tour, 2012 lalu, di tahun yang sama mereka juga merilis satu album yang sepenuhnya didedikasikan bagi hutan hujan tropis, Kami No Mori. Album bersubjudul a rainforest compilation tersebut berisi 13 nomor lagu, dengan hits single: “Metropolutan.” Setelah mengalahkan 500 video dari 43 negara, video klip single tersebut berhasil memenangkan kompetisi yang diprakarsai oleh perusahaan mikrofon asal Australia, RØDE Rockumentary. Berkat video klip itulah, Navicula akhirnya berkesempatan merekam materi album ke-7, Love Bomb (2013), di Record Plant Studio, Hollywood, LA. Record Plant Studio adalah studio rekaman yang telah menggarap sejumlah album berpengaruh seperti Load dan Reload, Metallica (heavy metal), Appetite for Destruction, Guns N’ Roses (rock) dan The Marshall Mathers LP, Eminem (rap/hip-hop). 

Dalam “Metropolutan, Navicula menyampaikan keputusasaan masyarakat kota yang terjebak di antara kepungan polusi dan ancaman global warming yang mengacaukan siklus cuaca. Dalam jantung “Metropolutan,” demikian tulis Robi, “S’lalu banjir tiap bulan, asap jalan jadi awan.” Suara Navicula menjadi medium bagi kemarahan navicula si ganggang lantaran manusia terus memproduksi polusi, seakan tidak menghargai oksigen yang telah mereka sediakan. Pada 2013, “Metropolutan” menjadi lagu pengantar film dokumenter sutradara asal Kanada, Daniel Ziv, Jalanan, yang menyabet penghargaan di berbagai festival film seperti Busan, Melbourne International Film Festival, serta Shanghai Television Festival.

Kepedulian Robi terhadap lingkungan bahkan membuat pria kelahiran Palu, Sulawesi Tengah, 7 April 1979, meneliti fesesnya sendiri demi mengetahui keberadaan plastik dalam tubuh manusia. “Kita suka menganggap mikro plastik itu masalah di luar, di laut jauh atau mungkin dimakan ikan,” demikian Robi, dalam wawancaranya di CNN Indonesia pada 2019. “Tapi ini [mikro plastik] bukan mungkin, ini sudah ada. Ini bukan hanya ada di alam saja, tapi di tubuh kita.” Demi menyebarkan pengetahuan dan kesadaran terkait ancaman sampah plastik bagi keberlangsungan lingkungan, bersama sejumlah aktivis dan sponsor, pada tahun itu juga Robi memproduksi empat seri film dokumenter Planet Plastik.

Tapi aktivisme Navicula tidak hanya terkonsentrasi pada isu lingkungan. Salah satu lagu mereka, “Biarlah Malaikat,” terinspirasi dari kasus penyiraman air keras yang menimpa penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Novel Baswedan pada 2017. Selain itu, lima tahun sebelumnya, bersama sejumlah musisi dan band independent seperti Morfem, Eye Feel Six dan MC Morgue Vanguard a.k.a Ucok a.k.a Herry Sutresna, Navicula ikut mengisi album kompilasi rilisan Indonesia Corruption Watch (ICW), Frekuensi Perangkap Tikus. Dalam album tersebut, Navicula menyumbangkan satu lagu bertema anti-korupsi berjudul “Mafia Hukum.” Liriknya mengecam, disuarakan begitu tajam: “Pengusaha-pengusaha kongsi dengan penguasa/walau sudah kaya masih kurang juga. 

Navicula menyadari bahwa tindak pidana korupsi juga menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan lingkungan hidup, sebab ujung dari kongkalikong antara penguasa dan cukong sudah pasti adalah eksploitasi sumber daya alam. Mereka telah menyaksikan sendiri konsekuensi dari konspirasi pengusaha dan korporasi dalam tur trans-Kalimantan, yang mereka lakukan bersama Greenpeace sebagai rangkaian konser Borneo Tour, lima tahun sebelumnya. “Begitu kita semakin mendalami isu lingkungan,” demikian Robi, dalam satu wawancara dengan Budi Dalton, “kita akan berbenturan dengan satu tembok yang namanya isu korupsi,” pungkasnya.

Saat ini, Navicula digawangi Robi (vokal dan gitar), Dankie (gitar), Supriatmoko (drum), dan Krishnanda Adipurba (bass). Supriatmoko menggantikan Gembul Rai yang hengkang pada 2017 lalu, sedangkan Krishna menggantikan alm. Made, yang lebih dahulu tutup usia pada 2018. Seperti Nirvana, dalam video klip “Smells Like Teen Spirit,” Navicula selalu tampil energik dalam setiap penampilan live mereka. Rasa gebukan energik Gembul Rai tidak memudar tatkala Supriatmoko menggantikannya. Sejak terbentuk, Navicula ingin membangunkan kesadaran masyarakat akan keberlangsungan lingkungan hidup dengan musik yang keras, dengan gebukan drum powerful dan raungan riff-riff yang padat dari dua gitar dan satu bass. 

Corona sucks! seperti kata Navicula pada caption penampilan live di kanal YouTube resmi mereka pada 20 Maret 2020. Akan tetapi, pada akhirnya, pandemi yang melanda Indonesia sejak Maret lalu mengajarkan pada kita untuk hidup bersih dan lebih ramah pada lingkungan sebagaimana amanat yang selalu disampaikan melalui karya Navicula. Pada 2019, Navicula menggetarkan kita di atas panggung Pekan Kebudayaan Nasional (PKN) 2019 yang diselenggarakan di Senayan, Jakarta. Pada PKN 2020, mereka akan mengguncang, kali ini rumah kita, lewat konser virtual. Dalam kesempatan kali ini, Navicula membawakan enam lagu mereka dan satu lagu dari band grunge Indonesia lainnya, Plastik. Hindari asap tebal dari kota metropolutan dengan tetap berada di rumah. Selamat menyaksikan Navicula dalam rangkaian PKN 2020!

survey