“Raut” karya Hartati

Raut Wajah Manusia

Dari kegelapan, sesosok tubuh muncul. Terlihat tangguh sekaligus rapuh; gestur gerakannya tegas, sekaligus menyiratkan rasa putus asa. Secarik kain membelit kepala, melilit sebagian tubuh, dan memenjara laku kedua lengan—lalu melalui bingkai visual layar multimedia ini—ruang tontonan garapan tari karya terbaru Hartati selama 23 menit bertajuk Raut (2020)—terasa benar adanya daya emosional yang ingin melawan segala bentuk pembatasan.

Berpindah adegan, kita mendapati sekelompok penari berkutat dalam ruang gerak yang sempit. Tebersit kesan ganjil sebagai tontonan: Adakah mereka sesungguhnya hendak keluar dari sekat atau justru berusaha bertahan di dalamnya, kendati harus bersinggungan dan beradu tubuh dengan yang lain? Masing-masing terkesan ekspresif, bahkan kian agresif seiring komposisi musik karya Taufik Adam menggaungkan nada batin nan mencekam. 

Raut menampilkan adegan lain yang menjadi klimaks dari pertunjukan: Para penari dikelilingi potongan kain, berserak dan tidak jelas rupanya. Mereka memilihnya, mematut-matutkan diri, lantas mencampakkannya. Pola gerakan itu terus berulang seakan tanpa berkesudahan, diperkuat oleh sorot kamera yang begitu kreatif merekam momen-momen depresif tersebut. Perhatikanlah lebih saksama: Yang mereka kenakan bukan busana yang lazim. Kain-kain itu dijahit sembarang, sama sekali tidak nyambung. Helai demi helai disatukan secara acak dengan peruntukan yang sama; yang penting bisa dipakai, mungkin. Aspek busana hadir sebagai metafora yang kuat tentang upaya manusia menjalin aneka ketidakutuhan menjadi sesuatu yang mungkin lebih berguna. Tanpa peduli walau semuanya terjadi dipaksakan.

Raut, sebagaimana garapan Hartati sebelumnya, kembali mengetengahkan tema yang kompleks perihal tubuh sebagai individu maupun sebagai cerminan laku sosial yang kacau balau. Narasi pembuka pementasan ini, yakni, “Kita meraut ketidakutuhan untuk mempertebal perasaan asing dan kehilangan. Kita diraut dan terus diraut tanpa tahu apakah ketidakutuhan mempunyai akhir. Kita diraut dan diraut tanpa tahu apakah kita bisa berdiri dalam ketidakutuhan,” cukup memberikan gambaran awal konsep pertunjukan koreografer asal Minangkabau kelahiran 27 Februari 1966. 

Selain memunculkan kritik terhadap tatanan kehidupan yang disusun dari fragmen-fragmen acak, kita juga diingatkan tentang persoalan identitas yang dalam beberapa situasi justru memenjarakan manusia. Idiom ini dia tampilkan lewat perumpamaan busana yang sepanjang linimasa sejarah kita selalu ditautkan dengan kelas, strata, bahkan jati diri seseorang maupun budayanya. Apa jadinya jika ternyata “identitas” dibentuk oleh elemen-elemen yang masing-masing berdiri sendiri? Tidakkah ini pun bermakna bahwa Raut ingin menggambarkan masyarakat majemuk yang kerap tergelincir pada pengertian “sekadar hidup di kolam yang sama namun mengabaikan harmoni dan toleransi?”

Inilah menariknya karya-karya Hartati: Selalu memperkarakan persoalan ketubuhan sebagai ruang negosiasi yang mempertemukan berbagai pengaruh kultural dan masalah kekinian. Hartati, seperti dikutip dari Muliati, dkk. (2017) dalam Tubuh yang Mencipta Momen: Praktik Negosiasi Tubuh dalam Tari Wajah karya Hartati, adalah generasi ketiga dari koreografer perempuan asal Minangkabau setelah masa keemasan Huriah Adam (1936-1971) dan Gusmiati Suid (1942-2001). Dua yang disebut terakhir adalah sosok penting yang membawa tradisi tari Minang ke berbagai forum tari dunia. 

