Kearifan Lokal vs Krisis Iklim

Pembicara & Moderator:

Nilla Patty (Zero Waste ID)
Thanya Ponggawa (Waterhouse Project)
David Christian (CoFounder EvoWare)

Solusi Sampah dan Berbagi Air

Sampah. Kata kunci dalam permasalahan lingkungan hidup. Sejak kapan manusia menimbun sampah? Tercatat, sudah sejak masa Mesolitikum, kira-kira 10.000 tahun lalu manusia menumpuk sampahnya. Periode masa inilah momentum awal manusia memilih hidup menetap secara sederhana dan memiliki mata pencaharian berburu dan meramu. Bukti arkeologisnya, di Indonesia ditemukan situs-situs yang dijadikan sebagai tempat timbunan sampah dari masa prasejarah. 

Mungkin, sebagian kita masih ingat pelajaran sejarah sewaktu sekolah dulu. Ada istilah kjokkenmoddinger dan abris sous roche yang diajarkan oleh guru kita. Istilah pertama adalah sampah dapur berupa kulit kerang dan siput yang menumpuk di pesisir pantai seperti yang ditemukan di situs Pantai Timur Sumatra, sekitar pantai Gunung Kidul, Sumenep, dan lainnya. Sementara, istilah kedua adalah sampah serupa, namun berada di gua-gua purbakala seperti yang ditemukan di sejumlah gua di Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Timor, Rote, dan lainnya. Pesisir pantai dan gua adalah pusat kebudayaan manusia zaman kuno. Di sanalah, mula-mula sampah tertimbun, bertumpuk-tumpuk. 

Bayangkan, jika sampah organik yang berasal dari kerang dan siput saja masih tersisa bekasnya selama ribuan tahun berlalu. Bagaimana dengan sampah kita di zaman ini, terutama sampah anorganik? Data mutakhir yang dilansir dari pendataan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, seluruh sampah di Indonesia ditaksir mencapai 67,8 ton. Apa jadinya kalau sampah tersebut membebani anak-cucu kita di masa yang akan datang? Selagi kita enggan menjadi biang keladi atas kesengsaraan hidup anak-cucu, kita sepatutnya memikirkan masa depan mereka karena sampah juga berkenaan dengan kerusakan iklim yang luar biasa. Untuk itu, mari kita renungi sejenak, sambil membayangkan solusi yang tepat guna memberi perubahan positif terhadap bagi lingkungan, dimulai dari hal-hal kecil. 

Solusi pertamanya, yaitu mengurangi sampah rumah. Setiap barang dan makanan yang kita beli di toko berarti kita membawa sampah ke dalam rumah dalam kantong plastik, kemasan plastik, botol plastik, dan seterusnya. Oleh karena itu, mulailah gaya hidup minim sampah. Kurangi penggunaan kantong plastik. Kurangi belanja bahan makanan berkemasan plastik. Kurangi penggunaan alat-alat sekali pakai plastik atau styrofoam. Jadikanlah perilaku baru ini sebagai kebiasaan pribadi. Lebih baik jika kita bisa mengajak orang di sekitar. Lalu, solusi kedua, yakni mengonsumsi barang-barang yang terbuat dari bahan ramah lingkungan dan bersifat tidak sekali pakai.

Setelah membahas sampah, kita perlu memikirkan perkara lain, yaitu ketersediaan air bersih. Indonesia adalah negeri perairan. Enam puluh persen dari luas wilayahnya adalah lautan. Menurut data Water Environment Partnership in Asia, Indonesia merupakan salah satu negara terkaya sumber daya airnya karena menyimpan 6% potensi air dunia. Walaupun demikian, masih ada sejumlah daerah yang mengalami kesulitan air bersih. Artinya, akses memperoleh air bersih yang layak konsumsi masih belum merata di Indonesia. Beberapa daerah masih mengalami problem ini, antara lain Jawa, kepulauan Nusa Tenggara (Barat dan Timur), Sulawesi Barat, Kalimantan Selatan, Papua, Lampung, dan Bengkulu. 

Penyebab utama dari krisis air bersih ini adalah karena topografi dan diperparah oleh musim panas berkepanjangan karena perubahan iklim. Apa solusinya? Diperlukan kerja sama berbagai elemen masyarakat untuk secara mandiri menyediakan akses mengatasi kekeringan. Sejak lampau, orang tua kita dulu kerap memberikan air kepada tetangga yang membutuhkan. Zaman orang tua kita, di depan rumah kerap disediakan gentong atau kendi berisi air minum. Air tersebut juga bisa dipakai untuk membasuh kaki bagi tamu atau pejalan kaki yang melintas. Inilah salah satu wujud kearifan lokal bangsa kita, yakni berbagi air. 

Persoalan sampah dan akses air bersih yang diurai selayang pandang di atas akan secara lebih mendalam diperbincangkan dalam satu sesi konferensi bertajuk “Kearifan Lokal dan Krisis Iklim” di Pekan Kebudayaan Nasional (PKN) 2020. Pada konferensi ini, ada tiga narasumber yang dihadirkan. Mereka mewakili orang-orang yang telah berdedikasi secara kompeten di bidang lingkungan hidup. Sesi konferensi inilah yang menguji kepedulian kita terhadap nasib masa depan anak-cucu kita. Oleh sebab itu, dengan senang hati PKN pun mengajak kita mempelajari ketiga pengabdian narasumber di bidangnya masing-masing. 

Narasumber pertama adalah Nilla Patty dari komunitas Zero Waste ID yang gencar melakukan aktivisme gerakan gaya hidup minim sampah dan mempromosikan komoditas yang ramah lingkungan dan bukan sekali pakai. Narasumber kedua adalah Thanya Ponggawa dari komunitas Waterhouse Project, sebuah gerakan non profit yang berupaya mencari jalan keluar dari masalah kekurangan air bersih di berbagai daerah di Indonesia. Terakhir, David Christian, pendiri EvoWare, perusahaan startup yang memproduksi peralatan makan yang terbuat dari bahan alami yang bisa pula dimakan dan mudah terurai di alam karena terbuat dari bahan rumput laut, beras, dan lainnya. Semoga kita menjadi arif dan mengurangi krisis. Selamat menyaksikan!

survey