Kebudayaan Indonesia Menurut Para Pemuda

Pembicara & Moderator:

Faisal Oddang (Penulis)
Iman Usman (Ruangguru)
Denica Flesch (Sukkhacitta)

Generasi Muda yang Berdaya dalam Budaya

Pada pidato penutupan Kongres Kebudayaan Indonesia 2018 lalu, Presiden Joko Widodo  menutup sambutannya dengan membaca puisi Diponegoro (1943) karya Chairil Anwar. Puisi ini memiliki daya kuat membangkitkan semangat. Semangat untuk sama-sama berjuang memajukan diri dalam membangun dan berkarya. Sebab hidup itu sekali, maka berartilah. Berarti bagi negeri yang kita cintai, Indonesia. 

Daya puisi Diponegoro ditangkap oleh Presiden untuk disalurkan ke dalam usaha-usaha memajukan Kebudayaan Indonesia melalui penyusunan Strategi Kebudayaan. Tentu, daya itu berasal dari semangat kaum muda. Sebuah puisi yang lahir dari tangan pemuda energik, dari Chairil yang berusia 21 tahun. Semangat Chairil yang terekam dalam puisinya itu sangat layak untuk diejawantahkan kembali ke dalam ruang-ruang kehidupan muda-mudi sekarang ini. Kerja dan pekerjaan kebudayaan di masa sekarang mestilah digalang dan diemban bersama generasi muda.

Tidak sedikit contoh fakta sejarah tentang peran pemuda dalam arus Kebudayaan Indonesia. Mari kita ambil tiga contohnya. Pertama, Merari Siregar—pemuda asal Sipirok, Sumatera Utara. Pada usia 24 tahun, Merari mengarang Azab dan Sengsara (1920) yang menjadi penanda awal kesusastraan Indonesia modern. Kedua, Jodjana—anak patih keraton Yogyakarta. Ia menarikan karyanya Kelono (1916) di Universitas Utrecht, Belanda pada umur 24. Karya tarinya dinilai kontemporer saat itu di Eropa. Ketiga, Rasuna Said asal Maninjau, Sumatera Barat. Belum genap usia 24, ia telah memperjuangkan emansipasi wanita dengan menjadi guru, aktivis cum orator politik, dan pemimpin redaksi majalah Raya. Rasuna ialah perempuan Indonesia pertama di Hindia Belanda yang dipenjara karena terkena masalah hukum Speek Delict (hukum kolonial bagi yang menentang Belanda di muka umum). 

Tiga tokoh tersebut hanyalah sedikit dari nama-nama pemuda-pemudi yang memiliki kontribusi secara mikro dalam periode awal sejarah Indonesia modern. Di lingkup sejarah makro, perhimpunan pergerakan nasional yang timbul-tenggelam masa pra kemerdekaan merupakan salah satu sumbangsih pemuda dalam membangun cita-cita bersama: Indonesia Merdeka. Pemuda revolusioner adalah mereka yang terdepan di medan perang membela revolusi kemerdekaan. Ben Anderson mengistilahkannya dengan frasa “Revolusi Pemuda.” 

Bagaimana generasi muda dewasa ini? Seperti apakah peran mereka dalam pusaran kebudayaan Indonesia saat ini? Bagaimana mereka menjawab semangat dan tantangan di zaman global tanpa tercerabut dari akar budayanya? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini akan diupayakan dijawab oleh tiga pemuda yang tekun berkarya. Mari simak satu per satu profil dari tiga pemuda yang menjadi narasumber dalam konferensi Pekan Kebudayaan Nasional (PKN) 2020 dalam sub tema “Kebudayaan Indonesia Menurut Para Pemuda”.

Pertama, Faisal Oddang. Profesinya adalah penulis. Pemuda berusia 26 tahun dan kelahiran Wajo, Sulawesi Selatan ini merupakan lulusan jurusan Sastra Indonesia Universitas Hasanuddin. Tema-tema dalam karyanya seperti novel, puisi dan cerpen, banyak terkait dengan kebudayaan Bugis, Sulawesi Selatan. Pada 2014, Di Tubuh Tarra dalam Rahim Pohon meraih penghargaan Cerpen Terbaik Kompas. Novelnya Puya ke Puya menyabet Hadiah IV Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta. Atas novel tersebut, majalah Tempo memilihnya sebagai Tokoh Seni Tempo 2015 di bidang prosa. Pada konferensi PKN 2020, Faisal berbagi kisah latar belakang kepenulisannya dan cara pandangnya terhadap bahasa dan sastra.

Kedua, Iman Usman. Pemuda 28 tahun kelahiran Padang dan berkuliah di jurusan Hubungan Internasional Universitas Indonesia ini banyak beraktivitas sebagai aktivis sosial, penulis, dan pembicara publik, baik di dalam maupun luar negeri. Namanya tidak asing lagi di dunia pendidikan daring. Sebab, Iman adalah pendiri dan direktur Ruangguru, perusahaan startup yang bergerak di ranah pendidikan dan teknologi. Ruangguru adalah aplikasi belajar terbesar di Asia Tenggara yang didirikan sejak 2014. Aplikasi belajar ini telah diakses lebih dari 20 juta murid dari Indonesia, Thailand, dan Vietnam. Tujuan Ruangguru adalah untuk memberi akses pendidikan yang sama bagi seluruh peserta didik Indonesia. Bagaimanakah pengalaman sang pendiri Ruangguru merintis dan mengembangkan usahanya? Sejauh mana pencapaian keberhasilan dan tantangan yang kelak dihadapinya? Pertanyaan itulah yang disikapi Iman Usman melalui pemaparannya.

Ketiga, Denica Flesch. Ia adalah pendiri Sukkhacitta. Perempuan berusia 29 tahun ini seorang ekonom lulusan Universitas Erasmus Rotterdam. Denica pernah bekerja sebagai pengembang program sosial Bank Dunia di Indonesia. Selama bekerja untuk Bank Dunia, ia banyak melakukan perjalanan ke berbagai pelosok Tanah Air. Dengan kesempatan itu, ia memahami sistem industri kerajinan di Indonesia. Pengalamannya bekerja untuk Bank Dunia ia terapkan untuk mengembangkan Sukkhacitta, usaha fesyen yang memberdayakan para perajin di desa-desa yang dimulai sejak 2016. Pada mulanya, Denica memulai Sukkhacitta bersama tiga ibu rumah tangga. Kini, empat tahun berjalan, Sukkhacitta tersebar di tujuh desa dan berdampak kepada kehidupan 1.282 jiwa di Jawa, Nusa Tenggara, dan Kalimantan. Apakah landasan filosofis bisnis fesyen Sukkhacitta di tengah industri fesyen serba modern saat ini? Bagaimana Denica mempertahankan visi usahanya? Pertanyaan semacam itu akan Denica ketengahkan perihal relevansi Sukkhacitta terhadap kebudayaan Indonesia.

Selamat bersukacita mengikuti sesi “Kebudayaan Indonesia Menurut Para Pemuda” dalam rangkaian konferensi Pekan Kebudayaan Nasional 2020.

survey