Kenapa Harus Rendang?

Pembicara & Moderator:

William Wongso (Chef)

Rendang, Enak dan Komunal

Jika ada yang beranggapan bahwa makanan dengan kualitas dan cita rasa tinggi adalah makanan yang mewah dan mahal, sudah pasti ia mengabaikan rendang. Pada satu sisi rendang memang dibuat dalam waktu yang lama, menggunakan bagian daging terbaik, santan berkualitas, cabai, dan bumbu yang tidak bisa dipergantikan—secara tradisional cenderung dihidangkan pada acara-acara adat. Seolah-olah dibuat untuk kalangan tertentu belaka. Di lain sisi, rendang juga makanan komunal, yang mengakomodir kebersamaan dan kesetaraan masyarakat Minangkabau, tempat dari mana ia berasal.

Melalui proses pembuatan sampai tata cara menghidangkan rendang, kita akan tahu bahwa setiap tangan mesti ikut “berlumur” kerjaan, setiap lambung berhak terisi makanan enak. Tidak peduli apakah itu penghulu, datuk, ibu, bapak, semenda, kemenakan, anak, semuanya akan terlibat dalam proses pembuatan rendang. Tentu saja sesuai kapasitas dan keahliannya masing-masing. Selagi perempuan memilah dan mengupas rempah serta dedaunan, lelaki ngelubak nangka, membelah batok kelapa, memiyuh santan, dan memotong daging. Ketika rendang sebagai kapalo samba (induk makanan) beserta aneka makanan lain terhidang, lihatlah bagaimana posisinya di lingkaran perjamuan. Piring yang berisi rendang disebar terarur di segala titik, berada dalam jangkauan setiap orang yang hadir dalam sebuah hajatan. 

Selain dari segi adat dan kebudayaan tersebut, rendang sebagai makanan komunal juga tampak pada kualitas intrinsiknya yang tahan lama. Bahkan orang Minangkabau punya lelucon bahwa rendang bisa dapat gelar haji. Karena ketika orang-orang berangkat dan pulang dari Mekah, dalam tas mereka tersisa satu-dua potong daging rendang yang masih bisa dimakan. Ya, rendang mengiringi keberangkatan orang Minangkabau ke mana mereka pergi jauh menjauhi kampung halaman. Orang-orang yang pergi merantau, akan dibekali serantang rendang oleh sanak-familinya. Oleh karena itulah, rendang tersebar, dikenal, dan dikonsumsi di seluruh penjuru nusantara, mulai dari Indonesia sampai negeri tetangga.

Dalam konferensi Pekan Kebudayaan Nasional 2020 bertajuk “Kenapa Harus Rendang,” William Wongso, ahli kuliner dan gastronomi Indonesia menuturkan kenapa ia begitu giat mempromosikan rendang sebagai makanan khas Indonesia ke mancanegara. Ada lebih dari 700 suku bangsa yang tersebar di 17.000 kepulauan Indonesia, dan masing-masing memiliki adat istiadat, bahasa, dan makanan tradisionalnya sendiri. Tentu ada begitu banyak cita rasa yang dimiliki negeri ini, dengan kelezatan khasnya masing-masing. Namun ketika William Wongso diundang oleh Culinary Institute of America pada 2009 untuk menampilkan satu jenis makanan khas Indonesia di hadapan lebih 600 ahli makanan, chef, kritikus makanan kaliber dunia, ia menampilkan rendang.

Lima belas jenis bumbu yang memiliki karakteristik rasa berbeda, namun saat diolah terhasilkan harmonisasi rasa yang kuat. Begitulah rendang kemudian memukau para pegiat makanan kaliber dunia, ungkap William Wongso. Rendang, bagi pecinta makanan dari Eropa dan Amerika adalah misteri. Dan misteri, merupakan nilai yang selalu dicari dari makanan. Akan sangat berbeda ketika orang-orang mencicipi makanan yang enak, tapi tahu komposisi dan cara pengolahannya dengan mencicipi makanan sembari menduga-duga perpaduan bumbunya. ‘Makanan adalah soal rasa, dan pengalaman itu tidak bisa digantikan,’ ujar pendiri Aku Cinta Makanan Indonesia tersebut lebih lanjut.

Namun, selain perkara rasa rendang yang pada 2011 dan 2017 lalu masuk dalam 50 makanan terbaik dunia versi CNNgo, nilai lain yang membuat rendang layak mewakili Indonesia untuk tampil di dunia internasional lantaran popularitasnya di masyarakat kita. Setiap orang, bahkan punya rendang terenak versinya. Ada yang suka rendang berbumbu hitam pekat dan kering, namun ada juga orang yang suka dengan rendang yang kuahnya masih encer dan berwarna coklat. Ada yang suka dengan rendang pedas, namun juga ada yang suka rendang agak manis.

Dalam konteks ini, komunalitas rendang pun tidak lagi sekadar mewakili kebudayaan egaliter Minangkabau, alih-alih menjadi alat komunikasi lintas budaya, baik di Indonesia maupun di luar negeri. Jika berkunjung ke warteg atau tempat yang bukan rumah makan Padang, kita sering mendapati rendang dengan berbagai variannya. Orang Sunda, Jawa, Melayu, dan suku lainnya di Indonesia membuat rendang yang sesuai dengan lidah masing-masing. Atau jika berkunjung ke Brunei, Malaysia, dan Singapura, kita bahkan menemukan rendang yang lain lagi.

Rendang yang tidak diketahui secara pasti sejarah resminya, meskipun sekiranya ditengarai terpengaruh masakan India, Arab, dan Cina yang datang ke pedalaman Sumatra untuk berdagang, saat ini justru berkembang dan mempengaruhi kultur kuliner di pelbagai tempat. Sekarang, rendang tidak lagi harus berisi potongan daging sapi atau kerbau, tapi bisa ayam, udang, kerang, telur, bahkan pakis. Program William Wongso membawa rendang ke agenda pertemuan kuliner tingkat internasional patut dilanjutkan oleh siapapun aktivis makanan generasi selanjutnya. Kelak, yang dipromosikan tidak sebatas rendang, tapi coto, se’i, tinoransak, atau rica-rica. Yang jelas kita perlu melestarikan, mengembangkan, dan memperkenalkan misteri makanan nusantara kepada khalayak dunia.

survey