Simbolisme Indonesia di Pelataran Candi

Belum lama selepas matahari terbenam di pelataran Candi Prambanan, Sleman, Yogyakarta, menarilah dua sosok anak perempuan dan laki-laki dalam balutan busana putih. Mereka lincah bergerak di antara candi Siwa, Nandi, dan Angsa: Sejumlah bagian dari kompleks situs bersejarah yang dibangun ratusan tahun silam. Sementara keduanya berpindah posisi merespon ruang, sembilan dara yang mengiringi mereka tampak membentuk sekelumit koreografi—semuanya mengenakan topeng berwarna putih. 

Dalam suasana malam yang mengelam syahdu, sepasang anak itu—yang secara naif bergerak kesana kemari dan saling membagi kebahagiaan—menjadi simbol atas kelahiran peradaban manusia atau awal mula kehidupan. 

Inilah sekuen pembuka Parade Mahakarya Topeng Nusantara karya Denny Malik, seorang koreografer terpuji Indonesia yang pada perhelatan pesta olahraga ASIAN GAMES XVIII 2018 menyuguhkan tari kolosal melibatkan hingga 1.600 penari. Dalam gelaran Pekan Kebudayaan Nasional (PKN) 2020, Denny kembali menghadirkan sebuah kemegahan yang membangkitkan kebanggaan atas budaya Nusantara melalui sepilihan topeng yang mewakili nuansa tradisi serta kreasi-kreasi kontemporer. 

Pilihan mengetengahkan topeng dalam garapan kolosalnya kali ini bukanlah dengan sembarang alasan. Selain mengemukakan filosofi topeng yang penting maknanya di dalam linimasa perjalanan kebudayaan bangsa-bangsa, Denny menyampaikan parade topengnya hendak merespons situasi pandemi yang sampai sekarang membayangi. ‘Kita mengenakan masker untuk melindungi diri dari virus Covid-19. Karenanya, saya membayangkan topeng-topeng ini menjadi “pelindung” kita dalam pengertian yang lebih simbolis,’ ujar Denny Malik dalam sebuah wawancara.

Memang sepanjang sejarah budaya kita, topeng mempunyai makna yang jamak. Dia bukan hanya sebagai ekspresi seni, tetapi juga terkait dengan laku spiritual berbagai suku di Nusantara. Beberapa pementasan topeng dalam konteks masyarakat tradisi ditujukan untuk “meruwat” alam semesta dari segala hal buruk dan jahat. 

Meskipun berkonsep parade, Denny Malik tetap ingin menyajikan gelaran secara berbeda. Denny menyusun garapannya ke dalam tujuh sekuen dramaturgi yang masing-masing menggambarkan siklus kehidupan berikut pemaknaan relasi manusia dengan alam, kepada sesamanya, sekaligus dengan Tuhan Yang Maha Kuasa.

Maka begitulah, sekuen yang pertama tadi, diberi tajuk A Begining, mengilustrasikan suka cita semesta, dengan sembilan bidadari elok menari menyambut lahir sepasang anak manusia yang kelak mengisi dunia ini. Gaun putih mereka yang didesain sedemikian rupa memungkinkan para dara menari ibarat malaikat yang bercengkrama begitu riangnya. 

Adegan kemudian beralih ke sisi lain kawasan Candi Prambanan, persisnya pada pelataran Candi Brahma. Di sanalah terdapat 50 penari dalam balutan kostum dan topeng bertemakan flora-fauna tengah memeragakan koreografi perlambangan alam semesta. Kita melihat nuansa yang cerah, indah, dan meneduhkan, yang menyimbolkan keselarasan alam raya tatkala belum dijamah oleh tangan-tangan manusia yang haus kuasa. 

