Budaya Sebagai Bahan Baku Ekonomi Kreatif

Pembicara & Moderator:

Dr. Dina Dellyana., S.Farm., Apt., MBA., CBAP (Dosen dan Direktur Bisnis Inkubator SBM ITB)
Jacob Gatot (MBloc Space)
Florentina Niradewi (Co-founder & CEO Idelaju)

Pertautan Tradisi dan Digital

Keberadaan teknologi digital tidak hanya mengubah cara kita berkomunikasi, mengakses informasi, mencari pengetahuan, atau bertransaksi, namun turut serta membentuk perilaku sosial kita. Dalam dunia ekonomi, Rhenald Kasali menyebutnya disruption untuk gambaran fenomena pergeseran perilaku konsumen era digital. Ketika seluruh kebutuhan konsumsi saat ini tersedia dalam gawai, dengan sekali scrolling dan click kita bisa memperoleh apa yang kita butuh. Atau kita juga sering menemui istilah budaya digital (digital culture) untuk menggambarkan bagaimana relasi manusia hari ini dengan teknologi digital, ketika media sosial dan berbagai platform digital lain telah menjadi alam kedua kita. 

Namun, apakah keberadaan teknologi digital serta merta mengubah hal-hal paling mendasar dalam kebudayaan kita? Sepertinya tidak, alih-alih mentransformasinya ke dalam format-format yang baru, berganti rupa, warna, dan tekstur. Begitulah yang kita bisa serap tatkala mendengar pemaparan Jacob Gatot dan Dina Dellyana yang dimoderatori Florentina Niradewi pada sesi konferensi bertajuk “Budaya sebagai Bahan Baku Ekonomi Kreatif” dalam Pekan Kebudayaan Nasional (PKN) 2020. Dari pemaparan tiga orang yang bergiat dalam industri kreatif Indonesia ini, kita mencerap pemahaman tentang bentuk dan model transformasi budaya tradisional ke dalam bentuk-bentuk baru pada era digital.

Selaku arsitektur dan perancang ruang kreatif, Jacob Gatot mengamati perubahan tersebut dari perspektif keruangan, serta upayanya memindahkan ruang lama ke ruang baru kendati dengan spirit yang masih sama. Guyub, menurut Jacob, merupakan karakteristik masyarakat kita yang tidak hilang meskipun di era digital sekalipun. Masyarakat kota atau desa, masing-masing punya caranya sendiri untuk tetap bisa bertemu fisik satu sama lain, berkumpul, berbagi cerita, sampai bertukar gagasan. Hanya saja format, nilai, dan norma-norma yang berlaku dalam masing-masing ruang pertemuan tersebut yang membedakan.

Jika di desa, ruang pertemuan tersebut berlangsung di balai desa, pasar, dapur umum, gelanggang remaja, atau sanggar. Hal yang mempersatukan semua orang di dalam ruang tersebut adalah hubungan kekeluargaan, tetangga, atau daerah tempat tinggal, maka di kota, ruang pertemuan menjelma co-working space, creative space, maker space, dan berbagai format lainnya. Dan yang mempersatukan orang-orang di ruang urban merupakan kesamaan pekerjaan, hobi, dan kesukaan. Namun, kedua jenis ruang tersebut sama-sama mengakomodir keguyuban masyarakat kita. Masing-masing ruang, baik di desa maupun di kota, juga sama-sama punya karakteristik inkubator, digunakan untuk bertransaksi, atau sebagai medium pameran dan pertunjukan.

Berbagai ruang pertemuan kreatif urban atau biasa diklasifikasikan sebagai creative hub memiliki keunikannya tersendiri di setiap tempat, tergantung geografi dan tipologi masyarakatnya. Daerah yang kaya dengan hasil perkebunan atau daerah yang punya banyak pelaku industri fesyen, masing-masing akan mempengaruhi model dan karakteristik creative hubnya. Hal itulah yang memungkinkan creative hub dapat mengakomodir kebudayaan-kebudayaan lampau dan mendesainnya ulang dengan semangat kontemporer.

