Nadin Amizah

Yang Muda dan Yang Berbahaya

Muda usia bukan berarti mudah dikesampingkan. Barangkali ungkapan ini tepat disuratkan bila kita membincangkan Nadin Amizah, musisi asal Bandung kelahiran 22 Mei 2000 yang penampilannya disaksikan secara daring melalui laman pkn.id hari ini (02/11). Membawakan sembilan lagu, di antaranya “Paman Tua,” “Bertaut,” “Taruh,” “Cermin,” “Mendarah,” “Beranjak Dewasa,” dan “Sorai,” Nadin tampak elok mengalir bernyanyi, tentu tidak lupa dengan gaya busana retro berwarna kalem yang menjadi ciri khasnya selama manggung di mana pun.

Nadin dikenal kali pertama lewat ajang pencarian bakat menyanyi, yaitu Social Media Sensation, yang dihelat pada 2016. Nadin meraih juara ketiga. Publik semakin tercuri perhatian terhadapnya tatkala Nadin berkolaborasi dengan DJ Dipha Barus melantunkan single bertajuk All Good pada 2017, bahkan dirinya pernah manggung di festival bergengsi Djakarta Warehouse Project. Menariknya, Nadin masih duduk di bangku SMA saat itu.

2018 adalah tahun debut bagi Nadin. Ia mulai dengan merilis lagu “Rumpang” disusul “Sorai,” “Star,” dan “Seperti Tulang” pada tahun berikutnya. Masih di tahun yang sama, Nadin berkolaborasi dengan penyanyi Sal Priadi untuk lagu “Amin Paling Serius.” Sebelum tersohor sebagaimana belakangan ini, kita bisa merunut jejaknya dalam dunia dengan kesukaannya meng-cover lagu yang diunggahnya lewat akun Instagram @cakecaine miliknya.

Katanya, Nadin juga seorang yang ‘keras kepala’ kalau soal musik. Beberapa kutipan wawancara menyebutkan pelantun genre folk ini dikenal sangat gigih mengejar impiannya. “Aku dari kecil batu banget, keras kepala banget. Aku bisa berjuang sampai dapat. Kalau enggak dapat ya, enggak apa-apa, yang penting untuk perjuangan dulu,” ujarnya dalam podcast Dear Dearest yang tayang di Spotify seraya menambahkan pengakuan bahwa ia tidak bisa hidup tanpa musik.

Demikian pula di masa pandemi yang sedikit banyak berdampak pada musisi muda ini. “Pandemi mulai, aku kehilangan panggung dan enggak bisa nyanyi. Aku jadi diingetin kalau aku secinta itu sama nyanyi. Termasuk banyak banget orang yang mata pencahariannya dari aku, misalnya kru, anggota band. Mereka tidak berjalan tanpa aku. Jadi, musik bukan cuma memuaskan hati aku, tapi menolong banyak orang,” ujar Nadin, sebagaimana yang dilansir antaranews.com.

Prestasi Nadin memang tidak tanggung-tanggung bagi musisi belia sepertinya. Pada 2019, lewat lagu Rumpang, dia dianugerahi Karya Produksi Folk/Country/Ballad Terbaik dan Penyanyi Pendatang Baru Terbaik dalam ajang Anugerah Musik Indonesia (AMI). Kalau Anda belum terlalu mengenal namanya, cobalah tengok kanal musik Spotify dan carilah deretan lagu-lagunya. Barangkali ternyata Anda pernah mendengar satu atau dua di antaranya. Bagaimana tidak, Nadin terbilang populer—terutama di kalangan anak muda dengan jumlah pendengar mencapai lima juta streams pada kanal tersebut. Belum lama, tepatnya 28 Mei 2020, Nadin merilis album baru bertajuk Selamat Ulang Tahun sebagai perayaan kecil hari lahirnya—dan pendengar album ini pun terus bertambah banyaknya.

