Gendang Beleq

Hikmah dari Masa Lalu

Bali pada pertengahan abad ke-17 adalah sebuah pulau yang terpecah belah, terdiri dari kerajaan-kerajaan kecil yang saling berperang. Begitu pula Karangasem, sekarang kabupaten di sisi ujung timur, yang dahulu sering terlibat pertempuran dengan Kerajaan Klungkung, tetangganya. Perang meminta biaya serta kerugian yang tidak terbilang dan Karangsem, di bawah kuasa Anak Agung Gde Ngurah, melancarkan serangan ke tanah seberangnya, Pulau Lombok, untuk merebut sumber daya kekayaannya, baik emas maupun penduduknya yang dikerahkan sebagai prajurit pada perang saudara yang seakan tidak pernah berkesudahan di Bali. Maka, mendaratlah bala tentara Karangasem di tanah Lombok pada 1740, merebut wilayahnya lantas mendirikan perwakilan pemerintahan di Mataram.

Kedatangan orang-orang Karangasem, meskipun dianggap cukup egaliter karena mempersilakan penduduk setempat beragama Islam, ternyata juga menyisakan pengaruh budaya yang masih tampak sampai masa kini. Salah satunya, gendhang beleq, kesenian perkusi ala Suku Sasak yang mengadaptasi bentuk parade musik serupa baleganjur di Bali. Kesenian ini melibatkan sekelompok laki-laki penabuh kendang besar—dalam bahasa Sasak disebut beleq—secara rancak dan dinamis. Instrumen yang dipakai serupa kendang tambur dan hanya dapat dijumpai di Karangasem. Ukurannya sekitar 72 cm, berdiameter 54 cm dan 44 cm, serta dimainkan dengan cara dipukul-pukul dengan menggunakan dua buah tangkai kayu bernama panggul. Perbedaannya, gendhang beleq berdimensi lebih besar sehingga menghasilkan bebunyian nyaring dan begitu kuat. 

Baik kendang tambur maupun gendhang beleq dulunya sama-sama ditabuh untuk membangkitkan semangat prajurit yang maju berperang. Mereka juga diiringi instrumen lain, dengan ragam mirip cengceng yang dalam istilah Bali berupa sepasang bilah tipis logam yang ditepuk—atau orang Sasak menyebutnya rencek. Ada pula seperangkat gong, alunan seruling, serta tetabuhan perangkat reyong, yakni susunan bilah logam yang dipukul secara bergantian. Mereka diperagakan dalam bentuk parade, berfokus pada dua pemain kendang yang bergerak selayaknya tengah menari. Istimewanya, kedua kendang ini secara musikal memiliki peran yang berbeda; gendhang beleq yang lebih besar disebut mama atau kendang pria dan bersuara lebih kencang, sementara yang lebih kecil diberi nama nina. Keseluruhan musisinya berjumlah antara 13 hingga 17 orang dalam satu kelompok.

Hampir serupa jenis kendang lain di Nusantara, gendhang beleq terbuat dari kayu meranti yang menghasilkan bunyi yang kuat dan bergema. Batang pohon ini, yang biasanya berdiameter 50 cm, dilubangi secara teliti dan dipasangkan kulit kambing, sapi, atau kerbau pada dua sisinya. Namun, karena ditampilkan dalam parade dan berpindah-pindah tempat, maka gendhang beleq mengalami beberapa modifikasi, termasuk tali yang mesti kuat disangkutkan pada bahu pemainnya. Berat? Sudah pasti. Di sinilah letak keunikannya, yaitu pemain gendhang beleq harus sanggup menabuh secara rancak sambil menyajikan gerakan tari yang bertenaga. Gendhang beleq hadir di perayaan masyarakat setempat, terutama pada masa tibanya musim panen atau pesta perkawinan. Gaya permainan mereka yang riuh sangat mudah menarik perhatian dan membuat suasana meriah. Terlebih kalau penabuhnya berbusana adat Lombok, Godek Nungkik, yang terkesan cerah sekaligus luwes. 

Bagaimana dengan repertoar yang mereka bawakan? Sebenarnya, seperti halnya kesenian baleganjur di Bali, tidak ada penamaan khusus untuk lagu yang mereka bawakan. Bilamana reyong, gong, maupun seruling pengiringnya memiliki pakem-pakem melodi atau ritme tertentu, tidak demikian dengan kendang-kendang ini. Yang mengikat mereka hanya dinamika dan tempo yang selaras, selebihnya adalah improvisasi. Itulah sebabnya mengapa para pemain gendhang beleq selalu punya gayanya tersendiri. Kelincahan gerak tangan, kontur pukulan, sampai lentikan jemari, sulitlah disamakan satu pemain dengan yang lain. 

Sejarah mencatat, kekuasaan Kerajaan Karangasem di Mataram, Lombok, tidak berlangsung lama. Setelah menghadapi pemberontakan orang-orang Sasak secara bertubi-tubi, mereka terpaksa hengkang setelah intervensi Belanda. Orang Sasak meminta bantuan kolonial untuk mengalahkan prajurit Karangasem dan barulah pada 1894 Mataram benar-benar terlepas pasca taktik blokade persenjataan yang melemahkan. Istana Cakranegara, pusat pemerintahan di Mataram, hancur lebur setelah gempuran meriam-meriam Belanda pimpinan Mayor Jacobus Augustinus Vetter dari Batavia. Korban berjatuhan, konon sekitar 2.000 orang dari Bali-Mataram, sedangkan Belanda hanya kehilangan 166 tentara. 

Kekalahan di Mataram ternyata berujung pada invasi ke pulau Bali lewat selat timur pulau ini—suatu rencana yang sudah sejak lama direncanakan pihak Belanda. Inilah pintu masuk Kolonial yang paling frontal ke Bali, mengakibatkan perang puputan atau perang bunuh-diri yang tragik sampai ke wilayah Bali yang lain, seperti Badung (1906) dan Klungkung (1908). Adapun Lombok, alih-alih sungguh merdeka jadi wilayah orang Sasak, malahan dijarah habis-habisan oleh Kolonial Belanda. 

Penampilan gendhang Beleq dalam Pekan Kebudayaan Nasional 2020 barangkali bisa menjadi salah satu kenangan atas alur sejarah tersebut. Di balik kemeriahannya, dengan rupa para musisi yang menawan, serta gaya tetabuhan dinamis, terdapat kisah-kisah peperangan, kemenangan serta kekalahan. Di balik yang semarak di masa kini rupanya menyimpan kelam di masa silam. Walau begitu, memori tersebut janganlah sampai dilupakan. Ia penting dikenang bukan untuk menuai keretakan, melainkan hikmah pengingat bahwa kesenian di Nusantara adalah pertalian budaya antara berbagai suku dan bangsa. Kita bisa bayangkan, sebagaimana menghayati gendhang beleq dan kendang tambur, bahwa ragam kesenian Indonesia sejatinya “saudara-sekandung.” Berkat penghayatan rasa syukur itu, kita patut merayakan puspawarna keberagamannya, sampai kapan pun. Selamat menonton!

survey