Cak Lontong

Yang Berkelit dalam Lelucon

“Saya Cak Lontong, salam lemper!” Sapaan khas ini selalu lekat dengannya tatkala hendak stand up comedy, nyaris sejak satu dekade silam tatkala wajahnya mulai dikenal publik lewat satu program komedi di televisi. Dengan logat Jawa Timuran, bertutur bahasa Indonesia yang terukur dan tertata, serta berpenampilan serba tegap lugas, Cak Lontong menyajikan humor sarat silogisme dan plesetan, namun tetap bernas—hal yang jarang dieksplorasi tayangan populer kita. Kalau bukan slapstick atau laku membanyol yang kenes, komedi di layar kaca akhir-akhir ini lebih sering diisi hiburan yang bahkan terasa artifisial. 

Cak Lontong, bernama asli Lies Hartono kelahiran Magetan 49 tahun lalu, dulunya anak teknik elektro di Institut Teknik Surabaya alias ITS. Kisaran akhir 1980-an, dirinya sering berkumpul dengan teman-teman sebayanya di kampus, sebelum bersepakat membuat satu grup ludruk yang namanya kedengaran sangat kurang menarik: Ludruk Elektro. Grup ini diisi oleh Dagombes, Agus Lengki, Jackie Rahmansyah, Agus Basman, dan Lies Hartono; kendati belakangan Lies agak kesal dengan sebutannya ini lantaran sering diduga perempuan dan sehingga ia pun mengganti nama panggungnya Cak Lontong, sebagai perumpamaan postur tubuhnya yang tinggi besar mirip lontong. Kelak, Ludruk Elektro dikenal sebagai Ludruk Tjap Toegoe Pahlawan yang moncer di Surabaya era 1990-an. 

Ludruk memang punya tempat di hati orang-orang Jawa Timur. Struktur dramaturgi ludruk tradisi benar-benar lincah, yaitu memadukan unsur narasi, nyanyian tradisi atau jula-juli, termasuk tarian pembuka tunggal yang disebut ngremo. Pun, jangan lupa humornya! Selalu kita terpingkal-pingkal menyaksikan para pemain ludruk bilamana mereka unjuk tampil, yang meskipun berbahasa ala Jawa Timuran ternyata tetaplah dapat dimengerti makna dan ceritanya. Di antara nama seniman ludruk yang perlu diperhitungkan, tentu salah satunya adalah Sukirun alias Cak Kirun yang fenomenal itu. 

Seni pertunjukan tradisi tersebut kian beradaptasi dengan perkembangan zaman, terkhusus sedari berpengaruhnya media massa seperti radio dan televisi. Ludruk muncul di layar kaca, tidak melulu pentas tobong alias berkeliling dari kampung ke kampung. Wajah-wajah pemainnya menghiasi program khusus yang dinanti pemirsa, begitu pula tayangan humor lainnya. Memang, rating tinggi sering nangkring pada siaran dagelan, semisal yang dialami Srimulat, grup lawak asal Solo yang lantas populer di Surabaya, pada 1980-an. Anda tentu masih ingat kalimat sisipan yang secara tak langsung jadi identitas pemainnya, semisal makbedunduk atau makjejagik dari Mamiek Prakoso, hil yang mustahal atau tunjep poin ala Asmuni, maupun gaya dandanan masing-masing serupa dilakukan Tessy maupun Tarzan.

Meskipun serba dagelan, yang tersajikan sebenarnya masih tetap punya substansi. Humor bukan semata-mata hiburan dan dari sanalah terselip makna sindiran di dalamnya. Peran Tarzan yang gemar berpakaian militer, contohnya, menjadi satir terselubung ketika beberapa lakunya malah terkesan agak-agak telmi alias telat mikir, seakan menyiratkan oknum aparat yang hanya siap menerima perintah tanpa dibarengi sikap-sikap yang kritis. 

Begitu juga halnya Cak Lontong. Selalu ada sindiran pada narasi-narasi bawaannya. Simak saja tayangan komedi tunggalnya di laman pkn.id ini, yang secara halus menyindir persoalan ekonomi rumah tangga hingga masalah-masalah gender dalam konstruksi negara, “Saat menikah, kami membuat perjanjian pra-nikah yang isinya saya mengelola uang yang lembarannya bergambar pahlawan nasional laki-laki, sedang istri saya yang gambarnya perempuan. Bersyukurlah pemerintah masih mencetak lembaran uang dengan wajah pahlawan laki-laki lebih banyak dan nominal yang lebih besar.”

Bukan kali ini saja Cak Lontong mengolah tema-tema berat buat dituturkan secara ringan, namun nyelekit. Selama nyaris satu dekade stand up comedy, begitupun tempaan awalnya saat bergabung di Ludruk Tjap Toegoe Pahlawan, dia menghadirkan topik-topik berisi, katakanlah politik, pendidikan, budaya, dan sebagainya. Uniknya, Cak Lontong seperti selalu punya sudut pandang yang segar serta menariknya pada kronik peristiwa sehari-hari yang remeh-temeh. Dia bisa mengajak pendengarnya untuk tertawa, sekaligus tanpa sadar menertawakan diri mereka sendiri. 

Kesegaran ide komedinya hingga leluconnya yang berbobot membikin Cak Lontong banjir tanggapan atau tawaran manggung. Begitupun dia ceritakan dalam satu tayangan pagelaran di pkn.id., “Saya bisa dapat tawaran ke tempat-tempat jauh, pagi di Jakarta, siang di Makassar, malam ke Padang. Sekarang juga manggung saya jauh-jauh, tadinya Maret, sekarang Oktober, besok lagi baru Januari tahun depan,” ujarnya tentu dengan maksud berkelakar. Selama sekitar 30 menit penampilannya di Pekan Kebudayaan Nasional, Cak Lontong tidak sendirian. Kawan dekatnya, Tatok Permadi, mengiringi dengan ukulelenya. Banyolan demi banyolan terlontar dari mereka: Tatok bernyanyi, Cak Lontong menimpali. Lagu-lagu diplesetkan dan menambah kelucuan. 

Barangkali, kehadiran Cak Lontong yang konsisten mewarnai dunia hiburan kita perlu puji. Tidak banyak tersisa komedian sadar dan cerdas menjadikan topik yang kontekstual sebagai bahan leluconnya, sama sekali tidak kacangan untuk sebatas terkesan menyinggung. Hasil olahan guyonnya bagus, sekaligus mengena secara humor dan makna. Meskipun patut diakui bahwa usahanya selalu penuh tantangan, apalagi di tengah fenomena laku sosial yang semakin mudah sekali tersindir, tersulut emosi akibat ungkapan-ungkapan yang sejatinya dipelintir sebagian. Cak Lontong tentu menyadari ini, bukanlah hal yang lucu ketika lelucon kemudian disalahtafsirkan. Dan bagaimana Cak Lontong mencoba berkelit di tengah situasi seperti itu tidaklah mudah. Menyimak komedi Cak Lontong yang serba ngeles membuat kita berpikir, jangan-jangan lelucon yang bagus adalah lelucon yang relevan. 

survey