Dalam sepuluh tahun terakhir, sebagaimana dalam data yang dipresentasikan Jacob, jumlah creative hub di Indonesia meningkat tajam. Terhitung pada 2017, ada lebih kurang 132 creative hub yang tersebar di berbagai daerah. Lebih lanjut, menurut Jacob, dalam dua tahun belakangan jumlah tersebut bertambah semakin cepat. Peningkatan tersebut unik karena justru ketika teknologi digital sedang berkembang juga dengan sangat pesat. Artinya, stereotype teknologi digital membuat orang-orang kian individual dan kehilangan karakter solidaritasnya hanyalah mitos belaka. Bahkan kasus uniknya, Bali merupakan daerah pertama di Indonesia yang memiliki creative hub. Salah satu faktornya karena Bali memiliki pekerja digital nomad paling tinggi di Indonesia.

Meskipun terkonsentrasi di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Surabaya, bukan berarti creative hub hanya bisa didirikan di kota. Jacob mencontohkah inisiasi Singgih Kartono dalam mengelola Pasar Papringan di desa Ngadipiro, Temanggung. Daerah yang sebelumnya banyak ditinggalkan pemuda-pemudinya pergi merantau ke kota karena tidak ada yang bisa mereka lakukan di sana, kemudian menjadi tempat kreatif yang memproduksi banyak kerajinan tangan dari bambu. Ide untuk mendirikan Pasar Papringan sesederhana, yaitu dengan mengalihfungsikan sumber daya di sana berupa hutan bambu yang sebelumnya hanya digunakan sebagai tempat pembuangan sampah.

Terkait potensi memberdayakan berbagai khazanah tradisi lokal ke dalam produk-produk industri kreatif, juga dipaparkan oleh Dina Dellyana. Sebagai akademisi sekaligus direktur The Greater Hub di ITB, ia melihat fenomena anak muda sekarang ini tetap bisa berinovasi dalam produk-produk baru yang berbasis digital sekalipun, sekaligus di lain sisi tetap meraciknya dengan berbagai kebudayaan tradisional Indonesia. Ada banyak games sekarang, kata Dina, yang diambil dari cerita atau karakter wayang yang adiluhung sampai cerita atau karakter hantu yang beredar dalam mitos masyarakat. Artinya, menampilkan identitas keindonesiaan masihlah penting, selain untuk mengembangkan warisan leluhur kita, sekaligus untuk bersaing dengan industri global.

Lebih lanjut Dina Dellyana memaparkan, perkembangan teknologi digital dalam lima tahun belakangan sangat berpengaruh terhadap tumbuh-kembangangnya industri kreatif di Indonesia. Selain mempermudah kerja produksi, teknologi digital juga membantu keluasan capaian promosi. Jika sebelumnya para pegiat musik mesti menyewa studio untuk merekam karya, saat ini mereka bisa melakukannya dengan berbagai aplikasi. Kini, siapapun punya kesempatan untuk mempublikasikan diri dan produk kreatif mereka. Tiba-tiba, seseorang dengan talenta yang luar biasa dapat muncul dari daerah mana pun. Dengan kata lain, selain mengasah kreativitas, kemampuan untuk branding dan promosi juga menjadi kunci dalam industri kreatif dewasa ini. 

Dari diskusi dengan tiga pelaku industri kreatif tersebut, kita bisa memahami bahwa antara budaya dan industri, tradisional dengan digital, bukanlah entitas yang terpisah satu sama lain dan saling meniadakan. Melalui industri kreatif, semua elemen yang tercakup di dalamnya saling mengisi dan memberi dampak produktif, tidak sebatas kepada revitalisasi kebudayaan masa lampau, tetapi juga untuk kebutuhan hidup hari ini. Seperti yang Jacob Gatot nyatakan, yakni manusia dengan segala kreativitasnya, selalu berusaha menuju titik keseimbangan.

survey