Maliq & D’Essentials

Eksplorasi Warna Musik Pop

Petikan gitar akustik Nur Satriatama mengantar suara jernih Angga Puradiredja mengalir mengisi blantika musik tanah air dan membuat pencinta musik Indonesia sekonyong mabuk kepayang pada 2005 silam. Dengan dua single, yaitu “Terdiam” dan “Untitled,” serta penampilan mereka di Jakarta International Java Jazz Festival pada 2005, Maliq & D’Essentials langsung memantapkan posisi mereka di industri musik tanah air. Tapi, nama Maliq & D’Essentials tidak hanya harum di negeri sendiri. Sejak merilis album debut mereka, Maliq & D’Essentials sudah dikenal di negeri tetangga seperti Brunei Darussalam, Singapura, dan Malaysia. 

Tiga tahun kemudian, Maliq & D’Essentials menjadikan 2008 sebagai tahun terbaik mereka sebab Angga dan kawan-kawan merilis album kedua mereka, Free Your Mind, yang meraih penghargaan Album Jazz Terbaik dari Anugerah Musik Indonesia (AMI). Tidak hanya itu, dua single dari album tersebut, yaitu “Dia” dan “Kau Yang Bisa,” menjadi lagu pengantar film yang dibintangi oleh Kinaryosih dan Kirana Larasati, Claudia/Jasmine. Film tersebut meraih Piala Citra untuk Penyuntingan Terbaik dalam Festival Film Indonesia 2008. Di tahun itu pula, Maliq & D’Essentials menggelar konser pertama mereka di Brisbane, Australia.

Maliq, dalam Maliq & D’Essentials, adalah kependekan Music and Live Instrument Quality, yang pada mulanya adalah sebuah konsep dalam bermusik, buah pikiran kakak beradik Angga dan Widi Puradiredja, dan kali pertama dipersembahkan ke hadapan publik pada 2002 silam. Dalam band ini, Widi berada di belakang drum, sementara di lini depan, vokal Angga didukung vokal wanita dari Indah Wisnuwardhana dan Dimi Hapsari. Personel lainnya, antara lain Nur Satriatama atau Satrio pada gitar, Dendy Sukarno atau Jawa pada bass, Ifa Fachir pada keyboard dan Amar Ibrahim pada terompet. 

Seiring berjalannya waktu, Satrio digantikan Arya Aditya Ramadhya atau Lale. Lale bergabung sebagai personil paling muda dan membawa latar belakangnya sebagai gitaris rock ke musik Maliq & D’Essentials. Angga dan personel lain menyambut pengaruh yang dibawa oleh Lale dengan sangat baik dan menjadikan “Pilihanku,” yang bernuansa pop-rock, sebagai single pertama album ke-3, Mata Hati Telinga, dirilis pada 2009 dan dinobatkan sebagai Album Terbaik oleh majalah Rolling Stones Indonesia (RSI). Di lain sisi, Mata Hati Telinga adalah album terakhir Amar Ibrahim sebagai personil tetap Maliq & D’Essentials. Pada 2010, giliran Ifa Fachir mengundurkan diri setelah Maliq & D’Essentials merilis album ke-4, The Beginning Of A Beautiful Life, dan posisinya selaku keyboardist digantikan Ilman Ibrahim. Bersama Ilman, Maliq & D’Essentials merilis album ke-5, Sriwedari, pada 2013. 

Sriwedari itu sendiri adalah nama sebuah taman di Surakarta, Jawa Tengah, yang dibangun Raja Kasunanan Surakarta, Pakubuwana X. Maliq & D’Essentials menjadikan taman tersebut sebagai taman surga dalam single “Setapak Sriwedari.” Dalam proses pembuatan Sriwedari, Maliq & D’Essentials mewujudkan salah satu mimpinya, yaitu merekam seluruh materi album di studio legendaris Inggris, Abbey Road. Proses produksi album tersebut menjadi hadiah ulang tahun Maliq & D’Essentials yang ke-17 dan mereka memanfaatkannya secara maksimal dengan merekam 12 lagu dalam waktu 10 jam karena Angga dan kawan-kawan memang hanya punya waktu satu hari. 

‘Semua take live main semua,’ kata Angga kala itu. ‘Setiap lagu diulang dua kali, jadi total 24 take.’ Sriwedari dirilis dalam bentuk DVD Live dan menjadi Album Terbaik 2013 versi RSI. Jika pada album sebelumnya, pengaruh utama Maliq & D’Essentials adalah musik Amerika, dalam Sriwedari, Angga dan kawan-kawan mengambil sebagian besar inspirasi mereka dari musik Inggris. Selama lebih dari satu dekade, Maliq & D’Essentials tidak hanya menjelajahi aliran soul dan jazz, yang menjadi aliran utama awal karier mereka, melainkan juga rock, yang dibawa bersama datangnya Lale. Dalam Sriwedari, Maliq & D’Essentials memperluas genre musik mereka ke dangdut dalam single “Drama Romantika.”

Album berikutnya rilis tidak lama setelah Sriwedari. Pada 2014, Maliq & D’Essentials merilis Musik Pop, yang kemudian masuk ke dalam daftar Top 9 Indonesian Album versi majalah Tempo. Dalam Musik Pop, Maliq & D’Essentials bekerja sama dengan legenda musik pop-jazz Indonesia, Indra Lesmana, yang menyumbangkan suaranya dalam “Ananda” dan “Nirwana.” Setelah menghadirkan dangdut, Maliq & D’Essentials akan membawa Anda ke luar angkasa melalui ambience yang menguar dari synthesizer dalam “Nirwana.”

Tiga tahun kemudian, Maliq & D’Essentials merilis Senandung Senandika. Bersama Sriwedari dan Musik Pop, Senandung Senandika adalah album ke-7 Maliq & D’Essentials yang memuat banyak warna. Kita bisa menyimak kerumitan musik mereka dalam video klip dari single yang mendahului “Senandung Senandika, yakni “Sayap.” Para pendengar lama Maliq & D’Essentials barangkali akan merasakan apa yang oleh model video klip single tersebut, Tio Pakusadewo, rasakan. Dalam video klip “Sayap,” Maliq & D’Essentials menghadirkan dunia yang pernah hadirkan M.C. Escher dalam karya cetaknya pada 1953, Relativity. 

Pekan Kebudayaan Nasional (PKN) 2020 mengundang kembali Maliq & D’Essentials untuk menghibur Anda di rumah. Jadi, tetaplah di rumah, saksikan konser virtual Maliq & D’Essentials dan ikuti program lainnya dalam PKN 2020. Selamat menonton!

survey