Embassy of the Italian Republic & Istituto Italiano di Cultura, Jakarta

Alunan Piano Mediterania 

Roma, 10 Juni 1956. Presiden Italia, Giovanni Gronchi, berjalan pelan mengikuti pesawat terbang yang perlahan turun landas di bandara Ciampino. Pesawat itu milik Pan American Airways disewa membawa tamu istimewa. Petang yang cerah menjadi momentum pertama baginya berjumpa Presiden Indonesia, Sukarno. Bagi Sukarno pun, inilah tapak pertamanya di seluruh Eropa. Langkah-langkah pertamanya disambut permadani merah. 

Singkatnya, Roma menjadi saksi pertemuan sangat bersejarah. Media-media cetak di Eropa pun menyoroti negeri Italia. Sukarno berbangga hati. Kehadirannya di negeri bangsa Romawi ini dianugerahi medali oleh Paus Pius XII, pimpinan umat Katolik sedunia saat itu. Di sela-sela kunjungan kenegaraan ke berbagai kawasan di Italia, Sukarno juga menghampiri Napoli—kota pelabuhan terbesar di sana, bahkan di cekungan Laut Mediterania.

Dahulu, warga Napoli menjadi saksi kedatangan Presiden pertama RI. Kini, kita di dalam negeri, menjadi saksi duo pianis kebanggaan Italia memainkan alunan piano klasik khas Napoli di tepi pantai Amalfi. Dua pianis cum komposer ini adalah Antonio Maiello dan Stefano Caponi. Repertoar yang dibawakan adalah gubahan terbaru Antonio Maiello berjudul Suites Napoletane. Serangkaian karya komposisi ini terinspirasi dari melodi yang sarat historis bagi Napoli. Direktur Instituto Italiano di Cultura-Jakarta, Maria Battaglia, mewakili Kedutaan Besar Italia, secara resmi menyampaikan duo pianis merepresentasikan Italia dalam Pekan Kebudayaan Nasional 2020. Bagi Maria Battaglia, permainan duo pianis Italia tersebut adalah karya musik universal yang membangkitkan mimpi dan meretas batas masa lalu dan masa kini.

Pianis senior Antonio Maiello dan Stefano Caponi membawakan sebelas komposisi musik dengan sepasang piano. Berikut serangkaian judul komposisi indah gubahan Antonio Maiello bersama komposer lainnya: Passione/Vedi alla voce amore (Libero Bovio/Ernesto Tagliaferri, Antonio Maiello), Al Kamil (Antonio Maiello), Scetate/Se hai bisogno chiama (Ferdinando Russo/Pasquela Costa, Antonio Maiello), Tango in fuga (Antonio Maiello),  Vicolo del cedro (Antonio Maiello), Duje Paravise (E. A. Mario/Ciro Parente, Di cosa parliamo quando parliamo d’amore (Antonio Maiello), Dicintencello vuje (Rodolfo Falvo/Enzo Fusco, Tarantela Napoletana (Tradizionale anonimo), I te vurria vasa, Il senso del ritorno (Eduardo di Capua/Vincenzo Russo, Antonio Maiello), dan Ta ta ta (Antonio Maiello).

Antonio Maiello adalah seniman musik virtuoso yang berbakat sejak usia kecil. Ia besar di Napoli. Ayahnya, Luigi Maiello, adalah pemain biola ternama dan perdana kotanya. Antonio tumbuh-kembang di lingkungan kultur Mediterania yang heterogen dan dinamis. Rasa multikultur kehidupan sehari-harinya merupakan bawaan alamiah yang terkandung dalam setiap karya musiknya. Pada 1999, Antonio mendirikan Orchestra Sinfonica di Musica Popolare Mediterranea sebagai fase terpenting dalam hidupnya. Orkestra itu menjadi titik balik dalam karier. Dengan orkestranya, Antonio berkeliling ke pelbagai negara membawakan khasanah budaya Mediterania di dalam karya-karya komposisi musiknya. Bertolak dari Italia, Antonio dan orkestranya menyinggahi Rumania hingga ke Tunisia. 

Musik Antonio ibarat medium pengantar warisan sejarah-budaya Mediterania. Musik indahnya itu ia suguhkan dengan kepiawaian jari-jemarinya yang lincah. Antonia adalah sang penggali sejarah dan penyambung budaya yang mampu menghadirkan tawaran bunyi dan nada yang populer bagi penduduk di sekitar Laut Tengah. Tidaklah mengherankan jika musik Antonio mudah diterima di pelbagai festival dan siaran televisi di negeri-negeri yang bertepian pantai Mediterania. Pada 2018, Antonio hibuk menyelami budaya dan tradisi Aljazair. Proyek musiknya tersebut menghasilkan kolaborasi orkestra Italia-Aljazair berwujud ansambel Antonio Maiello et les Amis du Monde

Kembali ke pertunjukan Antonio Maiello dan Stefano Caponi di PKN 2020, seluruh performa mereka direkam dan berlangsung di panggung terbuka, begitu megah, yang persis bersisian antara tebing dan tubir pantai. Suasana di antara kedua sisi tersebut semakin hidup dengan keremangan malam menyelimuti mereka. Nuansa syahdu yang larut di kota pantai Amalfi. Semua lanskap itulah yang menggenapi alunan duo piano indah nan lembut, selembut es krim tiga rasa yang masyhur dan khas warga Napoli, Neapolitan. Ya, sungguh sayang sekali bila terlewati. Satu hiburan rohani yang melapangkan hati dan menyehatkan pikiran di kala pandemi.

Antonio menggandeng dengan bangga Stefano Caponi, pianis berbakat kelahiran Roma yang disiplin mempelajari piano sejak usia balita (4 tahun). Stefano adalah kawan baiknya dan rekan bermain piano yang sinergis, satu visi dengannya. Dalam hal ini, Stefano juga memiliki peminatan terhadap persoalan sejarah dan budaya. Kiprah panjang Stefano di kancah musik, baik dalam maupun luar negeri tidak perlu diragukan. Serangkaian jabatan, profesi, dan penghargaan di bidang musik telah dicapainya. Pada posisi itulah, mereka satu frekuensi. Untuk membuktikan kehebatan keduanya, marilah kita saksikan kolaborasi apik duo pianis Italia ini di pergelaran Sahabat Budaya. Selamat menonton!

survey