God Bless

Dedikasi Berkarya

God Bless dibentuk pada 1973 oleh Ahmad Albar, Jockie Soerjoprajogo, Fuad Hasan, Donny Fattah dan Ludwig LeMans. Mereka mengawali kiprahnya di panggung musik rock Indonesia dengan menggelar konser di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat. Pada 1975, mereka menjadi penampil pembuka band rock asal Inggris, Deep Purple, lalu merilis album debutnya yang bertajuk God Bless. Pada saat itu, Ludwig LeMans telah kembali ke negeri asalnya, Belanda, dan digantikan oleh Ian Antono, yang bergabung dengan God Bless sejak 1974.

Pada tahun yang sama God Bless dilanda kedukaan. Fuad Hasan yang mengisi posisi drum meninggal karena kecelakaan tragis, yang juga merenggut nyawa kibordis God Bless lainnya, Soman Lubis. Di album God Bless, posisi Fuad Hasan digantikan Teddy Sujaya yang tampil maksimal dalam lagu Setan Tertawa. Bersama peran Ian Antono, God Bless tumbuh menjadi legenda musik rock tanah air hingga saat ini. Ian Antono pula yang membawa God Bless masuk ke dapur rekaman dan bergabung dengan Aquarius Musikindo karena Suryoko, bos perusahaan rekaman tersebut, sering belajar bermain gitar di kediamannya.

Huma di Atas Bukit adalah track pertama dalam album God Bless, diciptakan Donny Fattah bersama Sutradara film Si Doel Anak Betawi (1973) dan Atheis (1974), Sjuman Djaja. Lagu tersebut turut menjadi soundtrack film Laila Majenun (1975) besutan Sjuman Djaja yang dibintangi Ahmad Albar. Pada saat itu, beberapa kritik menyebutkan melodi Huma di Atas Bukit punya kesamaan dengan lagu Firth of Fifth-nya Genesis. Tapi, album pertama God Bless menyerupai kolase yang berisi penggabungan melodi dan aransemen dari beberapa band rock dunia yang sering mereka bawakan lagu-lagunya seperti Genesis, Jethro Tull, Kin Ping Meh, Gentle Giant, Doobie Brothers atau King Crimson.

Album ke-2 God Bless, Cermin, dirilis pada 1980. Cermin adalah album rock paling idealis pada masanya. Salah satu lagunya, Anak Adam, berdurasi cukup panjang (11 menit 59 detik) dan dipenuhi komposisi permainan solo masing-masing personel. Cermin menjadi album rock progresif yang merepresentasikan pemberontakan God Bless terhadap industri musik yang didominasi lagu-lagu pop. Kepiawaian para personel God Bless memainkan alat musik dalam Cermin membuat album ini menjadi barometer musik rock kala itu. Lagu ketiga di album ini, Musisi, yang ditulis bassist Donny Fattah menjadi lagu wajib di kancah festival rock tanah air. Dalam Cermin, Abadi Soesman, kibordis Guruh Gipsy, bergabung mengganti Jockie Soerjoprajogo, yang hengkang kemudian bergabung 8 tahun setelah Abadi Soesman mengundurkan diri 2 tahun selang Cermin dirilis. Sekembalinya Jockie Soerjoprajogo, God Bless merilis album ke-3, Semut Hitam (1988).

Jika Cermin adalah album paling idealis, Semut Hitam adalah album paling ikonik dan terlaris. Album ini berisi lagu-lagu seperti Kehidupan, Semut Hitam dan Rumah Kita, yang saat ini telah menjadi karya legendaris. Melegendanya Rumah Kita bahkan membuat sejumlah musisi seperti Armand Maulana (GIGI), Andy (/rif), alm. Glenn Fredly, Fadly (Padi), Kikan (Cokelat), Roy Jeconiah (Boomerang), Pinkan & Maia (RATU), Duta (Sheila on 7), Audy Item, Rio Febrian dan grup vokal WARNA berkolaborasi untuk menggarap versi cover dalam album Tribute to Ian Antono yang dirilis Sony BMG Indonesia pada 2004 lalu.

