Ministry of Culture and Tourism of the People’s Republic of China, Beijing — Embassy of the People’s Republic of China, Jakarta

Kesetiaan Sahabat Lama

“Sesuatu djaman adalah selalu kebudajaan daripada kelas jang berkuasa”, demikian kata Soekarno, Presiden pertama RI. Kalimat itu menegaskan bahwa Soekarno sangatlah menjunjung pengembangan kebudayaan Indonesia. Salah satu perwujudannya, dengan upaya saling mengenal kebudayaan di berbagai belahan dunia yang kita kenali sebagai diplomasi budaya. Sejak periode Kemerdekaan, jaringan diplomasi budaya Indonesia berlangsung ke berbagai negara-negara sahabat seperti Negeri Tiongkok atau Republik Rakyat Tiongkok. Persahabatan kebudayaan Indonesia-Tiongkok dirintis pada 13 April 1950. Bila dihitung dari momentum diplomasi, maka 70 tahun lamanya persahabatan ini terjalin. Tiongkok, bagaimanapun, adalah sahabat lama kita.

Sejarah mencatat, Bung Karno dan Paman Mao (Mao Zedong) adalah dua kawan baik. Pada eranya, pemimpin tertinggi Negeri Tiongkok itu pernah menawarkan kerja sama di bidang teknologi nuklir agar Indonesia maju. Bagi Mao, Indonesia adalah negara penting dan berpengaruh di antara negara lain, baik Asia maupun Afrika. Terbukti pada 1960-an Indonesia menjadi pelopor gerakan Non-Blok dan pada masa Perang Dingin juga Soekarno mengakui Negeri Tiongkok adalah model mercusuar dan wajah modernisme mandiri yang terlepas dari hegemoni Blok Barat (Amerika Serikat) dan Blok Timur (Uni Soviet). Maka, tidaklah mengherankan jika pada zaman Presiden Soekarno, banyak anak bangsa Indonesia yang disekolahkan melalui beasiswa pendidikan ke Negeri Tiongkok. Pun, banyak pula misi kesenian dan kebudayaan yang hilir mudik Jakarta-Peking.

Pasang surut hubungan politik Indonesia dan RRT kerap terjadi. Selama rentang 70 tahun bersahabat, terkadang hangat, terkadang memanas terutama pada masa Orde Baru. Namun, kerenggangan keduanya tidak pernah berlarut-larut, sebab persahabatan yang terjalin sangat lama Indonesia-RRT justru membentuk relasi kuat dan mendewasa pada masa kini. Indonesia dan China pada masa sekarang adalah dua negara yang saling bekerja sama baik dan saling membutuhkan dalam bidang ekonomi, politik, dan budaya. Contoh konkret di bidang ekonomi, yaitu adanya inisiatif One Belt and One Road/OBOR (Satu Sabuk dan Satu Jalan) yang berganti sebutan menjadi Belt and Road Initiative (Inisiatif Sabuk dan Jalan) yang diusulkan pemimpin tertinggi Tiongkok, Xi Jinping. Dan, Indonesia terlibat dalam gagasan Jalur Sutra Abad 21 tersebut.

Di ranah kebudayaan, dalam semarak memperingati momen Perayaan Hubungan Diplomasi Indonesia-China 70 Tahun, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI turut mengundang sahabat lamanya untuk terlibat memberikan andil dalam hajatan besar kebudayaan nasional Indonesia. Gayung pun bersambut. Kementerian Pariwisata dan Kebudayaan Republik Rakyat China bersama Kedutaan Besar China untuk Indonesia di Jakarta bersedia menampilkan pertunjukan kesenian terbaiknya di rangkaian perhelatan Pekan Kebudayaan Nasional (PKN) 2020. Walaupun situasi pandemi menjadi kendala, segala persiapan pertunjukan kesenian tetap diusahakan sebaik-baiknya.

Kementerian Pariwisata dan Kebudayaan China menyambut PKN 2020 dengan membantu secara aktif para pegiat seni pertunjukan di negerinya untuk mempersiapkan repertoar pertunjukan seni terbaik dibawah organisasi PT. Grup Kesenian dan Hiburan Tiongkok. Organisator kesenian nasional Tiongkok tersebut yang menghimpun para penari, pemusik, pemain teater, para kerabat kerja dunia panggung untuk memproduksi pementasan seni pertunjukan secara profesional. Alhasil, terwujud serangkaian produk seni pertunjukan yang mumpuni: elegan, meriah, dan indah. Ada delapan penampilan yang akan dipersembahkan oleh sahabat lama kita ini pada PKN 2020. Seluruh tontonan kesenian disutradarai Hu Juying dan dibantu Wang Yao (direktur artistik), Zhang Dongjie (direktur pencahayaan), dan Wang Zhixu (direktur suara). 

Penampilan pembukanya adalah para musisi perkusi yang di negerinya sendiri tergabung ke dalam Teater Drama Opera dan Tari Nasional Tiongkok. Mereka menyuguhkan pertunjukan musik instrumental dengan beragam alat musik pukul (kecil, sedang, besar) khas Tiongkok. Judul repertoarnya, yaitu Naga Membumbung, Harimau Melompat. Kemudian dilanjutkan pementasan tarian. Koreografi tari yang dipentaskan merupakan tarian lembut dan indah yang berakar pada Dinasti Tang dan para penarinya berjumlah 12 wanita berhiasan wajah cantik khas China klasik. Mereka tergabung dalam Grup Kesenian Pertunjukan Oriental Tiongkok yang juga menjadi penampil ketiga dan keempat dalam rangkaian repertoarnya. 

Ragam pertunjukan pembuka dan kedua mereka adalah tari-tarian dalam alunan nyanyian Sing Sing So. Sementara itu, pada pertunjukan ketiga mereka memainkan alat musik khas Indonesia (Jawa Barat), yakni angklung. Mereka bawakan lagu populer anak-anak Indonesia berjudul Potong Bebek Angsa terus disusul Anak Kambing Saya yang mengalun ceria. Usai itu, mereka lanjutkan suguhan tarian duet ballet yang membawa Tari Bunga Magnolia. Tidak kalah menarik dan asyik, yakni penampilan dari para pemain alat musik dawai khas Tiongkok yang dikenal sebagai Orkestra Tradisonal Dun Huang. Pada dua pentas terakhir itulah, mereka menampilkan duet tarian akrobatik gabungan yang memvisualkan perpaduan utuh antara kekuatan dan keindahan. 

Sebagai penutup, mereka suguhkan tarian berupa gerakan-gerakan simbolis yang menyerupai keindahan bunga Melati nan cantik warnanya, seumpama perlambang ekspresif atas kesetiaan persahabatan antara Indonesia dan China (Tiongkok) yang kini merekah kembali. Selamat menyaksikan, hanya di PKN 2020!

survey