Kekuatan Harmonisasi Budaya Antar Negara

Pembicara & Moderator:

H.E. Mr. Jari Sinkari (Duta Besar Finlandia untuk Indonesia, ASEAN, dan Timor Leste)
Dr. Christine Fuchs (Head of STADTKULTUR Netzwerk Bayerischer Städte e.V, Goethe-Institut Indonesien)
Dr. Restu Gunawan (Direktur Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan, Kemdikbud)

Antara Perputaran Ekonomi dan Pemulihan Bumi

Hanya dalam waktu lebih kurang satu abad, manusia modern telah meluluhlantakkan Bumi. Tidak lain karena aktivitas ekonomi berskala yang luar biasa besar dan ambisius. Meskipun dalam berbagai catatan sejarah, ada sejumlah kekacauan yang melanda selama peradaban kuno, mulai dari peperangan sampai bencana alam yang pada dasarnya juga bersumber dari perebutan kekuasaan dan lahan, berbagai teknologi yang dikembangkan oleh manusia hari ini benar-benar mampu menimbulkan kerusakan yang belum pernah ada presedennya di masa silam. 

Oleh sebab itu, dibuatlah konferensi bertajuk “Kekuatan Harmonisasi Budaya Antar Negara” pada salah satu program Pekan Kebudayaan Nasional 2020. Konferensi tersebut melibatkan tiga orang narasumber lintas negara yang mengupas kontribusi kebudayaan yang berperan dalam penciptaan harmonisasi, tidak hanya antarbangsa, tetapi juga antara manusia dan lingkungan hidupnya.

Duta besar Finlandia bagi Indonesia, Jari Sinkari, kembali mengingatkan kita betapa pentingnya kerja sama antarnegara dalam mengantisipasi kerusakan lingkungan hidup yang kian memburuk. Pertanyaan penting yang diutarakan Jari Sinkari, melalui pemaparannya berjudul Economic and Environmental Resilience, yakni “Apakah setelah kita berhasil keluar dari situasi pandemi saat ini, kita akan mampu melawan perubahan iklim secara lebih baik? Apa yang kita butuhkan untuk mengubah sikap dan cara pandang kita, terkait keberlangsungan lingkungan hidup?”

Salah satu kunci bertahan menghadapi pandemi sekaligus mewujudkan lingkungan hidup berkelanjutan adalah konsep Circular Economy. Secara ringkas, menurut Jari Sinkari, Circular Economy merupakan sebuah kerja produksi yang pada satu sisi tetap meningkatkan perekonomian, dengan meminimalisasi penggunaan material, memperoleh pertumbuhan ekonomi yang stabil, sambil mengurangi beban yang kita timpakan kepada alam dan sumber dayanya. Hal ini berkenaan dengan produksi melalui cara mendaur ulang sisa suatu industri menjadi bahan baku industri lain dan peralihan basis konsumsi, yang sifatnya kepemilikan personal menjadi milik bersama. Saat ini, hanya 8,6 % saja aktivitas ekonomi yang berbasis model sirkular, dan sejauh kita sadar akan kebutuhan itulah, nasib keberlangsungan hidup kita bisa menjadi lebih baik di masa mendatang.

Lebih lanjut, Jari Sinkari memaparkan perkembangan Finlandia yang kini tengah mempersiapkan strategi ekonomi jangka panjang dalam mempromosikan Circular Economy. Target yang dicanangkannya adalah perubahan model ekonomi yang telah berlangsung selama ini menjadi konsep Circular Economy pada 2035 mendatang. Namun, butuh kerja sama seluruh negara agar niat menyehatkan bumi menjadi lebih baik bagi generasi mendatang bisa terwujud. Oleh karena itu, pada 13 April 2019, Menteri Keuangan Finlandia dan Chile bersama 26 negara lain menggagas Coalition of Finance Minister for Climate Action. Sebuah gerakan antarbangsa yang merancang prinsip pengelolaan ekonomi sejalan dengan keberlangsungan lingkungan hidup. Hasil rancangannya tertuang dalam enam butir prinsip Helsinki Principle.

Indonesia bergabung dalam koalisi yang kini beranggotakan lebih kurang 50 negara tersebut. Kita berharap, Indonesia tidak sekadar berpartisipasi karena kewajiban sebagai bagian komunitas Internasional. Sebagaimana kita tahu, negara ini justru memegang peran sentral dalam memperbaiki kondisi lingkungan hidup secara global. Sebagai negara tropis dengan luas hutan dan rawa-gambut yang signifikan, terutama di Kalimantan, Indonesia memiliki potensi tinggi, baik sebagai sumber emisi (source) maupun sebagai resapan (sink). Duta Besar Inggris untuk Indonesia pernah menyatakan, apabila Indonesia gagal memenuhi target Paris Agreement, maka dunia juga gagal menyelamatkan iklim bumi.

Aktivitas ekonomi yang sangat ambisius tidak hanya berdampak pada lingkungan hidup, tetapi juga hubungan antar bangsa dan negara. Selama abad modern ini berlangsung, ada begitu banyak perperangan, konflik, bahkan genosida antarbangsa, yang disebabkan perebutan lahan ekonomi. Untuk itu, dalam konferensi bertajuk “Kekuatan Harmonisasi Budaya Antar Negara” di PKN 2020, Dr. Crhistine Fucs menuturkan pengalamannya dalam mempromosikan dialog antar budaya dan peningkatan pendidikan budaya, yang telah ia kerjakan bersama lembaga seni dan budaya di Bavaria bernama Stadkultur Netwerk Bayerischer Stadte e.V. Dari pemaparan Dr. Christine Fucs, kita tersadarkan bahwa produk, gerakan dan aktivitas seni dan budaya adalah medium paling tepat untuk meningkatkan toleransi, cara hidup bersama untuk lebih menghormati bumi.

Bagaimana aktivitas ekonomi semestinya menjadi jalan untuk menjalin hubungan antarbangsa dan budaya, bisa kita peroleh dari refleksi Jalur Rempah melalui pemaparan Dr. Restu Gunawan M. Hum., yang kini menjabat Direktur Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan. Dengan konferensi inilah, kita bisa merekonstruksi Jalur Rempah, sebuah jalur komoditas cengkeh, pala, kayu manis, dan lain sebagainya yang telah tercipta sejak sebelum Masehi sebagai pengingat nostalgia atas kejayaan zaman maritim dan perdagangan rempah masyarakat Indonesia. Di samping itu, kita sekaligus menyadari bahwa harmonisasi budaya dapat membuat kita terhindar dari perang dan pertikaian, sebab aktivitas perdagangan menjadi perekat antarbudaya yang membuat kita lebih kuat di bumi yang niscaya sehat.

survey