Isyana Sarasvati

Klasik yang Populer

Pada suatu hari, sebuah hari yang istimewa di Jepang, Isyana Sarasvati mengikuti International Junior Original Concert (IJOC) pada 2008. Peristiwa ini membuktikan kecemerlangan Isyana sebagai musisi. Ketika itu, ia tercatat masih berusia 15 tahun. Dalam konser IJOC yang dihelat Yamaha tersebut, Isyana menyajikan komposisi berjudul “The Wings of Your Shadow.” Komposisinya bersaing dengan berbagai komposisi dari 3.500 peserta lainnya. Hasilnya, karya Isyana berhasil masuk ke jajaran Top 12 komposisi terbaik di dunia. Setelahnya, “The Wings of Your Shadow” menjadi lagu wajib di IJOC.

Pelantun “Tetap Dalam Jiwa” ini terlahir sebagai anak seorang guru musik klasik. Isyana belajar musik sejak balita. Sedari belia, Isyana sudah akrab dengan sejumlah alat musik, di antaranya piano, electone, flute, biola, dan saksofon. Pada usia 16 tahun, setahun setelah IJOC, Isyana memperoleh beasiswa untuk belajar musik di Nanyang Academy of Fine Arts (NAFA) dari pemerintah Singapura. Tuntas Diploma NAFA, bekerja sama dengan The Royal College of Music, London, memberikan beasiswa penuh kepada Isyana. Pada 2015, Isyana meraih Sarjana Musik dengan predikat lulusan terbaik NAFA.

Publik tanah air mulai mengenali Isyana Sarasvati lewat kanal YouTubenya, ketika wanita kelahiran Bandung ini membuat cover lagu-lagu yang populer di era 2012–2013-an. Pada saat itu, Isyana masih terhitung sebagai mahasiswi NAFA sehingga ia belum merasa cukup siap untuk menjawab tawaran Produser Sony Music Indonesia (SMI) yang tertarik dengan musikalitasnya. Kendati, terbukti sebetulnya SMI tidak butuh waktu lama untuk menggaet Isyana. Baru pada 2014, Isyana menandatangani kontrak dengan SMI dan merilis tiga album, yaitu Explore! (2015), Paradox (2017) dan, Lexicon (2019). 

Seperti judulnya, Explore! adalah album penjelajahan bagi Isyana Sarasvati. Daya jelajah tampak pada kecenderungan genre pop dan R&B yang sebetulnya asing bagi Isyana yang berlatar musik klasik. Single album ini, “Tetap Dalam Jiwa,” melambungkan namanya di kancah musik nasional. Selain itu, judul album ini juga mewakili tema-tema yang tersemat pada lagunya. Dalam Explore!, Isyana tidak hanya menggali sentuhan aransemen pop, tetapi juga menyerap kisah-kisah yang ia simak dari teman-teman karibnya. Kisah-kisah itulah yang menjadi sumber inspirasinya dalam penggubahan lirik. 

Paradox sebaliknya. Sebagian besar liriknya diolah berdasarkan pengalaman Isyana sendiri. Berkat bantuan beberapa produser Swedia, delapan dari sepuluh track dalam Paradox direkam di negeri tersebut. Paradox sukses mengantar Isyana meraih banyak penghargaan. Single “Anganku Anganmu,” yang ia lantunkan bersama Raisa, menoreh dua kategori penghargaan dari Anugerah Musik Indonesia, dan sejumlah penghargaan lainnya, antara lain Anugerah Planet Muzik, Cornetto Pop Awards, Mnet Asian Music Awards, dan SCTV Music Awards. Selain itu, video klip “Winter Song” meraih penghargaan dari Maya Awards.

Pada 2 September 2018, Isyana Sarasvati mendapat kesempatan spesial untuk membuka Upacara Penutupan Asian Games 2018 dengan lagu gubahannya sendiri, “Asia’s Who We Are. Hujan yang turun rintik-rintik tidak menghentikannya. Isyana terus saja bernyanyi, memukau lebih dari 55.000 penonton yang memadati stadion Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta. Setahun kemudian, bersama penyanyi pria yang berduet dengannya di single “Terpesona” dalam Paradox, Gamaliel Tapiheru, Isyana Sarasvati membawakan lagu legendaris, “A Whole New World,” yang pada 1992 silam dipopulerkan Peabo Bryson dan Regina Belle. Lagu itu mengisi album musik pengantar film Disney, Aladdin, untuk rilisan Indonesia.

