Kua Etnika dan Ricad Hutapea, Syaharani, Endah Laras

Kualitas Etnik-Kontemporer

Ya, setahun lalu tepatnya. Djaduk Ferianto, 13 November 2019, menghembuskan nada terakhir napas hidupnya. Keluarga kerja Kua Etnika kehilangan bapaknya. Tidak goyah. Kua Etnika tetap menjaga kualitas musik etnik yang dibopongnya sejak semula. Djaduk bersama kakaknya, Butet Kertaradjasa dan Purwanto, menggotong musik etnik ke kancah baru. Musik ekspresif. 

Kua Etnika menceburkan musik etnik ke dalam arus musik modern. Alhasil, mencipta eksistensi baru dan terus membaru. Kua Etnika adalah musik mengalir. Ia tidak ingin dibatasi dan membatasi. Musik yang bersahabat. Bagaimana kita dengan sahabat kala berjumpa, maka rianglah hati. Demikianlah tatkala pemusik Kua Etnika berjumpa dengan musiknya; sangat menikmatinya. Pementasan adalah ruang keluarga bagi para musisi Kua Etnika. Nyaman.

Pesona Kua Etnika terdapat pada jiwa multikulturalnya. Inilah inti kekuatannya. Mentalitas dasar dalam bermusiknya. Musik etnik yang datang dari masa silam diperkenalkan dengan segala kebaruan musik di masa kini. Jadi, tidak ada benturan melainkan berpelukan. Tidak ada yang lain melainkan menyatu. Begitulah Kua Etnika selain riang juga hangat. Ya, selaik sifat dan karakter manusia tropis. Suka beriang gembira plus kumpul-kumpul. Musik guyub.

Ansambel Kua Etnika menafsir musik etnik dengan kerangka imajinasi dan bunyi-bunyi baru secara estetis. Proses penafsiran ini dihasilkan dengan mempertemukan alat-alat musik etnik dengan peralatan musik kontemporer. Lagu-lagu yang tercipta pun tak terbatas dalam bahasa Indonesia. Penggunaan bahasa asing dan bahasa daerah sangat dibiasakan. Sehingga Kua Etnika mampu bergaul dalam pergaulan musik global. Berkeliling antar negara. Berjumpa banyak bangsa. Pun, tidak asing bila bermain di desa-desa.

Antara 1995 hingga 1996, Kua Etnika dikandung dan dilahirkan. Ia berjalan sendiri mengarungi musik etnik kontemporer selama beberapa tahun. Perjalanan menggubah musik kontemporer menggiring Kua Etnika kepada ruang-ruang musik baru yang tidak bisa dihindari, melainkan diterima. Maka, lahirlah adik kandungnya, Sinten Remen. Saudara kandung bermusik Kua Etnika ini lebih doyan melahap menu humor gaya orkes dangdut. Jadilah, dangdut kontemporer. Kua Etnika mendapat adik lucu.

Berikut selayang pandang konser-konser Kua Etnika pada satu windu pertamanya saja: Orkes Sumpeg Nang Ning Nong di Jakarta dan Yogyakarta (1997), Musik Perkusi Kompi Susu di Jakarta, Bandung, Surakarta, Surabaya, Malang, dan Yogyakarta (1998), Ethnovaganza Concert di Jakarta (1999), Mildcoustic Concert (1999), Ritus Swara di Bali, Jakarta dan Yogyakarta (2000), Rhythms & Movement di Malaysia (2001), Many Skins One Rhythms kolaborasi dengan musisi Malaysia dan India di Yogyakarta (2002), Pata Java Tour kolaborasi dengan Pata Master dari Jerman di Yogyakarta, Bandung dan Jakarta (2003), Everlasting Kretek Heritage konser keliling enam kota di lima negara Eropa (Hungaria, Polandia, Austria, Belanda dan Republik Ceko) pada 2004.

Terhitung sejak tengah dekade 1990-an hingga kini, Kua Etnika telah dewasa. Sudah hampir seperempat abad lamanya. Terbilang berumur 24 jalan 25. Pentas ke pentas telah dilakoni. Perjumpaan, pengayaan, pembaruan telah hilir mudik terjadi. Kini Kua Etnika akan tampil kembali tanpa persona sang pendiri. Pekan Kebudayaan Nasional 2020 akan memberi ruang berekspresi. Kua Etnika akan berkolaborasi. Komposisi terbaru pun akan disuguhi. 

Pada pergelaran PKN 2020, Kua Etnika menggandeng Ricad Hutapea (saxophonist), Wawan (cellis), Syaharani (penyanyi jazz) dan Endah Laras (penyanyi keroncong). Sedangkan dalam Kua Etnika sendiri hadir Beni Fuad Herawan (drum), Dany Eriawan (bass), Ari Senjayanto (guitar), Indra Gunawan dan Yudi (keyboard), Poerwanto (bonang dan reong), Sukoco (kendang), Sony dan Sandro (saron dan pemade), Silir Pujiwati (vocal).

Repertoar lagu yang akan dibawakan pertama adalah “Sintren” yang dinyanyikan Endah Laras digiring musik Kua Etnika dan Ricad Hutapea. Kedua, “Panuntun, kembali Endah Laras melantunkan lagu dengan iringan Kua Etnika, kini bersama Wawan. Ketiga dan Keempat, Kua Etnika menampilkan personilnya sendiri dengan lagu “Gandekan” dan “Angin. Lagu “Angin” atau “Angin Gunung” komposisinya dibuatkan khusus untuk Djaduk Ferianto yang telah berpulang. Komposisi ini didasarkan dari melodi hasil siulan Djaduk yang direkam dalam ponselnya. Siulan ini tercipta saat Djaduk sedang mengikuti Cape Town International Jazz Festival di Afrika Selatan. Kelima dan Keenam, turunlah Syaharani membawakan lagu “Dua Benua” dan “Donau.” 

Penutup lagu-lagu adalah “Kupu Tarung. “Kupu Tarung” adalah kolaborasi instrumental Kua Etnika dengan permainan saxophone Ricad Hutapea dan tetabuhan kelompok musik rebana. Jadi, dapat dibayangkan akan semeriah apa pentas ini. Maka, mari saksikan kualitas musik etnik (kontemporer) dari Kua Etnika dan kawan-kawan.

survey