Mixology Arak Bali, Hennery Sitohang (Dewi Sri Distillery)

Cara Bali Mencampuri Arak

Entah sejak kapan arak bermula di Bali dan identik dengannya? Satu hal yang kita mudah maklumi, yaitu tradisi minum arak sudah berlangsung selama turun-temurun di Pulau Dewata. Belum ada bukti otentik berupa penemuan secara resmi yang mencatat sejarah awal muasalnya. 

Kita sebatas tahu, arak telah sejak lama tersaji di meja acara keagamaan dan tradisi lokal di kalangan masyarakat Bali. Tidak jelas ujung pangkalnya. Sebagaimana kuliner pada umumnya, masyarakat kita tidak rajin mencatat penciptaan makanan dan minuman. Ya, kuliner memang lebih pas diingat oleh lidah, ketimbang hapalan di kepala. Namun, satu hal yang paling jelas dan melekat—untuk mengambil momentum produk arak di Bali—mau tidak mau, kita sepatutnya membicarakan arak Dewi Sri.

Dewi Sri adalah satu produk minuman beralkohol yang merupakan olahan dari fermentasi beras. Lokasi pabriknya terletak di Sanur, Bali. Pendiri perusahaan minuman ini adalah I.B. Gotama. Pabrik minuman beralkohol milik Gotama ini menghasilkan dua produk minuman tradisional, yakni arak dan brem Bali. Pendirian pabrik bertolak dari pengalaman konsumen yang tidak nyaman atas kualitas arak lantaran pada masa sebelumnya produksi arak dan brem secara rumahan kerap tidak sesuai dengan standar penyajiannya. Oleh sebab itulah, Gotama mengatur ketat standar operasi produksi di pabriknya secara profesional. Salah satunya, yaitu proses penyulingan beras mesti berjalan hati-hati agar kandungan senyawa sulfur dapat hilang saat melakukan distilasi.

Alhasil, dengan sistem kerja produksi yang terjamin dan aman, maka terciptalah minuman arak dan brem Bali yang berkualitas baik dan telah terdaftar resmi di BPOM Kementerian Kesehatan RI. Dewi Sri adalah satu nama dalam khasanah kedewataan Hindu yang berarti dewi padi pembawa/pemberi kesuburan dan kemakmuran. Pemilihan nama ini, agaknya, menjadi doa bersama agar perusahaan Dewi Sri ini dapat memberi kesejahteraan dan kemakmuran yang berkesinambungan bagi masyarakat Sanur dan sekitarnya. Terbukti, sudah setengah abad lebih Dewi Sri berdiri, yakni sejak 1968. Kini, pemilik dan produsen perusahaan arak Bali Dewi Sri dipegang oleh anak sang pendiri, Ida Bagus Rai Budarsa.

Dalam tradisi minuman di dunia Barat, dikenal cara penyajian campur-mencampur minuman berkadar alkohol dengan bahan-bahan beraroma lainnya yang disebut dengan istilah cocktail. Minuman beralkohol yang biasa dijadikan koktail, antara lain gin, wiski, rum, dan vodka. Bahan perisa yang dicampurkan ke dalam minuman beralkohol tersebut seperti sari buah, madu, gula, air, es, minuman berkarbonasi, susu, krim, rempah-rempah, dan lain-lainnya. Pada kesempatan lokakarya kali ini, kita akan mengeksplorasi dan membincangkan secara khusus tentang arak Bali (Dewi Sri) yang disajikan dengan dicampur bahan-bahan lainnya. Istilahnya adalah Mixology. 

Lokakarya “Mixology Arak Bali” ini yang menjadi bagian dari rangkaian Pekan Kebudayaan Nasional 2020 dimoderatori oleh Harry Nazarudin dari Komunitas Jalansutra. Komunitas ini dibentuk pada 2003 atas prakarsa pakar icip-icip kuliner, Bondan Winarno. Dua narasumber lokakarya yang dihadirkan adalah Hennery Sitohang, perwakilan dari perusahaan arak Bali merk Dewi Sri dan bli Gusti, seorang mixologist berpengalaman asal Bali. Mixologist adalah seseorang yang menguasai keahlian Mixology, yaitu seni kreativitas atau ilmu campur-mencampur minuman beralkohol dengan bahan lainnya menjadi citarasa baru yang tidak ada dalam menu. Dalam kasta dunia meracik minuman beralkohol, Mixology adalah paling tinggi posisinya. Kasta paling teratas.

Pada lokakarya “Mixology Arak Bali,” bli Gusti memperagakan keahliannya dalam mencampur arak Dewi Sri dengan bahan-bahan yang beraroma lainnya. Ada tiga praktik penciptaan minuman yang ditampilkan disertai dengan penjelasan komposisi dari minuman yang dibuatnya. Sedangkan Hennery Sitohang memaparkan dan menjelaskan sejarah dan bisnis usaha arak Bali Dewi Sri, seputar peluang dan tantangannya pada masa kini. Selaku moderator, Harry Nazarudin yang sudah berpengalaman luas di dunia kuliner dan menulis buku Kimia Kuliner, mengarahkan obrolan di lokakarya menjadi lebih bernas, informatif, dan mendalam. Selamat mencicipi lokakarya ini!

survey