Meskipun terkenal sebagai musisi pop dan R&B di Indonesia, Isyana mengaku bahwa musik yang paling dekat dengan jiwanya adalah musik klasik. Baginya, musik klasik memberi energi lain yang selalu membuatnya rendah hati sehingga membentuknya sebagai pribadi introver. Musik, bagi Isyana secara pribadi, adalah media komunikasi yang membantunya dalam bersosialisasi. Suatu kali, ia mengakui punya keterbatasan aspek “kecerdasan sosial” sewaktu kecil. “Aku susah buat bicara sama orang,” tuturnya. Penyebabnya, sejak usia belia, Isyana tumbuh berpindah-pindah bersama keluarganya antara Indonesia dan Belgia, hingga akhirnya benar-benar menetap di tanah air. 

Kesulitan berkomunikasi itulah yang justru menjadi faktor positif utama terhadap kekaryaan Isyana. Alhasil, ia lebih banyak menumpahkan ekspresi perasaannya melalui musik, terutama musik klasik. Atas pengaruh musik yang begitu kuat dan berkesan dalam kehidupan pribadi Isyana, album Lexicon diciptakan. Bagaimanapun, musik itu sendiri adalah leksikon bagi Isyana. Musik meneguhkan hati Isyana sehingga ia mampu menghadapi rasa takutnya. Musik, cara Isyana berinteraksi dengan banyak orang, menjangkau siapa pun yang belum pernah ia duga atau temui sebelumnya.

Kemunculan Lexicon mengejutkan sebagian pendengar baru karya Isyana yang mulai mengenalnya lewat Tetap Dalam Jiwa. Aransemen musik serta lirik dalam Lexicon jauh dari selera pasar. Lexicon adalah jati diri Isyana sesungguhnya: ia tumpahkan seluruh emosi dan idealisme bermusiknya. Album ini menihilkan konstruksi Isyana selaku pelantun “Tetap Dalam Jiwa” dan menjelma Isyana sebagai penyanyi opera yang mewujudkan mimpi besarnya sebagai komponis musik klasik. Pada peluncuran Lexicon di Cikini, 29 November 2019, Isyana mengakui Lexicon sebagai kamus untuk mengenal dirinya. Salah satu singlenya, “Sikap Duniawi,” adalah pernyataan hal itu secara artistik. “Selamat datang padaku yang baru,” lantunnya. Maya Awards menyatakan video klip single tersebut sebagai video klip terbaik. 

Sementara itu, Lexicon, lagu yang menjadi judul album, memukau musisi senior seperti Anang Hermansyah dan Maia Estianty tatkala Isyana membawakannya di Indonesian Idol. Lexicon juga telah membuat Armand Maulana merekomendasikan album tersebut di akun Instagram-nya sehingga membuat penyanyi lain, yaitu Ari Lasso, langsung mengunduhnya. Dalam satu kesempatan, Isyana mengatakan Lexicon adalah lagu yang mempunyai ikatan emosional paling kuat dengan kejiwaannya. Pada masa-masa awal, ia selalu mengalami mental breakdown setiap kali selesai menyanyikan lagu tersebut. Setelah terbiasa, Isyana kian menyadari bahwa musik telah menyelamatkan jiwanya. 

Dalam Pekan Kebudayaan Nasional 2020 (PKN 2020), Isyana Sarasvati membawakan tiga nomor dari album Lexicon, yaitu “Sikap Duniawi,” “Ragu Semesta,” dan “Pendekar Cahaya.” Melalui penampilannya, kita tahu bahwa musik klasik adalah musik populer. Saksikan Isyana Sarasvati dengan tetap berada di rumah dalam konser virtual di PKN 2020.

survey