Mulanya Hartati lebih dikenal sebagai penari Gusmiati Suid di Gumarang Sakti Dance Company yang membawanya ke berbagai pentas tari bergengsi. Hartati mendedikasikan hidupnya di bidang tari dan menggagas sejumlah festival tari seperti Jakarta Dance Carnival, Jakarta Dance Meet-Up, serta sempat bergabung di Komite Tari Dewan Kesenian Jakarta. Pengalaman berkesenian Hartati juga ditempa secara langsung dengan berguru kepada maestro koreografer, sebut saja Sardono W. Kusumo, Deddy Luthan, Tom Ibnur, Wiwik Sipala, Retno Maruti, Farida Utoyo, Yulianti Parani, Sukarji Sriman, dan Boi G. Sakti. 

Tradisi Minangkabau, budaya urban Jakarta, hingga geliat ekspresi tari dunia, semua inilah yang menjadi wilayah penjelajahan kreatif Hartati hingga menjadikannya sebagai salah satu representasi kebaruan gagasan tari kontemporer Indonesia, setidaknya pada dekade 1990-2000, bersama Martinus Miroto, Mugiono Kasido, Eko Supriyanto, dan Jacko Siompo. Kita juga perlu mencatat sejumlah karya pentingnya, sebut saja: Suap (1997), Sayap yang Patah (2001), Membaca Meja (2002), Hari Ini (2007), In(Side) Sarong, In(Sight) Sarong (2007), In/Out (2009), Serpihan Jejak Tubuh (2012), dan Wajah #2 (2017).

Berbeda dengan repertoir tarinya yang lain, Raut disajikan dalam bentuk garapan multimedia yang kita saksikan melalui kanal daring pkn.id. Sudah tentu terjadi beberapa konsekuensi, semisal perubahan mekanisme kerja seni koreografer tari, cara kerja sorot kamera, dan pengalaman penonton. Jika pertunjukan tari utamanya berorientasi arena (panggung) dan menitikberatkan pada aspek performativitas (performativity) dan kehadiran (presence), kini mau tidak mau kita menyaksikannya melalui sorot kamera medium yang secara relatif kurang utuh mewakili kedua hal itu. Artinya, di masa pandemi, tari sebagai tubuh yang dipertunjukan (performative body) mesti bernegosiasi dengan elemen multimedia yang memberlakukan karakter pembingkaian yang membatasi daya jangkau pandangan mata penonton. 

Kendati demikian, Hartati terbilang lebih dini menyikapi kecenderungan fenomena multimedia. Hal itu bisa dilihat dari seri pementasannya bertajuk Wajah, yang dengan sadar mengelaborasi cuplikan-cuplikan adegan demi mencapai penciptaan momen tari yang intens. Pola tersebut tidak jauh berbeda dengan pola-pola paduan tari dan dramaturgi sorot kamera yang mengajak penonton memperhatikan detail peristiwa lewat potongan-potongan pementasan. Boleh jadi, model pendekatan ini juga mengubah makna atas makna langgam tubuh kepenarian berikut aspek kekaryaannya (craftmanship) karena yang dikedepankan pada dramaturgi tari cum sorot kamera tidak lain adalah kekuatan momen-momen puitik. Simak saja misalnya bagaimana kamera dapat lincah bergerak dari satu sosok penari ke figur lainnya, termasuk mempermainkan sudut pandang dengan berputar di beberapa bagian. Perpindahan adegan dari sekelompok penari ke seorang penari lain di sebuah ruang gelap juga secara jelas penuh pertimbangan demi menguatkan kesan dan makna pertunjukan. 

Ruat ditutup dengan peristiwa seorang penari yang menaiki tangga dengan busana gaun yang manis—sama sekali bukan jahitan kain acak yang sebelumnya kita jumpai di tengah pertunjukan. Mungkin akan terbersit dalam benak kita bahwa sosok berbusana manis ternyata menemukan sesuatu yang “pantas” dikenakan yang mewakili identitas pribadinya yang utuh. Tapi, baru saja angan itu mengemuka, persis di tengah perjalanannya menuju puncak itu, perlahan ditanggalkannya gaun hingga tampak di depan kita seseorang yang nyaris apa-adanya. Sorot kamera berpindah merekam garis pipi yang melandai, telinga tersamarkan helaian rambut, wajah nan sayu dalam balutan warna kelabu. Selekas itu pula, kita beralih ke ruangan lain dengan penari pria yang akhirnya terbebas dari lilitan kain yang semula membelenggunya. 

Barangkali, Hartati ingin menawarkan sebuah pencerahan. Sebentuk kebebasan yang mendasar, tanpa terbayangi sekat-sekat apa pun. Sebuah Raut nyata dari wajah manusia apa adanya. Selamat menyaksikan!

 

Premiere di Pekan Kebudayaan Nasional 2020.

survey