Cilay Ensemble

Meretas Sekat Definisi Budaya

Lagu pembuka itu berjudul “Muaro.” Tanpa lirik yang dapat dipahami maupun melodi cukup yang nyaman diikuti. Sang kelompok penampil adalah Cilay Ensemble. Mereka tujukan penampilan karyanya sebagai bagian dari musik dunia (world music). Ada sedikit kabar dari repertoar ini: “Muaro” masuk ke dalam nominasi World Beat Song dalam ajang kompetisi musik bergengsi Vox Pop Independent Music Awards 2020.

Ada lima karya yang mereka bawakan dalam Pekan Kebudayaan Nasional (PKN) 2020, antara lain “Muaro,” “Gedebi,” “Covy,” “Iyee,” dan “Antalogaina.” Sebagaimana khasnya sejak didirikan pada 1987 di Jakarta, seluruh lagu Cilay Ensemble tersebut memadukan tradisi musik Minangkabau dengan alunan instrumen masa kini ataupun langgam-langgam yang lebih modern. Ciri tradisi kentara dari penggunaan alat musik saluang (suling Minang), bonang, perkusi rebana, maupun irama melodi acapella dari para penyanyi wanita dan pria, sedangkan aspek kontemporer tampak cukup dominan dengan beat electone. Selain pemaduan kreativitas itu, sepanjang perjalanannya Cilay Ensemble juga terbuka akan kolaborasi yang melintas budaya dan genre; beberapa kali mereka sempat menghadirkan garapan anyar tari tradisi yang menyatu bersama pentas-pentas musik mereka.

Mohamad Cilay, pendiri Cilay Ensemble, mengakui keinginannya memunculkan sisi-sisi lain tradisi dari yang umumnya kita kenali, yakni elemen-elemen spiritual dan transendental yang menjadi ruh kebudayaan. Dia menyadari bahwa tradisi seringkali hanya dimaknai dari sebagian produk budayanya saja, bukan keseluruhan laku dan filosofi masyarakat lokal bersangkutan. Begitu pula akan kemodernan, yang telah meresap ke seluruh aspek kehidupan budaya dan kini menjadi bagian sehari-hari manusia. Barangkali, itulah sebabnya tegangan antara tradisi dan kontemporer tidak lagi terlalu relevan dibincangkan, melainkan perlu ditemukan jalan tengah agar ruh kebudayaan tradisi tersebut tetap lestari dan terjaga.

Cilay adalah putra pertama koreografer ternama Huriah Adam dan menamatkan studinya di Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI) atau ISI Padangpanjang sekarang. Berangkat dari kesadaran tentang tradisi berikut dinamika perubahannya, Cilay bercita-cita membuat karya-karya yang melampaui sekat-sekat definisi kesenian. Begitulah, dia kemudian mendirikan Cilay Ensemble dan Cilay Dance Theatre di Jakarta, yang namanya telah dikenal luas di forum-forum seni pertunjukan di dalam maupun luar negeri. Mereka manggung di banyak acara bergengsi, sebut saja beberapa seperti Diaspora Music Village (London, 2002), Indonesia Music Festival (Jakarta, 2013), dan International Dance Festival (St. Petersburg, 2014).

Tidak sedikit ulasan yang menyebutkan karya Cilay sebagai musik dunia (world music), sebuah pengkategorian yang dipopulerkan sekitar 1960-an di Amerika Serikat dan Eropa untuk mengklasifikasikan seni-seni musik etnik dari berbagai negara. Kala itu, muncul keraguan dalam menyebut langgam musikal dari Afrika dan wilayah Asia yang melodi serta instrumennya tidak lazim dijumpai atau bahkan belum pernah dikenal orang Barat. Selama puluhan dekade, istilah itu dianggap cukup merangkul ragam musikal dunia tersebut, hingga belakangan muncul juga kesangsian bahwa definisi ini sangat mungkin bias perspektif dan kesejarahan, sebagaimana dilakukan ajang penghargaan Grammy Awards 2020 yang mengganti kategori nominasi Best World Music menjadi Best Global Music.

Apa sebab? Tidak lain pengistilahan world music disinyalir masihlah mencirikan bias perspektif kolonialis, terutama dalam bagaimana orang Barat memandang budaya dunia ketiga. Kita tahu, pertemuan budaya Barat dengan masyarakat terjajah bukan sekali ini terjadi. Salah satu contohnya, yaitu peristiwa kedatangan rombongan gamelan Jawa asal Yogyakarta atas prakarsa komponis Claude Debussy ke sebuah eksposisi internasional di Paris pada 1889—termasuk hadirnya gamelan Bali di ajang serupa pada setahun berikutnya. Hampir semua negara kolonialis membawakan ragam budaya negerinya (termasuk tanah jajahannya) dan menampilkan mereka dalam paviliun-paviliunnya masing-masing. Kehadiran kelompok gamelan Jawa–Bali ini menghebohkan publik Eropa: musik dari Hindia-–Belanda ini dianggap “liyan” namun sekaligus eksotik. 

Kesenian dari Timur pun mendapat perhatian, beberapa meluhurkannya, dan lainnya menganggapnya perlu dilestarikan agar jangan sampai tercemar perubahan-perubahan. Cara pandang itulah yang kelak memunculkan politik kebudayaan museum of living alias museum hidup alias baliseering pada awal 1900-an di Bali. Situasi itu menyiratkan bahwa kaum kolonial seakan sebagai penemu dan pemberi sorot panggung terhadap seni tradisi. Bias pandang kolonialis juga tersirat dari situasi 1960-an perihal “keengganan” publik Barat dalam mengklasifikasikan musik-musik etnik tradisi dunia ketiga dalam definisi yang telah mereka punya. Begitulah, istilah musik dunia bagi beberapa kalangan tidak lagi dinilai merepresentasikan dunia yang benar-benar egaliter, dan dalam terminologi yang tampaknya universal tetap mengandung sekat-sekat persepsi bangsa dan politik kesejarahan yang melanggengkan jarak-jarak kultural.

Bagaimanapun istilah musik dunia ditafsirkan ulang, itu sebatas penamaan definisi saja. Kita tahu kesenian, apalagi kebudayaan dalam konteks mendalam, sesungguhnya adalah entitas yang cair—mereka dapat bergerak, berkembang, dan sangat mungkin dipadupadankan dengan ragam ekspresi yang berlainan. Benar kata Cilay, hanya definisi yang berasal dari persepsi manusialah yang membatasinya. Seni adalah ruang bermain bagi semua orang, yang terus membuka diri dalam ruang-ruang kebudayaan nan dinamis. Musik-musik karyanya mungkin tidak terlalu familiar bagi sebagian kalangan, namun kesadaran Cilay untuk konsisten menghadirkan musik yang “mengganggu” definisi dan selera arus utama kiranya patutlah diapresiasi. 

Kita selalu butuh sosok-sosok seperti Cilay yang gigih menawarkan kemungkinan lain penciptaan; sosok yang jadi membuat kerikil-kerikil kecil, yang menjaga riak kebudayaan tetap mengalir ke muaro, ke samudera dunia yang luas. Selamat menyaksikan penampilan Cilay Ensemble di PKN 2020!

survey