Sementara semesta merayakan keharmoniannya, pada sekuen ketiga yang bertema cinta, muncullah para penari dengan topeng Panji Malang berlanggam gerak berkasih-kasihan yang menawan. Ada sekitar 24 penari yang merespons Loro Blonyo, sebuah filosofi tradisi Jawa tentang kehidupan asmara sepasang manusia. Adegan tari ini dibawakan di kompleks Air Mancur Rama Shinta, dua nama yang sebagaimana kita tahu merupakan tokoh-tokoh dalam epos Ramayana. Denny Malik menambahkan, ‘Cinta kasih inilah yang merawat keberlangsungan kehidupan dan kebudayaan; cinta kasih yang bukan semata soal asmara, melainkan dalam pengertian keselarasan serta keharmonian secara luas.’ 

Namun, ibarat dua sisi mata uang, cinta kasih senantiasa diuji oleh ketamakan dan angkara murka. Inilah yang hadir pada sekuen parade keempat, bertema keburukan dan kemuliaan manusia. Dilangsungkan di area reruntuhan candi yang konon adalah sisa-sisa ketakrampungan karya Bandung Bondowoso, Denny menghadirkan koreografi perwujudan 1.000 wajah manusia dengan segala rupa tabiatnya. Para penari topeng ini tampil kolosal dalam naungan malam di Candi Prambanan, makin tampak magis dengan tata cahaya yang merepresentasikan emosi-emosi manusia. 

Adegan kemudian mengalir ke pelataran Candi Nandi dan Siwa. Bertemulah kita dengan rupa-rupa topeng kepercayaan masyarakat tradisi. Sejumlah 40 penari mengenakan topeng-topeng yang lekat dengan keyakinan budaya di Nusantara, misalnya tari Topeng Hudoq dari Dayak, Topeng Cupak Gerantang dari Nusa Tenggara Barat, hingga topeng Asmat asal Papua. Kesemuanya diramu ke dalam gerakan-gerakan tari ritual penuh energi.  

Babak keenam bertajuk Campur Sari Parahyangan mencerminkan akulturasi dan keberagaman, ditampilkan melalui paduan kostum dan topeng kontemporer di area jalan setapak ring dua Candi Prambanan. Denny mengaku terkesima dengan ragam topeng ala Jawa Barat yang sarat warna dan motif sehingga menonjolkan kekuatan tersendiri dari sisi estetik. Lebih jauh, babak ini merepresentasikan kemampuan manusia sebagai makhluk yang beragam dan berbudaya, sekaligus berakulturasi menciptakan inovasi mahakarya. Selain itu, sekuen keenam juga menyajikan topeng kreasi hasil lomba Topeng Mahakarya Nusantara, berupa 40 topeng finalis dan 10 topeng terbaik, yang ditampilkan lewat berbagai tarian daerah, dari Lenong Betawi sampai Wayang Orang.

Parade Mahakarya Topeng Indonesia ditutup sekuen penghujung di tengah-tengah pelataran dan jalan setapak di depan candi. Para penari membentuk koreografi nan padu, kemudian secara samar-samar mulai menggema sebuah lagu lawas yang populer pada 1979 karya Budiman Hakim dan I Gusti Ngurah Gede, yaitu “Kharisma Indonesia,” dalam aransemen baru yang dibuat Oblet. 

Menyeruaklah tari Bali nan semarak berikut aneka topeng tradisinya, disusul seluruh penari yang bermunculan dari balik reruntuhan candi. Gerakan mereka terasa bertenaga dan rancak dalam koreografi penuh semangat kian menuju klimaks adegan, ketika seluruh penari melepas topeng masing-masing dan menjulurkannya ke udara. Berakhirlah garapan spektakuler yang berdurasi total 35 menit. Bagi Denny, seperti dikutip dari liputan National Geographic Indonesia, Mahakarya Topeng Nusantara merupakan pengingat bahwa kondisi pandemi membuat manusia harus berintrospeksi. Bahwa dalam hidup ini ada kelahiran, kejahatan dan kelembutan, kepercayaan yang berkembang, juga alam yang perlu dirawat. 

Malam berangsur larut di pelataran Candi Prambanan. Selagi penari menanggalkan topengnya, Denny mengajak kita merenung perihal segala ihwal kehidupan melalui garapan yang tidak melulu kolosal dan indah, melainkan sarat simbolisme akan kebudayaan negeri ini. Negeri yang kita cintai, Indonesia. Selamat menyaksikan!