Durga Gugat Didi Nini Thowok

Durga Amarah, Tebar Wabah

Dalam kitab purana, kesusastraan kuno Hindu yang bermuatan mitologi, legenda, dan kisah-kisah lama, tersebutlah aliran Saiwa. Aliran Hindu ini memuja dewa Siwa. Durga adalah salah satu wujud dari sakti dewa Siwa. Sakti adalah tenaga atau kekuatan yang dimiliki dewa untuk menjalankan tugasnya di alam semesta. Sakti seringkali digambarkan sebagai dewi atau pasangan dari dewa-dewa. 

Sakti dari dewa Siwa, memiliki dua aspek, yakni santa atau saumya yang berarti tenang, Aspek kedua adalah krodha atau raudra yang berarti dahsyat. Dua aspek utama dari sakti dewa Siwa kemudian menjelma menjadi banyak rupa dewi-dewi dalam kehidupan. Di antara dewi-dewi yang berasal dari aspek ketenangan adalah dewi Parwati (dewi uma), Sati, Gauri, dan lainnya. Sedangkan dewi-dewi yang berasal dari aspek kedahsyatan antara lain Durga, Kali, Karali, Kausiki, Candika, dan lainnya. Jadi, Durga adalah termasuk aspek dahsyat dari sakti dewa Siwa. Kedahsyatannya dapat melahirkan malapetaka bagi umat manusia di dunia. Apa yang menyebabkan hadirnya kedahsyatan amarah dari Durga di dunia? Sendratari Durga Gugat akan menceritakannya. 

Gunungan atau kayon melayang-layang. Tanda pergelaran dimulai. Dalang datang mengangkat wayang. Wayang kulit Batari Durga. Nyanyian dan musik menyusul bergemuruh menandakan suasana kemarahan sedang menghantui alam raya. Durga menari-nari dan tertawa. Mengerikan. Tarian Durga menandakan malapetaka akan segera melanda seluruh ruang kehidupan kawula. Ia menitahkan dan mengerahkan seluruh prajurit setan-setannya dari Sentra Gandamayit (alam perkuburan) untuk bergegas menebar penyakit di seantero dunia. Matahari murung. Angkasa berduka. Kehidupan dunia diselimuti rasa takut. Umat manusia didera wabah. Penyakit dimana-mana, merajalela. Tubuh memucat menjelma mayat. Rencana Durga berjalan cepat. Sungguh, Durga telah menggugat. 

Apa gerangan sebab Durga menggugat? Dasarnya adalah kecemburuan, keirian, dengki. Durga tidak terima dirinya hidup tersingkir, terbuang, terasing. Bidadari yang menjadi bandingannya. Bidadari hidup dalam kemulian. Durga pun termakan amarahnya sendiri dan menebar wabah di muka bumi. Wabah ini adalah wujud dari gugatannya yang disampaikan ke Kahyangan. Apa yang terjadi kemudian? Saksikanlah dalam sendratari Durga Gugat.

Sendratari Durga Gugat dipersembahkan oleh Natya Lakshita, lembaga kursus dan pelatihan tari yang diasuh Didik Nini Thowok. Sanggar tari yang berlokasi di Yogyakarta ini telah berusia 40 tahun. Kunci eksistensinya adalah sabar, percaya dan setia. Di dalam sanggar inilah jejak berkarya Didik Nini Thowok terdokumentasi rapih. Didik memang termasuk seniman yang rajin menyimpan arsip dan tangkas menghasilkan arsip. Ia gemar merekam dan mencatat. Maestro tari ini juga tidak pernah lelah belajar menuntut ilmu tari. Beliau belajar total. Ia belajar dari literatur, dari dosen-dosen tari, dan terutama dari penarinya langsung. 

Menurut Didik, kualitas itu proses. Jadi, bila seorang penari tekun dan terus-menerus belajar dari siapapun dan dimanapun maka keberhasilan adalah pasti. Buktinya Didik, ia kini seorang maestro. Namanya bisa kita sejajarkan dengan maestro tari tradisi lainnya, antara lain maestro Rusini (Solo), Ayu Bulantrisna Djelantik (Bali), Retno Maruti (Jakarta), Munasiah Daeng Jinner (Makassar), Dariah (Banyumas), dll. Karya koreografinya telah lebih dari seratus tarian. Pementasannya telah keliling nusantara dan mancanegara. Pentas tari paling membanggakan baginya adalah momen pertama menari di hadapan Sultan Hamengku Buwono X pada 2014. Ia secara khusus mengkreasikan tari Bedaya Hagoromo untuk dipersembahkan bagi sang raja. 

Didik Nini Thowok adalah nama panggung. Panggilannya, Didik. Nama lengkapnya Didik Hadiprayitno. Nama lahirnya Kwee Tjoen Lian. Kemudian berganti Kwee Tjoen An karena sakit-sakitan waktu kecil. Sedangkan Nini Thowok dalam nama panggungnya berasal dari Bengkel Tari Nini Thowok. Ia bergabung dalam Bengkel Tari ini pada 1974 diajak oleh senior kampusnya, Bekti Budi Hastuti yang merupakan koreografer tari Nini Thowok. Bengkel Tari Nini Thowok banyak mendapat tawaran manggung. Di setiap pertunjukan tari Nini Thowok (yang terkesan seram, mirip jailangkung), justru dibawakan Didik dengan genit, jenaka, dan lincah sehingga mengundang tawa. Penonton menyukainya. Namanya kian populer sebagai Didik dari Bengkel Tari Ninik Thowok. Disingkat, Didik Nini Thowok. 

Didik kelahiran Temanggung, 13 November 1954. Benih kecintaannya terhadap tari bermula sejak umur belasan tahun. Tari Gambiranom, tari klasik gaya Surakarta, adalah tarian perdana yang ia pelajari dari guru tari di kampungnya. Tari Tengkorak Tandak (1977) adalah tari pertama yang dikreasikan olehnya sebagai karya meraih gelar Sarjana Muda di Akademi Seni Tari Indonesia, Yogyakarta. 

Lebih dari empat puluh tahun, Didik telah melakoni ribuan pergelaran tari. Rekapitulasi kiprahnya tercatat di kantor sanggar Natya Lakhsita, Yogyakarta yang menyimpan dua ribu lebih kaset rekaman tari Didik dalam rak berkaca. Proses digitalisasi sedang dijalankan agar karyanya abadi dan dapat dinikmati kembali. Kini, koleksi arsip pertunjukannya akan kembali bertambah satu lagi dalam rupa digital. Pasalnya, Pekan Kebudayaan Nasional 2020 akan menyiarkan karya tarinya secara daring. Mari bersama menjadi saksi dari perjalanan pentas sang maestro tari kita, Didik Ninik Thowok dalam lakon Durga Gugat. Selamat menyaksikan!

survey