Marcello Tahitoe

Musik Jujur Sepanjang Hidup

 

Distorsi gitar Arden Wibowo bersambut dentuman drum Robby Wahyuda mengawali gairah musik rock alternatif ala Cello alias Marcello Tahitoe dalam gelaran Pekan Kebudayaan Nasional 2020. “Polusi Kontroversi,” lagu pembuka penampilannya, menyuguhkan beat rancak dan dinamis, apalagi ketika betotan bass Enos Martyn mulai mengisi repertoar. Keseluruhan komposisi yang mereka bawakan semakin jelas mengesankan bahwa inilah sosok musikal Marcello Tahitoe yang sesungguhnya. 

Sejak rilisnya album Jalur Alternatif pada 2016, Marcello Tahitoe memang ingin “membuang” identitas musisinya yang sudah melekat di benak publik pendengar generasi pertamanya. Dia melepaskan nama panggung awalnya, Ello, yang terlanjur populer dengan single berjudul “Masih Ada” yang bergenre pop. Tampaknya, pengalaman jatuh-bangun dalam berkarya yang dialaminya selama satu dekade terakhir mendorong Marcello Tahitoe, nama sekaligus sebutan yang kini disandangnya, untuk bermusik. Ia kembali memenuhi panggilan hatinya. Pun, tanpa mementingkan arus pasar. 

‘Saya ingin concern pada bagaimana membuat musik yang berkualitas, produksi yang dipikirkan serius, sehingga hasilnya bisa dipertanggungjawabkan. Dan saya percaya karya seperti ini akan mendapat tempat di hati penikmat musik,’ demikian yang ia ucapkan sebagaimana dilansir lewat rilis pers Sony Music Indonesia saat peluncuran Jalur Alternatif

Pilihan ini mantap ditempuhnya, bahkan pula konsisten sampai kini. Selepas Jalur Alternatif, dia merilis Antistatis (2019) serta yang terbaru Marcello Tahitoe: 99 (2020). Beberapa lagu andalan dari ketiga album ini dia suguhkan buat pemirsa pkn.id, diantaranya “Polusi Kontroversi,” “Tanah Merdeka,” “Nightmare from the Nightman,” “Hanyut,” “Sampah-sampah Dunia Maya,” “Berdiri sampai Mati,” “Welcome to the Inn,” serta “I Just Wanna Be Free.”

Nama Marcello mulanya melejit di panggung musik papan atas setelah meluncurnya album Ello (2005) yang seketika laku 150 ribu kopi dan menyabet sertifikat platinum. Berkat albumnya ini dia juga meraih penghargaan Anugerah Musik Indonesia (AMI Awards) 2005 untuk kategori Pendatang Baru Terbaik, sekaligus Album Pop Terbaik. Tiga tahun berselang, dia kembali mencuri perhatian dunia musik Indonesia dengan rilisnya album Realistis/Idealis dengan salah satu single fenomenalnya, “Masih Ada,” yang sulit dilupakan. 

Namun, nasib baik tidaklah selalu menyinari Marcello. Ia sempat mengalami masa terpuruk pada 2017. Ketika itu hari-harinya terasa serba berat, tapi justru itu mengubah cara pandangnya terhadap berbagai persoalan secara signifikan. Meskipun begitu, musik tetap jadi penyemangatnya. Malahan, Marcello kian menyadari panggilannya sebagai musisi seutuhnya, yang benar-benar mewakili kecintaan dan idealismenya. Jadi, begitulah: Nama panggung, gaya, aliran musik, hingga penampilannya yang sempat gondrong dan berkumis, boleh saja berubah. Tapi, gairah bermusik itu masih ada

Situasi lebih berat pernah dialaminya saat kehilangan ibunya, Diana Nasution, pada 2013 silam. Kenangan terhadap sang ibu pun dituangkannya ke dalam salah satu karyanya. ‘Gue menerima semuanya dengan legowo. Gue mulai percaya bahwa apa yang gue punya ini pemberian Yang Maha Kuasa. Termasuk bakat musik. Namanya gift, kita menggunakan sebisanya saja,’ mengutip Marcello dalam sebuah tayangan wawancara Musafir Malam bersama Iwa K di MolaTV.

Kembali ke penampilan Marcello dalam pkn.id. Masing-masing lagunya mengambil tema yang kuat, seperti kritik soal media sosial, kebebasan, dan solidaritas. Lagu “Berdiri Sampai Mati,” salah satunya, menurutnya memang dipersembahkan buat Ahok alias Basuki Tjahaja Purnama yang sempat terbelit berbagai masalah. Sementara, “Hanyut” bagi Marcello menggambarkan filosofi untuk terus berubah dan berevolusi, atau singkatnya antistatis. Dengan sound tebal musik alternatif 1990-an, dia bercerita tentang sisi sosial dan keresahan pribadinya. “Hanyut” bercerita tentang kebebasan dan pilihan untuk hanyut dalam imajinasi. Musisi kelahiran Jakarta, 20 Februari 1983 ini juga mengaku tidak ingin menggunakan synthesizer atau efek-efek yang njelimet dalam setiap garapannya. Berbeda dengan karya beberapa musisi yang bergaya serupa, Marcello menuturkan bahwa dirinya ingin membuat musik dengan formula yang nyaman baginya. ‘Raw, simple, dan spontan,’ katanya. 

Di antara semua lagu yang dimainkan, “Hanyut” layak mendapat sorotan. Single ini jelas menunjukkan kebolehan Marcello dan kawan-kawan dalam bermusik. Gitar melodi, betotan bass, pukulan drum yang bertenaga, hingga karakter vokal Marcello muncul dengan penuh kekuatan. Setiap detik penampilannya, kita seperti turut dibawa terseret ke arus kegairahan bermusik, persis seperti judulnya, dengan akhir yang lugas tapi tetap berkesan. 

Lagu penutup “I Just Wanna Be Free” yang terangkum di dalam Marcello Tahitoe: 99 (2020) yang belum lama rilis terasa menguatkan kesan kebebasan yang hendak diraihnya. Awalan pukulan drum yang lebih rileks dengan segera mengajak kita menikmati irama, terlebih di sana-sini terdengar juga gitar melodi mengambil alih secara solo. Nuansanya jadi agak lincah tapi tetap ringan, asyik sekali untuk didengarkan. 

Bagi para pendengar yang menyukai karya Marcello terdahulu, barangkali terbesit rasa kecewa atas warna musik yang belakangan ditawarkannya. Dia bukanlah lagi musisi dengan lagu-lagu pop yang nyaman didengarkan setiap kesempatan, melainkan seorang seniman yang ingin menghentak dengan mengikuti kata hatinya, mendobrak segala pakem yang pernah membatasi dirinya, serta membagikan cerita kegelisahannya tentang apa saja yang ditemuinya. Musik yang jujur, kiranya itulah yang mau diciptakan Marcello Tahitoe. Walaupun sekiranya dia telah berubah, kita tahu bahwa membuat karya yang selalu dari hati pasti membutuhkan gairah dan kerja keras sepanjang hidup. Bravo, Marcello!

survey