Siapakah sosok musisi yang menjadi referensi, atau barangkali inspirasi, bagi karya-karyanya? Nadin mengungkap tiga nama yang berpengaruh terhadapnya, yakni Sal Priadi, Kunto Aji, dan Arina Ephipania (Mocca). “Sebenarnya aku punya banyak musical heroes tapi tiga orang ini yang pernah bersentuhan langsung gitu dan aku anaknya enggak kenal banyak musisi yang umurnya jauh dari aku dan aku milih menceritakan tentang mereka karena aku cuma bisa bercerita yang aku pernah alami,” ceritanya lewat podcast Dear Dearest.

Hampir mirip dengan Sal Priadi, penyanyi perempuan ini menilai Kunto Aji sebagai salah satu penyemangatnya untuk terus berusaha meraih mimpi-mimpi besarnya. Nadin mengagumi album Kunto Aji, Mantra Mantra, yang dianggapnya sebagai penyembuh luka, terutama lagu yang berjudul Sulung.

Sedangkan Ariana Ephipania, bagi seorang Nadin penuh kesan karena vokalis Mocca tersebut selalu bernyanyi dengan sepenuh hati. Apa yang dilantun oleh Ariana seakan-akan sedemikian natural selayaknya sedang bercerita kepada siapa saja. “Aku baru pertama kali melihat orang bernyanyi seperti itu. Aku jatuh cinta banget sama cara dia bernyanyi. Aku dengar lagu itu bukan sebagai lagu, tapi sebagai dia curhat,” katanya.

Kembali lagi ke penampilan Nadin dalam PKN 2020, kita pun dibuat mendengarkan seseorang yang sedang mencurahkan kisah-kisah yang dialaminya, begitu intim dan dekat. Lagu “Bertaut” menggambarkan sosok ibu dan tulus kasihnya dalam pandangan seorang anak yang mencintainya. Atau lagu “Beranjak Dewasa” yang dengan lincah menggambarkan hidup seseorang yang kian hari kian bertambah usia dan kelak akhirnya menutup mata; melesat lekas kemudian padam ibarat lirik yang tersurat: “Bintang jatuh yang jauh dari waktu.”

Lirik-lirik lagu ciptaan Nadin mudah mengena bagi para pendengar usia muda. Sedikit tersirat nuansa puitik. Misalnya, coba dengarkan lagu Cermin, berikut kutipan liriknya:

Dengan tanganku
Kubantu aku
Tumbuh membaru
Dengan lukaku
Kusisir halus
Rambutku yang lusuh
Lama kutatap
Mataku yang keruh
Pergantian aku dengan dia
Yang di cermin
Yang lebih pandai
Tersenyum
Tertawa
Bernyanyi tetap
Di kala
Terpuruk

Nadin mengaku bukan tipikal penyanyi yang dinamis aksi panggungnya. Agaknya ini senada dengan karya-karya yang diciptakannya, yaitu lebih bersifat perenungan mendalam selayaknya tengah menulis larik-larik puisi. Sebagian besar pertunjukannya di panggung juga dijahit dengan baris-baris sajak kreasinya, begitu pula dalam tayangan daring PKN 2020 ini. Tapi, ini toh bukan masalah, tidakkah setiap penyanyi punya gaya dan kekhasannya masing-masing? Dengan pilihan cara manggung yang begini, Nadin malah terlihat lebih menyatu dengan lagu-lagunya yang sebagian besar larut dengan penghayatan perasaan tertentu. Lagi pula, jalan musik Nadin masih panjang dan dia sangat bisa mengelaborasi banyak ragam penciptaan lain, termasuk dalam menemukan ciri karakteristik penampilannya.

Kita bisa berbangga melihat talenta anak muda yang cahayanya berkilauan seperti Nadin. Karya-karya Nadin menunjukkan bahwa usia bukan kendala dalam bermusik. Nadin justru membuktikan pendewasaan bisa dialami melalui proses bermusik. Pendewasaan yang menghantarkan kita kepada pemaknaan lagu-lagunya yang kontemplatif bagi pendengar muda di tanah air. Untuk itu, kita dapat berharap semoga Nadin bisa mencipta lebih banyak karya yang menceritakan dunia para pendengarnya secara natural dan mengalir.

Hai, Nadin, teruslah berkarya ya, jadi musisi yang muda dan yang berbahaya!

survey