Embassy of the United States of America

Diplomasi Musik Country dari Nashville

“Merdeka!”, demikian kata pertama yang terujar dari mulut Presiden Soekarno sebanyak tujuh belas kali. Kata itu diucapkan berbalasan dengan warga Indonesia yang hadir di bandara militer Washington, Amerika Serikat. Tujuh belas teriakan tersebut mengikuti angka 17 pada tanggal kemerdekaan Republik Indonesia. 

Peristiwa itu terjadi pada 16 Mei 1956. Hari itu pertama kalinya Presiden Soekarno menginjak tanah negeri asal musik country. Delapan belas hari Presiden beserta rombongan berkeliling Amerika Serikat bertemu Mr. Presiden, Dwight Eisenhower, dengan para pejabat pemerintah, pengusaha, akademisi, hingga selebriti. Kunjungan Soekarno itu ramai diberitakan oleh media-media di Amerika Serikat. Pasalnya, Soekarno dianggap sebagai tokoh utama dari negara-negara Asia-Afrika yang sukses mengadakan konferensi setahun sebelumnya, April 1955. Kedatangan Soekarno memukau puluhan ribu rakyat Amerika yang berjejer di jalanan ibu kota untuk menyambutnya selama perjalanan dari bandara ke White House. New York Times memberi tajuk beritanya, “Sukarno Captivates Washington.”

Peristiwa bertemunya pemimpin negara Blok Barat dengan pemimpin negara Non-Blok ini terjadi di tahun ke-7 hubungan diplomasi antar dua negara. Ikatan resmi hubungan diplomatik Indonesia dengan Amerika Serikat jatuh pada 28 Desember 1949. Tepat satu hari setelah Belanda menyerahkan kedaulatan kepada Republik Indonesia, Amerika Serikat pun langsung mengakui Indonesia sebagai bangsa yang merdeka. 

Setelah itu, Amerika lekas menunjuk Horace Merle Cochran sebagai Duta Besarnya di Indonesia. Indonesia membalas mengirimkan putra terbaiknya dalam politik dan diplomasi, yakni Ali Sastroamidjojo sebagai Duta Besar di Amerika Serikat. Sejak itu, dimulailah perhubungan diplomatik kedua negara mengarungi berbagai pasang-surut politik, gejolak ekonomi sampai pergumulan budaya. Sudah 70 tahun diplomasi itu terjalin dan hubungan Indonesia-Amerika Serikat mencapai tahap Strategic Partnership. Sebuah tahapan tatkala kedua negara bersama-sama saling berbagi tanggung jawab mencari solusi dalam masalah dan tantangan global. Singkatnya, Indonesia-Amerika Serikat adalah mitra strategis.

Demi memperkokoh capaian diplomasi kedua negara, pemerintah Indonesia, melalui Pekan Kebudayaan Nasional (PKN) 2020 yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, mengundang Amerika Serikat terlibat dalam sesi pergelaran seni pertunjukan. Pemerintah Amerika Serikat melalui Konselor Diplomasi Publik – Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta, Michael Quinlan, menyatakan kesediaannya terlibat di pergelaran seni pertunjukan PKN 2020. 

Dengan bangga, Amerika Serikat menampilkan dua kelompok musik country mereka yang telah lama berdedikasi selaku duta budaya Amerika Serikat kepada negara-negara sahabat di dunia. Kenapa musik country? Sebab, country adalah musik rakyat yang sangat populer dan secara historis mengakar di Amerika Serikat. Musik country seumpama dangdut yang secara kultural teramat lekat dengan kehidupan rakyat Indonesia. Satu kota penting dari musik country di Amerika Serikat adalah Nashville, Tennessee. Nashville adalah kota legendaris bagi musik country yang memiliki julukan khasnya, yakni “Nashville Sound.” Dua kelompok musik yang menjadi duta budaya Amerika Serikat untuk PKN 2020 adalah Tony Memmel and His Band dan Farewell Angelina yang berasal dari kota Nashville.

Grup musik country yang tampil pertama dimotori oleh Tony Memmel. Tony adalah musisi dengan kreativitas unik dan pantang menyerah. Ia penulis lagu, penyanyi, pemain gitar, pembicara, motivator, dan duta budaya Amerika Serikat. Tony lahir tanpa lengan kiri dan menggeluti musik country. Bersama tiga kawan karibnya, Lesleigh Memmel (pianis), Joey Wengerd (gitaris), dan Alex Nixon (perkusionis), Tony akan mempresentasikan musik, kisah, dan motivasi. Dalam sajian musik, Tony and His Band membawakan tiga nomor lagu, berjudul “I am Never, Never, Never, Gonna Give Up,” “Capability Over Disability,” dan “Lean On Me.” Di antara tiga lagu tersebut, terselip satu nomor kolaborasi bersama Reda Gaudiamo menyanyikan “Di Restoran” yang dialihwahanakan dari puisi karya mendiang Sapardi Djoko Damono. Sedangkan musiknya gubahan M. Umar Muslim. Pembawaan “Di Restoran” oleh Tony and His Band bersama Reda Gaudiamo berhasil menyentuh perasaan. 

Selain tampil dengan musik, Tony menyajikan cuplikan perjalanannya di beberapa kota di Indonesia pada 2017 silam. Ia bertemu banyak anak-anak dan musisi amatir yang hidup dengan keterbatasan fisik, antara lain yang ada di Medan dan Surabaya. Ia hadir melalui pentas musik dan lokakarya bagi mereka semua dengan membawa pesan utama “resiliensi.” Pesan ini dibawa untuk mengalirkan daya hidup optimis dan mampu bertahan serta beradaptasi dalam kondisi apapun. Singkatnya, kebertahanan tubuh. Persis dengan tema utama PKN 2020. Ia pun memberi wejangan bijaksana tentang situasi pandemi yang terjadi di dunia saat ini. Sungguh, Tony musisi berdaya empati tinggi. 

Penampil kedua tidak kalah menarik. Farewell Angelina digawangi empat perempuan muda dan cantik, yakni Nicole Witt, Andrea Young, Lisa Torres, dan Ashley Gearing. Grup yang namanya terinspirasi dari salah satu judul tembang Bob Dylan ini membawakan empat lagu: “Baby,” “Radioactive,” “Farewell,” dan “More Problems.” Tatkala “Radioactive,” yang merupakan cover dari Imagine Dragons, mereka sisipkan lagu “Lagi Syantik” yang sempat dipopulerkan penyanyi dangdut Indonesia, Siti Badriah. Lagu “Lagi Syantik” mereka dengar dan bawakan pertama kali sewaktu konser keliling kota di Indonesia pada Februari 2020. Ashley Gearing, personel Farewell Angelina, menyatakan lagu tersebut, selain sedang viral di Indonesia, energinya sangat menyenangkan. 

Untuk membuktikan asumsi Ashley, marilah kita nikmati musik country dari kedua penampil asal Nashville tersebut. Jangan sampai terlewati, hanya di PKN 2020!

survey