Ministry of Culture of the Kingdom of Thailand

Sawadee Khap!

Dalam selayang pandang sejarah, Indonesia dan Thailand bersahabat baik. Pada dekade pertama hubungan diplomatik kedua negara dihiasi kisah-kisah menarik. Mulai dari cerita tentang Raja Thailand, Bhumibol Adulyadej didampingi Ratu Sirikit yang sedikit memaksa untuk dapat menginap di Istana Kenegaraan di Tampaksiring, Bali, yang belum selesai dibangun pada 1957. Mereka adalah tamu pertama Istana Negara tersebut. Pun, pada kali kedua kedatangannya ke Indonesia tahun 1960, yakni saat di perjalanan mengunjungi Borobudur, sang Raja merasa nyaman dan sejuk berteduh di bawah pohon Asam Jawa. Ia pun terpikat dengan rasa masam dari buah pohon Asam Jawa saat mencicipinya pertama kali. Presiden Soekarno langsung memerintah ajudannya, Mangil, untuk mengumpulkan bibit pohon Asam Jawa untuk dibawa pulang ke Negeri Gajah Putih. Alhasil, terkumpul seribu bibit pohon Asam Jawa dari warga desa setempat. Sang Raja pun tertawa sumringah. Wujud dari peristiwa itu adalah sekarang banyak pohon Asam Jawa tua menghiasi jalan-jalan di kota Bangkok. Atau, anekdot lainnya, di luar hubungan antar negara, yakni pengalaman individu Basoeki Abdullah dan Raja Bhumibol. Sang maestro lukis naturalis Indonesia dan kawan karib Presiden Soekarno ini pernah menjadi pelukis Kerajaan Thailand selama beberapa tahun. Bahkan, dua perempuan Thailand, Somwang Noi dan Nataya Nareerat, menjadi istri sang maestro di waktu berbeda. Itulah sekelumit silang budaya hubungan persahabatan yang cair antara dua bangsa dan negara yang memiliki sejarah panjang peradaban dan sama-sama memiliki kekayaan seni adiluhung. Bahkan, di beberapa ranah seni dan budaya banyak sekali kemiripan. Salah satunya adalah dalam hal seni pertunjukan teater tradisional.

Ada satu kutipan menarik dari perkataan Raja Bhumibol Adulyadej saat berkunjung pertama kali ke Indonesia di Istana Tampaksiring, Bali: “Saya percaya bahwa hubungan yang membahagiakan antara kedua negara (Thailand-Indonesia) akan terus berkembang dan harus menghasilkan kesatuan yang utuh dalam hal tujuan dan pemahaman yang sempurna.” Perkataan tersebut tertera dengan jelas di dalam monograf elektrik (e-book) berjudul The Royal Imprint on International Relations, terbitan kantor hubungan luar negeri Kerajaan Thailand. Perkataan tersebut terbukti nyata. Hubungan baik Indonesia-Thailand telah berumur 70 tahun. Pada 24 September lalu, hubungan diplomatik tujuh dekade itu dirayakan dengan pertunjukan virtual sendratari Ramayana dengan tema “Two Nations: One Dance”. Kini, pada pergelaran Pekan Kebudayaan Nasional (PKN) 2020, Indonesia kembali mengajak Thailand dalam pergaulan kebudayaan. Kesempatan menampilkan seni pertunjukan terbuka lebar teruntuk Kerajaan Thailand. Menteri Kebudayaan Kerajaan Thailand, Ittiphol Khunplome, menyambut dengan hangat undangan berpartisipasi dalam PKN 2020 dari Kemendikbud RI. Dalam kata sambutan virtual dari Menteri Kebudayaan Thailand, dua pertunjukan teater tradisi Thailand akan dipersiapkan untuk menampilkan suguhan terbaik. Dua suguhan itu adalah pertunjukan boneka tongkat khas Thailand (Hun Luang) oleh Chakrabhand Posayakrit dan pagelaran Shadow Puppet atau Nang Talung (wayangan khas Thailand) oleh Watee Subsin Nakhon Si Thammarat. Dua pementasan tersebut akan hadir virtual pada laman web pkn.id.

Penampil pertama dari suguhan seni pertunjukan teater tradisional Kerajaan Thailand adalah seorang bergelar Seniman Nasional Thailand yang berdedikasi tinggi dalam bidang pedalangan dan perupa handal bernama Chakrabhand Posayakrit (1943). Sang dalang akan menyuguhkan pertunjukan boneka dalam enam babak penceritaan. Enam babak tersebut masing-masing berjudul: Princess, The Cock Fight, Two Kings, King’s Dream, A Declaration of Independence, dan The Elephant Bettle. Pertunjukan boneka dimainkan oleh banyak personil, mulai dari para pemusik, pemegang boneka, hingga penata cahaya dan pembantu panggung lainnya. Tidak ubahnya seperti pertunjukan teater pada umumnya, yakni membutuhkan banyak kerabat kerja. Hal paling menarik dari pertunjukan boneka tradisi Thailand ini adalah bentuk atau rupa-rupa rinci nan rumit dalam karakter boneka, pakaian boneka, hiasan kepala boneka, hingga dekorasi panggung dan perangkat atau properti pendukung lainnya. Tidak heran, pertunjukan boneka klasik khas Thailand ini menghasilkan seni indah nan anggun dan memesona dalam bentuk dan geraknya. Semua itu adalah wujud kerja keras dan penuh kesabaran dari sang maestro rendah hati yang menjadi kebanggaan Kerajaan Thailand, Chakrabhand Posayakrit. 

Penampilan kedua dari Kerajaan Thailand adalah pertunjukan Nang Talung oleh Watee Subsin asal Nakhon Si Thammarat. Seni pertunjukan ini tidak jauh berbeda dengan wayang kulit di Jawa. Cerita yang dibawakan ada dua jenis, untuk kawasan timur laut Thailand adalah kisah-kisah Rama. Sedangkan Thailand selatan membawakan kisah yang terpengaruh budaya Islam dari Muslim di Malaysia. Nang Talung dibuat dengan keahlian tangan dari bahan kulit dan gagang bambu. Seni pertunjukan kuno ini tidak bisa dilepaskan dari nama sang maestro yakni Suchart Subsin (1938). Nama sang ahli seni pertunjukan Nang Talung ini dijadikan nama museum shadow puppet di Nakhon Si Thammarat, Thailand Selatan, yang berdiri sejak 1987. Museum ini dirawat dan dilestarikan oleh keluarga Subsin. Anak-anak dari sang maestro Nang Talung menjadi pemegang warisan untuk terus memainkan hiburan rakyat ini. Pada kesempatan berharga ini, kita akan diperkenalkan dengan pertunjukan Nang Talung yang niscaya akan menghibur. Sebab, kisah yang dibawakan akan disesuaikan dengan kondisi kekinian dan berbumbu humor satir atau nakal, bisa jadi agak mesum, serta dipenuhi sentuhan nilai kiwari lainnya. Ini adalah cara jitu agar seni pertunjukan klasik ini tetap disukai generasi muda. Selamat menonton.

survey