Ian Antono sendiri memutuskan untuk mengundurkan diri setelah Semut Hitam rilis lalu membentuk Gong 2000, sementara posisi gitar diisi Eet Sjahrani. Bersama Eet Sjahrani, God Bless merilis album ke-4 mereka, Raksasa, pada 1989. Permainan gitar Eet Sjahrani mendapatkan pengaruh yang sangat kuat dari Van Halen dan gitaris AC/DC, Angus Young, sehingga menghasilkan sentuhan aransemen God Bless yang lebih agresif. Pada 1990, Raksasa meraih penghargaan BASF sebagai album rock terlaris.

Setelah Raksasa rilis, God Bless mengalami masa vakum yang lumayan panjang. Bisa jadi, hal itu disebabkan karena dua punggawa utama mereka, yaitu Ahmad Albar dan Ian Antono, sibuk berkarya bersama Gong 2000. Selama periode 1991-1998, Gong 2000 telah merilis empat album, sementara God Bless baru kembali merilis album ke-5 mereka yang bertajuk Apa Kabar pada 1997.

Dalam Apa Kabar, Ian Antono dan Eet Sjahrani, berkontribusi bareng. Namun, Eet Sjahrani tidak bertahan lama, lantaran ia ingin berkonsentrasi ke proyek musik utamanya, EdanE, yang telah merilis album perdananya pada 1992 di bawah label berbeda dengan dari God Bless. Tidak hanya Eet Sjahrani, empat tahun setelah Apa Kabar dirilis, pemain drum Teddy Sujaya dan kibordis Jockie Surjoprajogo mengundurkan diri sampai pada 2009 tatkala God Bless pada akhirnya kembali merilis album baru, yaitu 36th, yang merupakan album ke-6 mereka. Ian Antono memanggil kembali Abadi Soesman untuk mengisi kibor dan drum Gong 2000, Yaya Mukito, untuk menggantikan Teddy Sujaya.

Promosi 36th terbantu majalah Rolling Stone Indonesia (RSI). Pada terbitan No. 29, Mei 2009, bersamaan dengan perayaan ulang tahunnya yang keempatnya, RSI membagikan CD Demo yang berisi empat lagu dari album 36th. Managing Editor RSI pada saat itu, Adib Hidayat mengatakan, “Kami ingin melakukan perubahan di musik Indonesia yang berkualitas dengan God Bless sebagai wakil dari musik yang berkualitas tersebut.” Ketika 36th resmi dirilis, God Bless menegaskan kiprahnya sebagai legenda bagi banyak musisi rock dari generasi lebih muda, salah satunya Sir Dandy, vokalis Teenage Death Star, yang terlibat menggarap sampul album 36th dan Ridho Hafiedz, gitaris Slank, pada fotografinya. Anugerah Musik Indonesia menganugerahi Lifetime Achievement Award pada 2009 kepada God Bless yang pada saat itu berusia 36 tahun.

Pada 2012, God Bless merilis album ke-7 mereka, Cermin 7. Dalam Cermin 7, God Bless mengaransemen ulang seluruh lagu dalam album ke-2 mereka dan memperkenalkan tiga track baru, antara lain Damai, Kukuh dan Bukan Mimpi Bukan Ilusi. Selain itu, dalam Cermin 7, posisi Yaya Mukito digantikan Fajar Satritama yang pada saat itu juga menjadi pemain drum EdanE. Cermin 7 menunjukkan bahwa bermusik adalah persoalan dedikasi, dan God Bless membuktikannya melalui kesungguhan dalam berkarya.

Hingga kini God Bless menjadi panutan bukan hanya karena aransemen musiknya, tetapi juga karena lirik-liriknya yang kuat. Jika aransemen musik God Bless memang terlahir dari kepiawaian para personelnya memainkan instrumen masing-masing, sejumlah lirik mereka lahir dari para penulis yang begitu akrab dan piawai di ranah kepenulisan seperti Theodore KS (Wartawan), Dedy Ismanto (Penulis Lirik), Taufik Ismail (Penyair) dll.

Di tengah pandemi 2020, lagu Rumah Kita yang ditulis Ian Antono dan Theodore KS kembali dipopulerkan. Jika dulu Rumah Kita dimaknai sebatas tentang urbanisasi, kini lagu tersebut bisa dibaca ulang secara kontekstual sebagai ajakan untuk tetap berada di rumah agar pandemi Covid-19 segera teratasi. Tetap berada di rumah Anda, dan saksikan konser virtual God Bless dalam Pekan Kebudayaan Nasional 2020.

survey